Misi: Menjadi Pribadi yang Rendah Hati

Hari ke-1 Jumat Pertama
Jumat, 1 Oktober 2021
Pesta : S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Pelindung Karya Misi

Bacaan : Yes. 66:10-14c
Injil : Mat. 18:1-5

Misi: Menjadi Pribadi yang Rendah Hati

“Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”
(Mat. 18:4)

Surat Apostolik Patris Corde: Kita tahu bahwa Yusuf adalah tukang kayu yang rendah hati (bdk. Mat. 13:55). Santo Yusuf adalah laki-laki yang tidak diperhatikan, laki-laki dalam kehadiran sehari-hari, bijak dan tersembunyi.

Kita jarang menemukan anak kecil yang sombong. Biasanya arogansi atau kesombongan kerap kita temukan pada orang dewasa. Kesombongan datang ketika diri merasa lebih hebat dan lebih pintar dari orang lain. Rasa berlebihan ini biasanya muncul sepaket dengan gerakan mengangkat dagu dan tindakan merendahkan, mengecilkan, bahkan meniadakan keberadaan orang lain. Saat arogansi meraja, ego yang berbicara, ke-aku-an yang tampil. Hanya ada aku, orang lain tidaklah penting dan sering menjadi tidak terlihat.

Mengapa seorang manusia dewasa bisa menjadi arogan? Banyak faktor penyebabnya. Bisa jadi karena ia telah belajar banyak ilmu dan punya banyak pengalaman, atau memiliki jabatan serta pekerjaan penting. Atau mungkin karena bibitnya bagus, berdarah biru, keturunan bangsawan, cedekiawan atau berasal dari keluarga kaya raya. Bisa juga karena sedari kecil ia selalu dipuja orang tuanya, dimanjakan, menjadi kesayangan yang paling hebat. Tapi bisa juga yang terjadi sebaliknya, karena ia tak mendapatkan perhatian, sering di-bully, dilupakan, sehingga ia selalu haus akan perhatian dan pengakuan sekitar, sehingga ketika akhirnya ia sukses, ia menjadi pribadi yang suka pamer dan menyombongkan diri.

Jika sebagai manusia kita berpikir bahwa pengetahuan, pengalaman, umur dan prestasi dapat menjadi takaran akan kematangan, keberhasilan dan kehebatan, bagi Tuhan tidaklah demikian. Tuhan mengambil anak kecil menjadi tokoh panutan, role model, yang perlu diteladani pribadi, sikap dan perilakunya untuk dapat masuk surga. Dan poin utama yang ditekankan Yesus: merendahkan diri, bukannya menyombongkan diri!

Jadi tiket masuk surga bukanlah prestasi, kehebatan atau popularitas seseorang. Jaminan masuk surga salah satunya adalah adanya keutamaan: “kerendahan hati”. Sulitnya kita tak bisa mengecilkan diri, menyusutkan usia atau memundurkan waktu agar kita bisa kembali menjadi anak kecil. Lalu, bagaimana kita tetap bisa memiliki kerendahan hati dengan segala muatan yang telah kita miliki saat ini: pengetahuan, pengalaman, pencapaian?

Mari bercermin pada Santo Yusuf, sosok yang selalu membisu dalam kata, namun tak pernah senyap dalam aksi. Yusuf adalah lelaki sederhana, tukang kayu yang tidak menonjol dan kurang terlihat hebat dalam kisah-kisah di Kitab Suci. Namun coba perhatikan baik-baik peran Yusuf. Ia adalah lelaki yang dipilih Allah untuk menjaga sang Penebus dan Bunda-Nya.

Dalam menjalankan misi yang diembannya, Yusuf tak berfokus pada kata dan teori. Sebaliknya dengan ketaatan penuh, ia selalu bergerak dengan gesit, tanpa ragu. Ia mengambil Maria sebagai isteri karena perintah Allah. Ia bahkan tak membuka mulut protes soal kehamilan Maria, atau meragukan rencana Allah. Yang ia tahu dan fokuskan hanyalah bagaimana menjalankan perintah Allah untuk menjaga, merawat dan melindungi isteri dan Anak yang dititipkan Allah kepadanya, sampai nanti tiba waktunya bagi Anaknya untuk beraksi!

Dalam pandangan manusia biasa mungkin sosok Santo Yusuf kurang menarik. Ia jauh dari sorotan, tidak memukau massa, dan tidak suka menebar pesona. Namun bagi Allah, kriteria seperti itulah yang pantas diberi peran penting, menjadi bapak dan penjaga Sang Penebus.

Yusuf adalah cerminan ketaatan, kerendahan hati, totalitas tanggung jawab dan misionaris yang berhasil! Ia menjalankan dan memenuhi tugas panggilannya secara sempurna, tanpa jatuh dalam kesombongan diri atau tuntutan akan pengakuan sekitar. Ia memiliki kebijaksanaan seorang manusia dewasa dan sekaligus kerendahan hati seorang anak kecil. Ia sosok besar yang tampil kecil. Teladan para pelayan Tuhan yang sejati.

