Pesan Paus Fransikus kepada Para Pasutri dalam Rangka Tahun “Keluarga Amoris Laetitia” 2021-2022

Para pasutri terkasih di seluruh dunia!

Dalam Tahun “Keluarga Amoris Laetitia” ini, saya menuliskan surat ini untuk mengungkapkan kasih sayang dan kedekatan saya yang mendalam kepada kalian semua pada waktu yang sangat istimewa ini. Keluarga senantiasa berada dalam pikiran dan doa saya, namun terlebih lagi selama pandemi, yang telah menguji semua orang, terutama yang paling rentan di antara kita. Situasi dewasa ini telah membuat saya ingin menyertai dengan kerendahan hati, kasih sayang dan keterbukaan setiap pribadi, pasutri dan keluarga dalam segala situasi yang kalian mendapati diri kalian berada di dalamnya.

Kita sedang diminta untuk menerapkan pada diri kita panggilan Tuhan yang diterima Abraham untuk berangkat dari negerinya dan rumah bapanya menuju negeri asing yang akan ditunjukkan Allah sendiri kepadanya (bdk. Kej 12:1). Kita juga pernah mengalami ketidakpastian, kesepian, kehilangan orang-orang terkasih; kita juga telah dipaksa untuk meninggalkan kepastian kita, “zona nyaman” kita, cara kita melakukan sesuatu dan ambisi kita, dan bekerja demi kesejahteraan keluarga kita dan masyarakat secara keseluruhan, yang juga bergantung pada diri kita dan tindakan kita.

Hubungan kita dengan Allah membentuk kita, menyertai kita dan mengutus kita sebagai pribadi dan, pada akhirnya, membantu kita untuk “berangkat dari negeri kita”, meskipun dalam banyak kasus dengan kegentaran dan bahkan ketakutan tertentu dalam menghadapi hal yang tidak diketahui dengan pasti. Namun iman Kristiani membuat kita menyadari bahwa kita tidak sendirian, karena Allah berdiam di dalam kita, bersama kita dan di antara kita: dalam keluarga kita, lingkungan kita, tempat kerja dan sekolah kita, di kota tempat tinggal kita.

Seperti Abraham, dengan tanpa syarat seluruh pasutri “berangkat” dari negeri mereka pada saatnya, sebagai tanggapan atas panggilan kasih suami-istri, mereka memutuskan untuk saling memberikan diri. Bertunangan sudah berarti berangkat dari negerimu, karena (proses itu) memanggilmu untuk berjalan bersama di sepanjang jalan yang mengarah ke jenjang perkawinan. Beragam situasi kehidupan, perjalanan waktu, kehadiran anak-anak, pekerjaan dan penyakit, semuanya menantang pasutri untuk merangkul kembali komitmen mereka satu sama lain, meninggalkan kebiasaan yang sudah mapan, kepastian dan kenyamanan, serta berangkat menuju negeri yang dijanjikan Allah: dua menjadi satu di dalam Kristus, dua di dalam satu. Hidupmu menjadi satu kehidupan; kamu masing-masing menjadi “kita” dalam persekutuan penuh kasih dengan Yesus, hidup dan hadir di setiap saat keberadaanmu. Allah senantiasa berada di sampingmu; Ia mengasihimu tanpa syarat. Kamu tidak sendirian!

Para pasutri terkasih, ketahuilah bahwa anak-anakmu – terutama yang lebih muda – memperhatikanmu dengan penuh perhatian; di dalam kalian mereka mencari tanda-tanda kasih yang kokoh dan dapat diandalkan. “Betapa pentingnya bagi kaum muda untuk melihat dengan mata kepala sendiri kasih Kristus yang hidup dan hadir dalam kasih pasutri, yang bersaksi melalui kenyataan hidup mereka bahwa kasih untuk selama-lamanya adalah mungkin!” [1] Anak-anak senantiasa merupakan karunia; mereka mengubah sejarah setiap keluarga. Mereka haus akan kasih, rasa terima kasih, penghargaan, dan kepercayaan. Menjadi orangtua memanggilmu untuk memberikan kepada anak-anakmu sukacita menyadari bahwa mereka adalah anak-anak Allah, anak-anak seorang Bapa yang senantiasa mengasihi mereka dengan lembut dan yang memegang tangan mereka setiap hari. Saat mereka mengetahui hal ini, anak-anakmu akan bertumbuh dalam iman dan percaya kepada Allah.

