Homili Paus Fransiskus pada Misa Penutupan Kongres Ekaristi Sedunia Ke-52

Homili Bapa Suci Paus Fransiskus

pada Misa Penutupan Kongres Ekaristi Sedunia Ke-52

Budapest, Hungaria – 12 September 2021

“Tiga Langkah Pembaruan Sebagai Murid Yesus”

Di Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, ”Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Mrk 8:29). Bagi para murid, pertanyaan ini terbukti menentukan; pertanyaan ini menandai titik balik dalam perjalanan mereka bersama Sang Guru. Mereka mengenal Yesus; mereka bukan lagi pemula. Mereka dekat dengan-Nya; mereka telah melihat banyak mukjizat-Nya, tersentuh oleh ajaran-Nya, dan mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi. Namun, mereka belum siap untuk berpikir seperti Dia. Mereka harus mengambil langkah tegas itu, dari mengagumi Yesus menjadi meneladan Yesus. Hari ini juga, Tuhan memandang kita masing-masing secara pribadi dan bertanya : “Menurut kamu, – sesungguhnya – siapakah Aku ini?” Menurut kamu, siapakah Aku ini? Pertanyaan ini, yang ditujukan kepada kita masing-masing, membutuhkan lebih dari sekadar jawaban cepat langsung dari katekismus; pertanyaan ini membutuhkan tanggapan hayati dan pribadi.
Tanggapan tersebut memperbaharui kita sebagai murid. Pembaharuan tersebut terjadi dalam tiga langkah, langkah-langkah yang diambil oleh para murid dan yang juga dapat kita ambil. Pembaharuan tersebut mencakup mewartakan Yesus, melakukan pembedaan bersama Yesus, berjalan di belakang Yesus.
1. Mewartakan Yesus. Tuhan bertanya : “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Petrus, berbicara mewakili murid-murid lainnya, menjawab: “Engkau adalah Mesias”. Petrus mengatakan seluruhnya dalam beberapa kata ini; jawabannya benar, tetapi kemudian, secara mengejutkan, Yesus “melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia” (ayat 30). Mengapa sebuah larangan yang begitu radikal? Ada alasan yang sangat bagus : menyebut Yesus Kristus, Mesias, adalah benar, tetapi tidak lengkap. Selalu ada risiko mewartakan mesianisme palsu, yang berasal dari manusia, bukan dari Allah. Akibatnya, sejak saat itu, Yesus secara bertahap mengungkapkan jatidiri-Nya yang sesungguhnya, jatidiri “paskah” yang kita temukan dalam Ekaristi. Ia menjelaskan bahwa perutusan-Nya akan mencapai puncaknya dalam kemuliaan kebangkitan, tetapi hanya setelah kehinaan salib. Dengan kata lain, perutusan-Nya akan diungkapkan sesuai dengan hikmat Allah, yang, seperti dikatakan Santo Paulus kepada kita, “hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini” (1Kor 2:6). Yesus menuntut keheningan berkenaan dengan jatidiri-Nya sebagai Mesias, tetapi bukan berkenaan dengan salib yang menanti-Nya. Bahkan – penginjil mencatat – Yesus kemudian mulai mengajar “dengan terus terang” (Mrk 8:32) bahwa “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (ayat 31).
Berhadapan dengan kata-kata Yesus yang mengecilkan hati ini, kita juga bisa kecewa, terkejut. Kita juga lebih memilih Mesias yang berkuasa daripada hamba yang disalibkan. Ekaristi di sini untuk mengingatkan kita siapa Allah itu. Bukan hanya dilakukan dengan kata-kata, tetapi secara nyata, Ekaristi menunjukkan kepada kita Allah sebagai roti yang dipecah-pecahkan, sebagai kasih yang disalibkan dan dianugerahkan. Kita dapat menambahkan unsur ritual, tetapi Allah senantiasa ada dalam kesederhanaan Roti yang siap untuk dipecah-pecahkan, dibagi-bagikan dan disantap. Demi menyelamatkan kita, Kristus menjadi seorang hamba; demi memberi kita kehidupan, Ia menerima kematian. Kita justru membiarkan diri kita tercengang oleh kata-kata Yesus yang mengecilkan hati itu. Dan hal ini membawa kita ke langkah kedua.
2. Melakukan pembedaan bersama Yesus. Reaksi Petrus terhadap pemberitahuan Tuhan berciri khas manusiawi : segera setelah salib, kemungkinan penderitaan muncul, kita memberontak. Setelah baru saja mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Petrus terguncang oleh kata-kata Sang Guru dan berusaha menghalangi-Nya untuk mengikuti jalan tersebut. Hari ini, seperti di masa lalu, salib tidak mengikuti mode atau tidak menarik. Namun salib menyembuhkan batin kita. Berdiri di hadapan Tuhan yang tersalib, kita mengalami pergumulan batin yang berbuah, perseteruan pahit antara “berpikir seperti Allah” dan “berpikir seperti manusia”. Di satu sisi, kita memiliki cara berpikir Allah, yaitu kasih yang rendah hati. Cara berpikir yang menghindari pemaksaan, pamer dan kemenangan, dan selalu bertujuan untuk kebaikan orang lain, bahkan sampai pada pengorbanan diri. Di sisi lain, kita memiliki cara berpikir manusia : ini adalah hikmat dunia, melekat pada kehormatan dan pengistimewaan, serta menggenggam prestise dan kesuksesan. Di sini hal-hal yang diperhitungkan adalah kepentingan diri dan kekuasaan, apa yang paling menarik perhatian dan kehormatan di mata orang lain.