Misi: Sebagai anak-anak Allah kita diundang untuk menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati, agar dapat memberikan kesaksian secara nyata. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Rasul-rasul misionaris: Kita berdoa agar setiap orang yang dibaptis terlibat dalam pewartaan Injil, menyediakan diri untuk menjalankan misi, dengan siap menjadi saksi yang menghidupi semangat Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Air bersih: Semoga kita semua makin bijaksana dalam menggunakan air bersih. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berilah kami keterbukaan hati, seperti Santo Yoseph, sehingga mengasihi Bunda Maria dan Sang Putera demi terlaksananya “missio”/pengutusan memulihkan cintakasih manusia menjawab belaskasih Bapa. Kami mohon…

Amin

DOA ROSARIO MISIONER

PERISTIWA SEDIH

  1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut
    “Ya, Bapa, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah menurut kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.” (Mat. 26:39)

Intensi doa untuk Benua Asia (butiran manik warna kuning)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi diri kami, umat-Mu di Benua Asia, yang mengalami berbagai permasalahan dalam situasi pandemi saat ini. Banyak yang jatuh dalam kesedihan, putus asa, dan tak mampu menghadapi kehilangan baik kehilangan mata pencaharian, materi maupun orang yang dikasihi. Seperti halnya Yesus mau berpasrah dan berdoa pada-Mu dalam sakratul maut, berikanlah rahmat iman dan penyerahan diri pada setiap orang di benua kami. Mampukanlah kami menyadari bahwa di masa-masa pencobaan seperti ini, kami harus ingat untuk berserah pada-Mu dan tetap tekun dalam doa, agar pengharapan dan iman kami tetap teguh dan terjaga. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus didera
    “Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia, mereka menanggalkan jubah ungu yang dipakai-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya.” (Mrk. 15:19-20a)

Intensi doa untuk Benua Australia & Oceania (butiran manik warna biru)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Oceania-Australia. Semoga mereka yang mengalami penganiayaan karena iman kepada-Mu, Engkau beri kekuatan dan penghiburan. Dalam masa penderitaan-Nya, ketika Yesus didera, diolok, diludahi, dipukul, bahkan ditelanjangi, Ia diam, tak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena besarnya kasih yang Ia miliki di dalam diri-Nya. Semoga teladan ini dapat diikuti oleh setiap orang yang mengalami penderitaan dan ketidakadilan dari sesama mereka. Dan semoga setiap manusia Engkau rahmati dengan hati yang penuh belas kasih, sehingga dapat memperlakukan sesama dengan kasih, penghormatan dan keadilan. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus dimahkotai duri
    “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya katanya, “Salam, hai raja orang Yahudi!” (Mrk. 15:17-18)

Intensi doa untuk Benua Eropa (butiran manik warna putih)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Eropa. Seringkali penderitaan dan peristiwa-peristiwa traumatis menjadi halangan iman bagi manusia untuk dapat tetap percaya bahwa Engkau selalu ada menyertai diri dan hidup mereka. Yesus, Anak-Mu, juga tak lepas dari penderitaan yang diakibatkan oleh manusia, meskipun Ia memiliki status sebagai Anak Raja. Belajar dari-Nya semoga umat di Benua Eropa juga Engkau mampukan bertahan melewati penderitaan hidup dan peristiwa-peristiwa traumatis yang mungkin harus mereka alami, sambil tetap teguh beriman, percaya bahwa tak sekali pun Engkau akan meninggalkan umat-Mu sendirian. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Golgota
    “Sambil memikul salib-Nya, Ia pergi keluar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota.” (Yoh. 19:16b)

Intensi doa untuk Benua Amerika (butiran manik warna merah)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Amerika. Semoga mereka mampu untuk setia memanggul salib kehidupan di tengah arus dunia ini. Salib seringkali ditolak dan dihindari. Kami manusia cenderung hanya menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keabadian, bukan penderitaan, kesulitan dan kematian. Yesus sendiri memanggul salib-Nya dengan taat dan setia karena Ia percaya dan menerima semua kehendak-Mu. Semoga umat di Benua Amerika yang mengimani Kristus juga siap menghadapi salib, penderitaan dan kematian. Menerima salib sebagai bagian yang tak terpisahkan dari jatidiri sebagai umat Kristiani. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus wafat di salib
    “Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Luk. 23:46)

Intensi doa untuk Benua Afrika (butiran manik warna hijau)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Afrika. Akhir-akhir ini banyak kematian terjadi diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Kematian seringkali dilihat bukan hanya sekadar sebagai kehilangan namun juga sebagai peristiwa buruk. Manusia kerap memeluk kehidupan dan segala isinya dengan terlalu kuat, sehingga menjadi gagap ketika tiba waktunya untuk melepaskan dan mengembalikannya kepada-Mu, Sang Pemilik Kehidupan. Semoga Engkau memampukan umat-Mu di Benua Afrika terutama mereka yang mengalami kematian orang terdekat, agar mampu menerima kematian dan mengingat bahwa kehidupan kekal yang Engkau janjikan bukan lah di dunia ini, melainkan di surga nanti. Karena kami percaya dengan kematian hidup bukan dilenyapkan namun hanya diubah. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s