Misi: Berani Melihat dan Memilih Kebenaran

Hari ke-22
Jumat, 22 Oktober 2021
Peringatan : S. Yohanes Paulus II

Bacaan : Rm. 7:18-25a
Injil : Luk. 12:54-59

Misi: Berani Melihat dan Memilih Kebenaran

“Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”
(Luk. 12:57)

Surat Apostolik Patris Corde: Iman yang diajarkan Kristus kepada kita adalah iman yang kita lihat pada diri Santo Yusuf, yang tidak mencari jalan pintas, tetapi menghadapi dengan “mata terbuka” apa yang sedang terjadi padanya, dengan bertanggung jawab atas hal itu secara pribadi.

Memilih dan memutuskan sendiri apa yang benar, bukanlah perkara mudah. Apalagi ketika seseorang berdiri sendiri di pihak yang berseberangan dengan orang atau kelompok lain, tanpa kawan, tanpa pendukung. Butuh keberanian yang besar dan juga keyakinan yang kuat untuk bisa memilih kebenaran, tidak terpengaruh pada pendapat, tekanan dan mungkin relasi terhadap orang lain. Di titik itulah seseorang ditantang untuk mengambil risiko, menghadapi segala konsekuensi dari pilihan dan keputusannya. Atau sebaliknya, seseorang bisa tidak memiliki nyali menatap wajah kebenaran, malah melarikan diri mencari keamanan dengan bergabung pada kelompok atau pihak yang lebih dominan dan kuat, meskipun sebenarnya jauh di lubuk hati ia tahu bahwa ia telah mengkhianati kebenaran itu.

Kebenaran itu kadang tidak terlihat, terutama bagi mereka yang tidak peka dan tidak memiliki nurani yang jernih. Sering kali kebenaran juga tertutup, disembunyikan dengan kepalsuan, kemunafikan dan tipu-daya. Kebenaran juga dapat diputarbalikkan, diplintir, dipoles sehingga menampakkan wajah palsu bak make-up tebal untuk memukau, dan menutupi wajah sesungguhnya yang ada di bawah polesan.

Mari belajar dari Santo Yusuf, seorang pribadi jujur, lurus dan hidup dalam kebenaran. Kekuatan Yusuf pertama-tama adalah “takut pada Allah”. Rasa takutnya pada Allah membuatnya taat mengikuti kehendak Allah. Ia mengesampingkan semua pertimbangan manusiawi, termasuk kekhawatiran pada reaksi publik, bahkan ketika tampaknya apa yang dipilih dan diputuskannya itu “bodoh” dan “keliru” di mata orang-orang.

Yusuf memiliki mata yang terbuka lebar akan kebenaran yang sesungguhnya. Ketika ia menyadari bahwa ia telah dipilih Allah untuk menjalani misi khusus, kesadaran itulah yang membawanya mampu melihat realitas kehidupannya dan kemudian mengambil tindakan yang benar. Bagi laki-laki lain mungkin Maria bukanlah seorang perempuan tepat untuk dijadikan istri, apalagi dalam keadaan berbadan dua sebelum menikah. Dan mungkin bagi laki-laki lain, walaupun malaikat datang menjelaskan perihal kehamilan Maria, tetap saja kondisi itu akan membuat mereka malu, takut mencemarkan nama baik dan status keluarga mereka di publik. Namun bagi Yusuf, bukan dirinya lah yang pantas menilai Maria, dan juga bukan dirinya yang harus mengkhawatirkan situasi hidupnya nanti. Hanya Allah yang mampu, hanya Allah yang berhak.

Kepercayaannya pada Allah membuatnya dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya, yang tidak mampu dilihat orang lain. Ia melihat Maria sama seperti dirinya, sebagai utusan Allah, yang mengemban misi untuk menghantar Sang Anak ke dunia. Maria adalah teman seperjuangan, partner bermisi, bukan sekadar perempuan yang harus dinikahinya. Mampu melihat kebenaran membuat Yusuf mampu menentukan apa yang harus dilakukannya di dalam hidupnya. Ia tampil tanpa ragu sedikit pun sebagai lelaki, suami, bapak yang bertanggung jawab. Ia tidak mencari jalan pintas untuk segala masalah dan kesulitan yang datang dalam hidupnya. Ia juga tidak lari. Sebaliknya dengan percaya penuh pada penyertaan Allah, ia dengan berani terus melangkah maju, menyambut dan menjalani hidup yang telah dirancang Allah itu dengan segala risiko yang harus ditanggungnya. Keberanian seperti inilah yang harus kita miliki sebagai para misionaris, utusan Allah. Menjalani hidup kita sehari-hari dengan mata terbuka lebar, berani melihat kebenaran dan berani memutuskan apa yang benar sesuai dengan ajaran dan kehendak Allah.