Yang pasti, membesarkan anak-anak bukanlah tugas yang mudah. Namun janganlah kita lupa bahwa mereka juga “membesarkan” kita. Keluarga tetap menjadi lingkungan utama tempat berlangsungnya pendidikan, melalui gerakan-gerakan kecil yang lebih fasih daripada kata-kata. Mendidik, pertama-tama berupa menyertai proses pertumbuhan, hadir untuk anak-anak dalam berbagai cara, membantu mereka menyadari bahwa mereka senantiasa dapat mengandalkan orangtua mereka. Seorang pendidik adalah seseorang yang secara rohani “melahirkan” orang lain, dan yang terutama secara pribadi terlibat dalam pertumbuhan mereka. Bagi orangtua, penting untuk berhubungan dengan anak-anak dengan kewenangan yang bertumbuh dari hari ke hari. Anak-anak membutuhkan rasa aman yang dapat memungkinkan mereka untuk memiliki kepercayaan pada dirimu maupun keindahan kebersamaan hidupmu, serta kepastian bahwa mereka tidak akan pernah sendirian, apa pun yang akan terjadi.

Seperti telah saya catatkan, kita menjadi semakin sadar akan jatidiri dan perutusan kaum awam dalam Gereja dan masyarakat. Kalian memiliki perutusan untuk mengubah rupa masyarakat dengan kehadiran kalian di tempat kerja dan memastikan diperhitungkannya kebutuhan keluarga. Para pasutri juga harus mengambil langkah pertama (primerear) [2] dalam komunitas paroki dan keuskupan mereka melalui prakarsa dan kreativitas mereka, sebagai ungkapan saling melengkapi karisma dan panggilan dalam pelayanan persekutuan gerejawi. Hal ini terutama berlaku bagi para pasutri yang bersama dengan para gembala Gereja, “berjalan berdampingan dengan keluarga lain, membantu mereka yang lebih lemah, mewartakan bahwa, bahkan di tengah kesulitan, Kristus senantiasa hadir bagi mereka”. [3]
Oleh karena itu, saya mendorong anda sekalian, para pasutri yang terkasih, untuk aktif dalam Gereja, terutama dalam pelayanan pastoral keluarga. “Tanggung jawab bersama untuk perutusan Gereja menuntut agar para pasutri dan para pelayan tertahbis, terutama para uskup, bekerjasama dengan cara yang bermanfaat dalam merawat dan memelihara Gereja rumah tangga”.[4] Jangan pernah lupa bahwa keluarga adalah “sel dasar masyarakat” (Evangelii Gaudium, 66). Perkawinan adalah bagian penting dari rencana pembangunan “budaya perjumpaan” (Fratelli Tutti, 216). Keluarga dengan demikian dipanggil untuk menjembatani generasi-generasi dalam mewariskan nilai-nilai yang membentuk kemanusiaan sejati. Kreativitas baru diperlukan untuk mengungkapkan di tengah tantangan dewasa ini, nilai-nilai yang membentuk kita sebagai umat, baik dalam masyarakat kita maupun dalam Gereja, Umat Allah.

Perkawinan, sebagai panggilan, memanggilmu untuk mengemudikan sebuah perahu kecil – yang diombang-ambingkan ombak namun kokoh, berkat kenyataan sakramen – melintasi lautan yang terkadang berbadai. Seberapa sering anda ingin mengatakan atau berseru, seperti para rasul: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Mrk 4:38). Namun, marilah kita tidak pernah lupa bahwa berdasarkan sakramen perkawinan, Yesus hadir di dalam perahu itu; Ia peduli pada kalian dan tetap berada di samping kalian di tengah badai. Dalam perikop Injil yang lain, ketika mereka mendayung dengan susah payah, para murid melihat Yesus datang kepada mereka di atas air dan menyambut-Nya ke dalam perahu mereka. Kapan pun kamu diterpa angin kencang dan badai, lakukan hal yang sama: sambutlah Yesus ke dalam perahumu, karena sekalinya Ia “naik ke perahu mendapatkan mereka… angin pun redalah” (Mrk 6:51). Bersama-sama, kalian tetap menatap Yesus adalah penting. Hanya dengan cara ini, kalian akan menemukan kedamaian, mengatasi perselisihan dan menemukan penyelesaian untuk banyak permasalahan. Permasalahan tersebut tentu saja tidak akan lenyap, tetapi kalian akan dapat melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Hanya dengan menyerahkan diri kalian ke dalam tangan Tuhan, kalian akan dapat melakukan apa yang mungkin tampak mustahil. Kenalilah kelemahan dan ketidakberdayaanmu dalam menghadapi begitu banyak situasi di sekitarmu, tetapi pada saat yang sama yakinlah bahwa kuasa Kristus dengan demikian akan diwujudnyatakan dalam kelemahanmu (bdk. 2Kor 12:9). Justru di tengah badai itulah para rasul mengetahui ke-raja-an dan keilahian Yesus, serta belajar untuk percaya kepada-Nya.

