Kamu Harus Jadi Roti Yang Dibagikan!

Renungan Harian Misioner
Selasa, 04 Januari 2022
P. B. Elisabeth Bayley Anna Seton

1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44

Pemberian makan pada 5000 orang laki-laki sudah berkali-kali kita baca dan renungkan. Kali ini Markus mau membawa kita melampaui keterbatasan kita, supaya kita dapat mengenal Tuhan dalam Ekaristi. Kutipan ini dimulai dengan mengutarakan sumber anugerah Tuhan, yaitu belas kasihan-Nya (hesed – Ibr), bukan suatu unsur atau corak saja, melainkan Allah sendiri dengan kodrat-Nya yang terdalam.  Dalam cinta-Nya yang tanpa syarat, yang akan tampak di salib, Tuhan memberikan hidup-Nya bagi kita. Belas kasihan ini adalah sumber roti, yaitu hidup Yesus yang diberikan pada kita para pendosa. Allah adalah kasih, bukan karena kita telah mengasihi-Nya, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita, serta memberi kita hidup oleh-Nya. Sebagai umat-Nya kita menerima Sang Sabda sendiri yang menjadi makanan, mengenangkan pemberian manna, burung puyuh dan air pada umat Israel di Padang Gurun.

Dan mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka, ‘domba-domba’ yang tidak mempunyai gembala itu. Allah sendiri menggembalakan umat-Nya, memulai pengajaran-Nya. Dan pengajaran itu adalah Firman-Nya, sebab memang manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Ul. 8:3). Firman dan kesetiaan-Nya tetap untuk selamanya. Peristiwa ini adalah katekese di mana perjamuan Firman mendahului perjamuan Roti. Seperti dalam Ekaristi, di mana tanpa perjamuan Firman, Roti Ekaristi tidak dapat dipahami dan hanya dicari sebagai makanan jasmani belaka (Yoh. 6:26). Dalam Gereja, Injil dan Roti memuncak pada kontemplasi Tuhan yang tersalib sebagai isi pewartaan yang melahirkan kita kembali dalam permandian dan makanan yang memberikan kehidupan baru dalam Ekaristi.

“Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan…” demikian para murid berkata kepada Yesus, khas corak manusia (seperti kita juga) yang terkungkung dalam hukum jual-beli dan hidup dari apa yang kita beli! Tapi Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan!” – ini adalah perintah, dan bercorak hidup ilahi yang menjadikan diri kita hidup melalui apa yang Dia berikan secara gratis, yaitu Satu Roti yang tanpa mereka sadari sudah ada pada mereka. Roti yang dapat digandakan jika dibagi-bagikan, dan dapat memuaskan orang banyak! Pandangan para murid sulit berubah, mereka belum mengerti tawaran Yesus dan masih berpikir untuk membeli. Kasih mereka tulus tapi masih menghitung-hitung biaya. Masalahnya adalah: roti yang Yesus maksudkan tak usah dibeli adalah diri-Nya sendiri dan kesanggupan-Nya untuk menganugerahkan diri. Sebagai Sabda, Dia memperlihatkan misteri Allah sebagai roti yang akan memampukan kita menghayati misteri “barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:57).

Lima roti dan dua ikan, berjumlah tujuh, angka kesempurnaan secara alkitabiah – ‘kemiskinan’ kita melalui tangan Tuhan akan menjadi berlimpah-limpah jika dibagi-bagikan. Yesus mengambil roti dari bumi dan ikan dari kedalaman lautan, dengan mata yang tertuju ke atas kepada Bapa. Dia memberi contoh bahwa mengambil roti dan ikan itu bukanlah untuk memiliki, tetapi untuk menerima anugerah Allah, seraya memberkati. Dia yang memberi segala yang baik dan membagi-bagikannya kepada yang lain. Roti yang dibagi-bagi itu adalah tubuh-Nya yang Ia berikan di salib. Ikan dari kedalaman laut (yang pada masa itu dianggap sebagai sumber ‘kegelapan’) justru menjadi simbol Kristus yang hidup melampaui dan mengatasi kematian (ikhtus – Yun). Dengan memberikannya kepada murid-murid-Nya, Yesus memerintahkan kepada mereka agar menyajikan tindak kasih yang bersumber pada-Nya secara berkesinambungan sampai akhir zaman. Kita diajak untuk mengerti bahwa fokus Allah bukan pada penggandaan, melainkan pada membagi-bagikan, memberi diri sebagai anugerah.

Kisah hari ini menunjukkan kontras dari perjamuan yang dihidangkan Yesus dengan kisah perjamuan sebelumnya di istana Herodes. Perjamuan di mana mereka yang ikut makan bernuansa egoisme dan nafsu memiliki, pamer serta saling menguasai, diubahkan hidupnya ke kehidupan baru dalam kasih yang bercorak pemberian diri, pelayanan dan kerendahan hati. Sebab dengan makan roti Ekaristi, kita dituntut untuk memberi sama seperti yang dilakukan Yesus, dan kita dibentuk sebagai anak dan saudara. Mereka semua makan sampai kenyang, karena hidup yang dibagikan dengan penuh kasih merupakan roti yang memuaskan, yang tak berkesudahan, anugerah hidup yang kekal. Hidup sang Anak yang dipersembahkan bagi kita akan menjadi pujian kepada Bapa dan memberi kesanggupan untuk berbagi dengan saudara-saudara sesama kita. Makan Roti ini berarti hidup dari Yesus dan hidup seperti Dia, membagi-bagikan segala tindak kasih kita yang bersumber daripada-Nya! (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Persaudaraan sejati

Kita berdoa untuk mereka yang menderita karena perundungan dan diskriminasi agama; semoga hak asasi dan martabat mereka diargai karena sesungguhnya kita semua bersaudara sebagai umat manusia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia: Menangkal hoaks

Kita berdoa, semoga di tengah simpang-siurnya informasi, gosip dan hoaks yang memancing emosi, kita tetap menanggapinya dengan hati lembut dan akal sehat. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s