Renungan Harian Misioner
Sabtu Biasa VII, 26 Februari 2022
P. S. Didakus Carvalho
Yak. 5:13-20; Mzm. 141:1-2,3.8; Mrk. 10:13-16
Sahabat misioner terkasih,
Saat ini kita berada dalam situasi darurat anak. Begitu sering kita mendengar berita tentang kekerasan pada anak. Mereka menjadi korban kekerasan dalam macam ragam bentuk dari yang paling ringan-halus sampai yang berat-kasar, entah korban kekerasan hati dan pemaksaan keinginan orang tua yang tidak sesuai minat atau talenta anak, korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), korban perceraian, eksploitasi, diskriminasi, mempekerjakan anak, perdagangan anak, pelecehan seksual, maupun bentuk-bentuk kekerasan lain. Ironisnya sebagian pelaku kekerasan tersebut adalah justru orang-orang terdekat si anak. Ada orang tuanya sendiri, saudaranya, guru atau pendampingnya yang seharusnya melindungi anak.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan para murid Yesus memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kepada Yesus. Mungkin, para murid menganggap anak-anak akan mengganggu Yesus yang sedang mengajar (Mrk. 10:1-12) atau sedang istirahat sesudah mengajar (“Sekali peristiwa …” Mrk. 10:13). Karena itu, mereka marah dan melarang orang-orang mengantarkan anak-anak kepada Yesus. Melihat sikap para murid-Nya, Yesus menegur mereka dengan keras dan mempersilahkan anak-anak untuk datang kepada-Nya. “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka!” Tuhan Yesus sayang kepada anak-anak, ingin dekat dan melindungi mereka.
“Yesus memeluk anak-anak itu, meletakkan tangan ke atas mereka, dan memberkati mereka.” Anak-anak adalah istimewa di hati Tuhan. Anak-anak adalah kekasih Tuhan yang begitu disayang dan dilindungi-Nya. Tidak hanya itu, bahkan anak-anak dipandang sebagai ikon Kerajaan Allah, “Sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Anak-anak adalah teladan orang beriman untuk dapat masuk Kerajaan Allah, “sungguh, barangsiapa tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”
Mengikuti Yesus Sang Guru, kita sebagai murid-murid zaman ini harus ramah kepada anak. Wujudnya adalah memperhatikan pemenuhan hak anak dan melindungi anak baik di ruang privat dalam keluarga maupun di ruang publik, seperti di gereja tempat ibadah maupun di tempat-tempat umum. Ada empat hak anak menurut Konvensi Hak Anak internasional, yaitu hak kelangsungan hidup dengan mencapai standar yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial; hak memperoleh pendidikan; hak tumbuh kembang; dan hak perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, keterlantaran dan diskriminasi. Pemenuhan empat hak anak tersebut menjadi bentuk penghayatan iman kita.
Misi kita hari ini adalah menumbuhkembangkan ramah kepada anak dalam pikiran, rasa, kehendak, dan tindakan sehari-hari kita. Seperti Kristus mencintai anak-anak, kita pun harus mencintai anak-anak. Ingat sabda Yesus, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk. 9:42).***NW
(RD. M Nur Widipranoto – Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia)
DOA PERSEMBAHAN HARIAN
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Para biarawati dan perempuan hidup bakti
Kita berdoa untuk para biarawati dan para perempuan yang menjalani hidup bakti; kita berterima kasih atas misi perutusan dan keberanian mereka; semoga mereka dapat terus menemukan cara untuk menanggapi tantangan zaman ini.
Ujud Gereja Indonesia: Kesinambungan pengolahan sampah plastik
Kita berdoa, semoga upaya-upaya pribadi dan kelompok untuk mengurangi dan mengolah sampah plastik dapat menjadi upaya pemberdayaan masyarakat karena didukung pemerintah dan institusi-institusi sosial.
Amin