Melayani ALLAH atau Diri Sendiri?

Renungan Harian Misioner
Minggu, 19 September 2021
HARI MINGGU BIASA XXV B

Keb. 2:12,17-20; Mzm. 54:3-4,5,6,8; Yak. 3:16 – 4:3; Mrk. 9:30-37

Setelah hasil test-tengah semester yang mengecewakan, “kursus intensif” tentang Salib pun dimulai. Pelajaran ini berlangsung sambil berjalan ke Yerusalem, tempat sengsara dan kebangkitan. Para murid belajar tentang “jalan Salib Tuhan” sambil jalan bersama-Nya ke tujuan. Sekali lagi Yesus meringkas inti pelajaran-Nya itu: di Yerusalem, Anak Manusia harus menderita dan dibunuh manusia, tetapi akan dimuliakan Allah dalam kebangkitan-Nya (ay. 31; bdk. Mrk. 8:31). Apakah para murid-Nya sudah mulai sedikit memahami? Sama-sekali tidak!

Pertama, mereka tidak mengerti perkataan Yesus, tetapi tidak berani bertanya kepada-Nya (ay. 32). Ini contoh murid yang apatis, yang tidak ingin belajar. Tetapi lebih dari itu, mereka ini tipe murid yang terpenjara dalam pandangannya sendiri. Mereka sudah punya konsep baku tentang Mesias sebagai raja yang jaya, yang menang dan mengusir penjajah, lalu membentuk negara yang merdeka. Tentu saja mereka berharap menjadi staf pemerintahan dan eselon atas. Maka, apapapun yang dikatakan sang Guru, cukup didengarkan, tanpa perlu diamini atau diyakini apalagi dijalani! Mereka juga takut dibentak dan dimarahi, seperti yang dialami Petrus, si ketua-kelas sebelumnya! Makanya mereka memilih diam. Diam yang bukan emas!

Kedua, mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (ay. 34). Ironi yang tajam. Berjalan bersama Yesus ke Yerusalem, mendengar pengajaran-Nya tentang salib dan kebangkitan, para murid justru bertengkar tentang rangking dan jabatan. Di “jalan Salib” mereka justru sibuk diskusi tentang jatah kursi dan posisi. Menjadi tuan, disapa “yang mulia dan terhormat” adalah dambaan manusia sepanjang masa. Tentu sering tidak tampak dan tak terucap. Secara diam-diam, ambisi akan posisi dan ‘menjadi penting’ itu tertanam dalam diri kita. Kalau ditanya, kita -seperti para murid- akan diam saja, malu-malu mengakuinya. Tetapi dalam kenyataan, ambisi itu mewarnai semua tingkah laku kita, bahkan juga di balik semua kegiatan yang berlabel mulia, seperti: pelayanan, pewartaan, dll.

Ketiga, berhadapan dengan “pandemi ambisi” seperti itu, Yesus pun menegaskan pelayanan. Inti pertanyaan Yesus tetap abadi: Saya dan Anda melayani siapa? Kita melayani ambisi sendiri atau melayani Allah dan misi-Nya? Yesus menawarkan (“hendaklah…” ay. 35) cara-pandang baru dan radikal, yang berbeda dari konteks zaman-Nya (dunia Yunani-Romawi dan Yahudi) yang amat mengagungkan posisi dan memamerkan rangking. Para murid dan jemaat-Nya harus tampil beda: carilah tempat yang terakhir, berlombalah untuk menjadi pelayan! Tentu ini tidak mudah! Maka, Yesus menguatkan ajaran-Nya dengan sebuah gambaran: Ia menempatkan seorang anak di tengah-tengah. Bisa jadi ia anak remaja yang menjadi pelayan & pembantu di rumah itu. Dari segi usia: ia tak punya kuasa dan tak diperhitungkan. Dari segi pekerjaan: ia hanya melayani para tuannya dalam rumah. Maka, Yesus memeluknya. Mengapa? Karena anak itu persis memerankan apa yang menjadi inti karya Yesus: melayani manusia. Anak itu juga kiranya menjadi model murid sejati: hanya melayani, sambil mematikan ambisi akan kursi dan posisi!

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gaya hidup yang ramah lingkungan: Kita berdoa agar kita semua bisa membuat keputusan yang berani untuk gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, bersukacita bersama orang muda kita yang dengan tegas berkomitmen dengan hal ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Mereka yang tertekan masalah ekonomi: Semoga mereka yang tertekan oleh masalah ekonomi bisa menemukan usaha-usaha baru yang bisa menjadi sumber nafkahnya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mengarahkan sejarah hidup kami seperti sejarah hidup Santo Yoseph, yang Kau bimbing menyatu dengan para Leluhurnya, sebagaimana nampak dalam Alkitab. Kami mohon…

Amin

One thought on “Melayani ALLAH atau Diri Sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s