Misi: Belajar dari Santo Yusuf yang berani membuka mata pada realitas hidup dan bertindak benar.  (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Rasul-rasul misionaris: Kita berdoa agar setiap orang yang dibaptis terlibat dalam pewartaan Injil, menyediakan diri untuk menjalankan misi, dengan siap menjadi saksi yang menghidupi semangat Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Air bersih: Semoga kita semua makin bijaksana dalam menggunakan air bersih. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berilah kami keterbukaan hati, seperti Santo Yoseph, sehingga mengasihi Bunda Maria dan Sang Putera demi terlaksananya “missio”/pengutusan memulihkan cintakasih manusia menjawab belaskasih Bapa. Kami mohon…

Amin

DOA ROSARIO MISIONER

PERISTIWA SEDIH

  1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut
    “Ya, Bapa, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah menurut kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.” (Mat. 26:39)

Intensi doa untuk Benua Asia (butiran manik warna kuning)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi diri kami, umat-Mu di Benua Asia, yang mengalami berbagai permasalahan dalam situasi pandemi saat ini. Banyak yang jatuh dalam kesedihan, putus asa, dan tak mampu menghadapi kehilangan baik kehilangan mata pencaharian, materi maupun orang yang dikasihi. Seperti halnya Yesus mau berpasrah dan berdoa pada-Mu dalam sakratul maut, berikanlah rahmat iman dan penyerahan diri pada setiap orang di benua kami. Mampukanlah kami menyadari bahwa di masa-masa pencobaan seperti ini, kami harus ingat untuk berserah pada-Mu dan tetap tekun dalam doa, agar pengharapan dan iman kami tetap teguh dan terjaga. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus didera
    “Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia, mereka menanggalkan jubah ungu yang dipakai-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya.” (Mrk. 15:19-20a)

Intensi doa untuk Benua Australia & Oceania (butiran manik warna biru)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Oceania-Australia. Semoga mereka yang mengalami penganiayaan karena iman kepada-Mu, Engkau beri kekuatan dan penghiburan. Dalam masa penderitaan-Nya, ketika Yesus didera, diolok, diludahi, dipukul, bahkan ditelanjangi, Ia diam, tak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena besarnya kasih yang Ia miliki di dalam diri-Nya. Semoga teladan ini dapat diikuti oleh setiap orang yang mengalami penderitaan dan ketidakadilan dari sesama mereka. Dan semoga setiap manusia Engkau rahmati dengan hati yang penuh belas kasih, sehingga dapat memperlakukan sesama dengan kasih, penghormatan dan keadilan. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus dimahkotai duri
    “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya katanya, “Salam, hai raja orang Yahudi!” (Mrk. 15:17-18)

Intensi doa untuk Benua Eropa (butiran manik warna putih)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Eropa. Seringkali penderitaan dan peristiwa-peristiwa traumatis menjadi halangan iman bagi manusia untuk dapat tetap percaya bahwa Engkau selalu ada menyertai diri dan hidup mereka. Yesus, Anak-Mu, juga tak lepas dari penderitaan yang diakibatkan oleh manusia, meskipun Ia memiliki status sebagai Anak Raja. Belajar dari-Nya semoga umat di Benua Eropa juga Engkau mampukan bertahan melewati penderitaan hidup dan peristiwa-peristiwa traumatis yang mungkin harus mereka alami, sambil tetap teguh beriman, percaya bahwa tak sekali pun Engkau akan meninggalkan umat-Mu sendirian. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus memanggul salib-Nya ke gunung Golgota
    “Sambil memikul salib-Nya, Ia pergi keluar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota.” (Yoh. 19:16b)

Intensi doa untuk Benua Amerika (butiran manik warna merah)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Amerika. Semoga mereka mampu untuk setia memanggul salib kehidupan di tengah arus dunia ini. Salib seringkali ditolak dan dihindari. Kami manusia cenderung hanya menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keabadian, bukan penderitaan, kesulitan dan kematian. Yesus sendiri memanggul salib-Nya dengan taat dan setia karena Ia percaya dan menerima semua kehendak-Mu. Semoga umat di Benua Amerika yang mengimani Kristus juga siap menghadapi salib, penderitaan dan kematian. Menerima salib sebagai bagian yang tak terpisahkan dari jatidiri sebagai umat Kristiani. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

  1. Yesus wafat di salib
    “Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Luk. 23:46)

Intensi doa untuk Benua Afrika (butiran manik warna hijau)
Ya Bapa, bersama Maria Bunda Evangelisasi, Bunda segala bangsa, kami berdoa bagi umat-Mu di Benua Afrika. Akhir-akhir ini banyak kematian terjadi diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Kematian seringkali dilihat bukan hanya sekadar sebagai kehilangan namun juga sebagai peristiwa buruk. Manusia kerap memeluk kehidupan dan segala isinya dengan terlalu kuat, sehingga menjadi gagap ketika tiba waktunya untuk melepaskan dan mengembalikannya kepada-Mu, Sang Pemilik Kehidupan. Semoga Engkau memampukan umat-Mu di Benua Afrika terutama mereka yang mengalami kematian orang terdekat, agar mampu menerima kematian dan mengingat bahwa kehidupan kekal yang Engkau janjikan bukan lah di dunia ini, melainkan di surga nanti. Karena kami percaya dengan kematian hidup bukan dilenyapkan namun hanya diubah. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Ya Maria Bunda evangelisasi, Bunda segala bangsa, doakanlah dan lindungilah kami, anakmu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s