Dengan mengingat ayat-ayat alitab ini, saya sekarang ingin bercermin pada beberapa kesulitan dan peluang yang dialami keluarga selama pandemi saat ini. Misalnya, penguncian berarti ada lebih banyak waktu untuk bersama, dan ini membuktikan peluang unik untuk memperkuat komunikasi dalam keluarga. Tentu, ini menuntut latihan kesabaran tertentu. Tidak mudah untuk bersama sepanjang hari, ketika semua orang harus bekerja, belajar, berekreasi dan beristirahat di rumah yang sama. Jangan biarkan rasa lelah menguasai dirimu: semoga kekuatan kasih membuatmu lebih memperhatikan orang lain – pasanganmu, anak-anakmu – daripada kebutuhan dan kekhawatiranmu sendiri. Perkenankan saya mengingatkanmu tentang apa yang saya katakan dalam Amoris Laetitia (bdk. No. 90-119), yang diilhami oleh madah kasih Santo Paulus (bdk. 1Kor 13:1-3). Panjatkanlah karunia kasih dari Keluarga Kudus dan baca ulang perayaan kasih Paulus, sehingga dapat mengilhami keputusan dan tindakan-tindakan kalian (bdk. Rm 8:15; Gal 4:6).

Dengan cara inilah, waktu-waktu yang kamu habiskan bersama, jauh melebihi penebusan dosa, akan menjadi perlindungan di tengah badai. Semoga setiap keluarga menjadi tempat penerimaan dan pengertian. Pikirkanlah nasihat yang saya berikan kepadamu tentang pentingnya tiga kata sederhana berikut: “tolong, terima kasih, maaf”. [5] Setelah setiap pertengkaran, “jangan biarkan hari berakhir tanpa berdamai”. [6] Jangan malu untuk bersujud bersama di hadapan Yesus dalam Ekaristi, menemukan beberapa saat kedamaian serta saling memandang dengan kelembutan dan kebaikan. Atau ketika salah seorang dari kamu agak marah, peganglah tangannya dan paksakan dia untuk tersenyum. Kalian juga dapat melafalkan doa singkat bersama setiap malam sebelum tidur, dengan Yesus di samping kalian.

Bagi beberapa pasutri, kondisi keterpaksaan hidup selama karantina sangat sulit. Permasalahan yang sudah ada sebelumnya diperparah, menciptakan perselisihan yang dalam beberapa kasus menjadi hampir tak tertahankan. Bahkan banyak yang mengalami perceraian yang harus menghadapi krisis yang mereka rasakan sulit atau tidak mungkin untuk diatur kembali. Saya ingin mereka juga merasakan kedekatan dan kasih sayang saya.

Perceraian menyebabkan penderitaan yang luar biasa, karena banyak harapan yang pupus, serta kesalahpahaman dapat menyebabkan pertengkaran dan luka yang tidak mudah disembuhkan. Anak-anak akhirnya harus menderita rasa sakit melihat orangtua mereka tidak lagi bersama. Teruslah mencari pertolongan, sehingga kalian dapat mengatasi perselisihan dan mencegah lebih banyak lagi luka pada diri kalian dan anak-anak kalian. Tuhan Yesus, dalam belas kasih-Nya yang tak terbatas, akan mengilhami kalian untuk terus berjalan di tengah banyak kesulitan dan kesedihan. Tetaplah berdoa memohon pertolongan-Nya, dan carilah pada-Nya perlindungan dan terang untuk perjalanan. Temukan juga, dalam komunitas kalian, sebuah “rumah Bapa, di mana senantiasa tersedia tempat bagi setiap orang dengan semua permasalahan hidup mereka” (Evangelii Gaudium, 47).

Ingatlah juga bahwa pengampunan menyembuhkan setiap luka. Saling mengampuni adalah buah keputusan batin yang mencapai kedewasaan dalam doa, dalam hubungan kita dengan Allah. Saling mengampuni adalah karunia yang lahir dari rahmat yang dicurahkan Kristus kepada pasutri setiap kali mereka berpaling kepada-Nya dan memperkenankan-Nya bertindak. Kristus “tinggal” dalam perkawinan kalian dan Ia senantiasa menanti kalian untuk membuka hati kepada-Nya, sehingga Ia dapat menopang kalian, seperti yang Ia perbuat kepada para murid di perahu, dengan kuasa kasih-Nya. Kasih manusiawi kita lemah; kasih manusiawi kita membutuhkan kekuatan kasih setia Yesus. Bersama-Nya, kalian sungguh dapat membangun “rumah di atas batu” (Mat 7:24).