Dibutakan oleh cara berpikir tersebut, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia (bdk. ayat 32). Kita juga dapat “mengesampingkan” Tuhan, mendorong-Nya ke sudut hati kita dan terus menganggap diri kita sebagai orang yang religius dan terhormat, menempuh jalan kita sendiri tanpa memperkenankan diri kita dipengaruhi oleh cara berpikir Yesus. Namun Ia selalu berada di pihak kita dalam perjuangan batin ini, karena Ia ingin kita, seperti para Rasul, memihak-Nya. Ada sisi Allah dan sisi dunia. Perbedaannya bukanlah antara yang religius atau tidak, tetapi pada akhirnya antara Allah yang benar dan allah “diri”. Betapa jauhnya Allah yang diam-diam memerintah di kayu salib dari allah palsu yang kita inginkan berkuasa memerintah untuk membungkam musuh kita! Betapa berbedanya Kristus, yang menghadirkan diri-Nya semata dengan kasih, dari semua mesias yang berkuasa dan menang yang disembah oleh dunia! Yesus meresahkan kita; Ia tidak puas dengan pernyataan iman, tetapi meminta kita untuk menyucikan keagamaan kita di hadapan salib-Nya, di hadapan Ekaristi. Sebaiknya kita menghabiskan waktu dalam adorasi di hadapan Ekaristi untuk merenungkan kelemahan Allah. Marilah kita meluangkan waktu untuk beradorasi. Marilah kita memperkenankan Yesus Sang Roti Hidup menyembuhkan kita dari keegoisan, membuka hati kita guna memberikan diri, membebaskan kita dari kekakuan dan perhatian diri, membebaskan kita dari perbudakan yang melumpuhkan dalam mempertahankan citra kita, dan mengilhami kita untuk mengikuti Dia ke mana pun Dia akan memimpin kita. Jadi, kita sampai pada langkah ketiga.
3. Berjalan di belakang Yesus. “”Enyahlah Iblis” (ayat 33). Dengan perintah tegas ini, Yesus membawa Petrus kembali kepada dirinya sendiri. Setiap kali Tuhan memerintahkan sesuatu, Ia sudah ada di sana untuk memberikannya. Dengan demikian Petrus menerima rahmat untuk melangkah mundur dan sekali lagi berada di belakang Yesus. Perjalanan Kristiani bukanlah perlombaan menuju “kesuksesan”; perjalanan Kristiani dimulai dengan melangkah mundur, menemukan kebebasan dengan tidak perlu menjadi pusat segala-galanya. Petrus menyadari bahwa pusatnya bukanlah Yesus-nya, tetapi Yesus yang sesungguhnya. Ia akan terus jatuh, tetapi dengan beralih dari pengampunan menuju pengampunan, ia akan datang untuk melihat lebih jelas wajah Allah. Dan ia akan beralih dari kekaguman kosong terhadap Kristus menjadi meneladan Kristus secara otentik.
Apa artinya berada di belakang Yesus? Berada di belakang Yesus adalah berkembang melalui hidup dengan mempercayai Yesus, mengetahui bahwa kita adalah anak-anak Allah yang terkasih. Berada di belakang Yesus adalah mengikuti jejak Sang Guru yang datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani (bdk. Mrk 10:45). Berada di belakang Yesus adalah setiap hari melangkah keluar untuk bertemu dengan saudara dan saudari kita. Ekaristi mendorong kita menuju perjumpaan ini, menuju kesadaran bahwa kita adalah satu Tubuh, menuju kesediaan untuk memperkenankan diri kita dipecah-pecahkan untuk orang lain. Saudara dan saudari terkasih, marilah kita memperkenankan perjumpaan kita dengan Yesus dalam Ekaristi mengubah kita, seperti halnya mengubah para kudus yang agung dan berani yang kamu hormati. Saya secara khusus memikirkan Santo Stefanus dan Santa Elisabet. Seperti mereka, semoga kita tidak pernah puas dengan sedikit; semoga kita tidak pernah menyerah pada iman yang berlandaskan ritual dan pengulangan, tetapi menjadi semakin terbuka terhadap skandal baru Allah yang disalibkan dan bangkit, Roti yang dipecah-pecahkan untuk memberi kehidupan kepada dunia. Dengan cara ini, kita akan bersukacita diri dan membawa sukacita kepada orang lain.
Kongres Ekaristi Sedunia ini menandai akhir dari satu perjalanan, tetapi yang lebih penting, awal dari perjalanan lainnya. Karena berjalan di belakang Yesus berarti selalu melihat ke depan, menyambut kairos rahmat, dan setiap hari ditantang oleh pertanyaan Tuhan kepada kita, para murid-Nya : Menurutmu, siapakah Aku ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s