Sudah Layak dan Siapkah Kita?

Minggu, 28 November 2021
HARI MINGGU ADVEN 1

Yer. 33:14-16; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; 1Tes. 3:12 – 4:2; Luk. 21:25-28,34-36

Kedatangan Tuhan biasanya dilukiskan dengan gaya-bahasa yang khas: gejala hebat di langit, menyangkut matahari, bulan dan bintang-bintang. Akibatnya, ada kecemasan, ketakutan dan kegemparan di bumi. Sayangnya, seringkali kita lupa bahwa ini hanyalah gaya-bahasa. Kita tidak lagi membedakan gaya-bahasa dari isi atau pesan yang mau disampaikan. Akibatnya, keguncangan di langit dan gejala-gejala alam yang ekstrem itu selalu saja dibaca dan dinantikan secara harfiah. Gempa bumi, perang, tsunami, dll, yang terjadi di bumi ini sering kali dilihat sebagai tanda-tanda akhir zaman. Ramalan demi ramalan tentang akhir zaman pun terus saja ada, dipercaya, meski berkali-kali terbukti salah. Mungkinkah ini tanda kegelisahan dan ketidaksiapan manusia?

Padahal, dengan gaya bahasa apokaliptik itu, penginjil ingin mengajak kita untuk menata hidup kini dan di sini. Pertamatama ia mau menegaskan bahwa: dunia ini pasti akan berakhir (ay. 25-26). Penguasa waktu dunia dan alam-semesta (matahari, bulan dan bintang, bdk. Kej. 1:14-18) akan berhenti. Khronos akan diganti dengan kairos. Waktu yang mengatur siklus hidup alam dan manusia akan diganti dengan waktu Tuhan, saat Dia sendiri yang mengatur dan memerintah hidup manusia dalam langit dan bumi yang baru dan sejati. Para penguasa dunia inipun (para pemimpin dan pemerintah, terutama para tiran dan penindas) akan dihentikan kuasanya. Merekalah yang paling cemas dan terkejut saat Anak Manusia datang. Ia akan datang untuk membarui dunia dan menyelamatkan umat-Nya, khususnya para pengikut-Nya yang selama ini menderita, ditindas dan diperlakukan tidak adil.

Kedua, sikap yang tepat menghadapi kedatangan Tuhan adalah tidak melarikan diri dalam kebahagiaan semu, seperti pesta pora dan kemabukan (ay. 34a). Pesan Lukas ini sungguh relevan. Gaya hidup modern yang konsumeristis dan hedonis bagaikan narkoba yang membuat manusia lupa akan sesama dan Tuhan. Manusia lupa bahwa hidup ini hanya persiapan untuk hidup yang lebih mulia. Mentalitas dan gaya-hidup carpe-diem, “nikmati hari ini”, menjadi tontonan sehari-hari.

Ketiga,  Lukas juga meminta pembacanya untuk tidak terlalu sibuk memikirkan urusan hidup di dunia ini (bdk. “kekhawatiran duniawi”, ay. 34b). Manusia sibuk menambah dan menumpuk harta dan harkat bagi hidupnya. Padahal, Sang Anak Manusia akan datang kapan saja, membuyarkan semua mimpi dan khayalan fana itu. Pada saat itulah, akan terbukti bahwa semua andalan itu hanyalah semu dan sementara.

Keempat, berdoa (ay. 36). Doa selalu menjadi pokok yang ditekankan Lukas. Itulah sarana penting untuk menyambut kedatangan Tuhan. Doa adalah tanda nyata bahwa kita mengandalkan Dia, bukan kekuatan sendiri ataupun dunia. Doa adalah tanda bahwa kita berjaga-jaga dan mengandalkan kekuatan Tuhan. Dengan kekuatan-Nya itu, kita tidak akan hancur oleh penindasan, tekanan hidup dan penderitaan kini. Terlebih lagi, dengan doa kita dapat “tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” saat Dia datang kelak (ay. 36). Mengapa? Karena kita didapati-Nya siap dan layak. Sehingga, dengan muka terangkat kita siap menyambut Tuhan yang menyelamatkan kita (ay. 28).

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Orang-orang yang menderita karena depresi: Semoga mereka yang menderita karena depresi dan kelelahan mental mendapat dukungan dan tuntunan ke hidup yang lebih baik. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Penghayatan iman: Semoga keluarga Katolik dapat menghayati iman secara lebih baik dalam kehidupannya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mempersatukan kami dengan semua saudari dan saudara kami, yang sudah meninggal dan mendoakan kami, sebagaimana Santo Yoseph merestui pelayanan Sang Putera. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s