Di sini saya ingin menyampaikan sepatah kata kepada kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan. Bahkan sebelum pandemi, tidak mudah bagi pasangan yang bertunangan untuk merencanakan masa depan mereka, karena sulitnya mencari pekerjaan tetap. Sekarang pasar tenaga kerja bahkan semakin tidak terjamin, saya mendesak pasangan yang bertunangan untuk tidak merasa putus asa, namun justru memiliki “keberanian kreatif” yang ditunjukkan oleh Santo Yosef, yang untuk mengingatnya saya ingin hormati pada Tahun ini yang didedikasikan baginya. Dalam perjalanan kalian menuju perkawinan, senantiasalah percaya pada penyelenggaraan Allah, betapapun terbatasnya kemampuan kalian, karena “terkadang justru kesulitan menumbuhkan sumber-sumber daya dari dalam diri kita yang tidak pernah kita pikirkan bahwa kita memilikinya” (Patris Corde, 5). Jangan ragu-ragu untuk mengandalkan keluarga dan sahabatmu, di komunitas gerejawi, di parokimu, untuk menolongmu mempersiapkan perkawinan dan kehidupan keluarga dengan belajar dari mereka yang telah berjalan maju di sepanjang jalan yang sedang kalian jalani sekarang.

Sebelum mengakhiri, saya ingin menyapa kakek-nenek, yang selama masa pembatasan pandemi tidak dapat berjumpa langsung atau menghabiskan waktu bersama cucu-cucu mereka, serta semua orang lanjut usia yang merasa terasing dan sendirian selama bulan-bulan ini. Keluarga sangat membutuhkan kakek-nenek, karena mereka adalah ingatan yang hidup umat manusia, ingatan yang “dapat membantu membangun dunia yang semakin ramah dan manusiawi.” [7]

Semoga Santo Yosef mengilhami kepada seluruh keluarga keberanian yang kreatif, yang sangat penting untuk masa-masa perubahan penting ini. Semoga dalam kehidupan perkawinan kalian, Bunda Maria menolong untuk memupuk budaya perjumpaan yang sangat kita butuhkan untuk menghadapi permasalahan dan kesukaran dewasa ini. Tidak ada kesulitan yang dapat mengenyahkan sukacita orang-orang yang tahu bahwa mereka sedang berjalan bersama Tuhan di samping mereka. Jalani panggilan kalian dengan antusias. Jangan biarkan wajah kalian menjadi sedih atau muram; suami atau istrimu membutuhkan senyuman. Anak-anakmu membutuhkan penampilanmu yang memberi semangat. Para imammu dan keluarga-keluarga lainnya membutuhkan kehadiran dan sukacitamu: sukacita yang datang dari Tuhan!

Saya menyapa kalian semua dengan kasih sayang, dan saya mendorong anda sekalian untuk melaksanakan perutusan yang telah dipercayakan Yesus kepada kita, bertekun dalam doa dan “pemecahan roti” (Kis 2:42).

Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya, sama seperti saya mendoakanmu setiap hari.

.

.

Salam persaudaraan,
Roma, Santo Yohanes Lateran,

26 Desember 2021,

Pesta Keluarga Kudus

.

Fransiskus

.


[1] Pesan Video untuk Para Peserta Forum “Di mana Kita Berdiri Bersama Amoris Laetitia?” (9 Juni 2021).
[2] Bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 24.
[3] Pesan Video untuk Para Peserta Forum “Di mana Kita Berdiri Bersama Amoris Laetitia?” (9 Juni 2021).
[4] Pesan Video untuk Para Peserta Forum “Di mana Kita Berdiri Bersama Amoris Laetitia?” (9 Juni 2021).
[5] Amanat Kepada Peserta Peziarahan Keluarga Selama Tahun Iman (26 Oktober 2013); bdk. Amoris Laetitia, 133.
[6] Katekese 13 Mei 2015; bdk. Amoris Laetitia, 104.
[7] Pesan untuk Hari Kakek-nenek dan Lansia Sedunia 2021 : “Aku senantiasa besertamu” (25 Juli 2021).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s