“Dengarkan Dia!”

Renungan Harian Misioner
Minggu, 13 Maret 2022
HARI MINGGU PRAPASKAH II

Kej. 15:5-12,17-18; Mzm. 27:1,7-8,9abc,13-14; Flp. 3:17 – 4:1 (panjang) atau Flp. 3:20 – 4:1 (singkat); Luk. 9:28b-36

Transfigurasi  berkaitan dengan Liturgi dan Misi. Bagi Lukas, kehadiran Yesus yang mulia hanya dapat dialami dalam ibadat jemaat. Unsur-unsur penting ibadat jemaat itu tentu paling jelas dalam kisah Emaus (Luk. 24): berkumpul, mendengarkan Firman, perjamuan dan perutusan. Latar ibadat itu jelas juga di awal cerita hari ini: “kira-kira delapan hari sesudah menyampaikan semua pengajaran itu..” (ay. 28). “Delapan hari” kiranya menunjuk pada hari ibadat jemaat perdana untuk mengenangkan kebangkitan Tuhan. Bukankah Tuhan bangkit di hari pertama setelah Sabat (hari ke-7)? Hari kedelapan inilah yang selanjutnya disebut Hari Tuhan alias Hari Minggu. Lukas juga secara jelas mengatakan bahwa Yesus naik ke gunung untuk berdoa (ay. 28) dan wajah-Nya berubah justru pada saat Ia sedang berdoa (ay. 29). Doa dan berdoa adalah tema kegemaran Lukas.

Selain latar ibadat, ada beberapa unsur ibadat jemaat yang disebutkan. Pertama, berkumpul bersama. Yesus mengajak 3 murid-Nya untuk menyendiri dan berdoa di gunung. Di gunung, Musa dan Elia juga bergabung. Ibadat adalah perkumpulan jemaat, baik yang masih mengembara di dunia maupun yang sudah mulia di Surga, untuk memuji Allah bersama Sang Anak. Ibadat bukan saja kegiatan dan keramaian kita, melainkan penyembahan universal: semua mahluk di dunia dan di Surga bersatu untuk memuji Allah, melalui dan berkat serah-diri Anak-Nya.

Kedua, mendengarkan Firman. Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang perjalanan-Nya ke Yerusalem. “Perjalanan” itu secara harafiah disebut eksodos (ay. 31). Jelas ada kaitan dengan Eksodus Umat Israel dari perbudakan di Mesir. Kehadiran Musa juga memperkuat kaitan tersebut. Dengan mendengarkan Firman Allah yang diajarkan dalam Taurat (Musa) dan kitab para Nabi (Elia), perjalanan Yesus ke Yerusalem dapat dipahami secara benar. Eksodus Yesus adalah: perjalanan menuju salib dan kebangkitan-Nya, yang membawa pembebasan manusia dari perbudakan dosa. Oleh karena itu, para Murid diperintahkan Allah untuk mendengarkan Yesus, Anak-Nya (ay. 35). Ibadat adalah saat kita mendengarkan Firman Allah yang disampaikan oleh Musa dan para Nabi, yang memuncak pada saat kita mendengarkan Sabda Yesus, Anak pilihan Bapa (ay. 35).

Ketiga, perutusan ke dalam dunia. Petrus, Yakobus dan Yohanes tertidur saat Yesus berbicara dengan Musa dan Elia. Akibatnya, mereka tidak paham tentang makna peristiwa itu, juga makna perjalanan Yesus ke Yerusalem. Usulan Petrus untuk membuat tiga kemah memperlihatkan ketidakpahaman itu. Ia mau menahan Musa dan Elia. Padahal, keduanya harus kembali ke Surga agar Yesus dapat kembali ke dunia untuk meneruskan ziarah-Nya sampai tuntas. Maka, Bapa memberi pegangan pasti: “Dengarkan Dia!”  Pengalaman bersama Allah di gunung harus bermuara ke perutusan ke tengah dunia, dengan berpedoman pada ketaatan pada Sang Anak. Itulah inti ibadat kita: selalu mencari sumber dan kekuatan dalam Sabda dan pengalaman bersama Tuhan. Hanya hati yang penuh dengan kemuliaan dan cinta Allah akan siap turun gunung dan berbagi dengan sesama dan dunia.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Menghadapi tantangan bioetika

Kita berdoa untuk umat Kristiani yang menghadapi tantangan bioetika baru; semoga mereka dapat terus membela martabat segenap umat manusia dengan doa dan tindakan.

Ujud Gereja Indonesia: Pengabdian politik

Kita berdoa, semoga di alam demokrasi ini para elit politik dan pemerintah menggunakan kewenangannya untuk mengabdi dan menata masyarakat dan bukan untuk menguasainya.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s