Berlari Mencari Sang KEKASIH Yang Bangkit

Renungan Harian Misioner
Minggu, 17 April 2022
HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

Kis. 10:34a,37-43; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Kol. 3:1-4 atau 1Kor. 5:6b-8; Yoh. 20:1-9

Mari kita berfokus pada tiga verba saja: berlari, melihat, percaya. Tiga kata kerja ini mengaitkan tiga “saksi utama” peristiwa Kebangkitan: dua pria, satu perempuan. Dua saksi saja sebenarnya sudah sah, apalagi tiga! Ketiganya berlari dan melihat, tetapi hanya satu -dalam cerita ini- yang percaya. Ketiganya memerankan reaksi manusia dulu dan sekarang di hadapan kubur kosong.

Pertama, berlari. Pengalaman Paskah, betapapun dangkal dan sementaranya, sudah menimbulkan antusiasme untuk mewartakan. Lihat saja reaksi Maria Magdalena. Hanya melihat kubur terbuka, ia sudah langsung berlari. Bukan lari untuk bersembunyi, tetapi untuk mewartakannya kepada Petrus dan Murid yang Dikasihi Yesus. Sayang, isi pewartaannya masih mengikuti perasaan: “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya”. Ia masih menganggap Yesus sebagai jenazah, yang dapat diambil dan dipindahkan manusia. Reaksi awal Maria Magdalena memerankan tanggapan tanpa iman tentang kebangkitan: mayat Yesus dicuri dan dipindahkan dari kubur.  Itu reaksi dan propaganda petinggi Yahudi sejak awal (bnd. Mat. 28:11-15), juga pendapat kalangan lain sampai kini. Dua murid-pria itu juga belari-bersama ke kubur kosong. Petrus kalah cepat dari Murid yang Dikasihi Yesus. Mungkin saja karena faktor usia. Tetapi biasanya: dia yang mengasihi pasti lebih antusias mencari Sang Kekasih.

Kedua, melihat. Maria Magdalena hanya melihat permukaan bahwa batu penutup telah diambil dari kubur (ay. 1). Lalu ia segera menyimpulkan: jenazah Yesus sudah diambil orang. Dalam beriman, janganlah kita berhenti pada soal lahiriah dan permukaan. Percaya harus melampaui apa yang tampak dan kelihatan saja. Dua murid pria juga melihat. Murid yang dikasihi, awalnya berhenti di depan kubur. Lebih dari Maria Magdalena, ia melihat lebih dalam: ke dalam kubur. Ia melihat kain-kafan: hanya seragam-jenazah, tanpa mayat-Nya. Untuk percaya pada kebangkitan, tidak cukup hanya melihat batu-kubur. Kita harus melihat ke dalam kubur: merenungi misteri maut dan kematian. Di sana akan kelihatan kain-kafan tanpa mayat: tanda-tanda awal bahwa Yang wafat sudah tidak ada. Berbeda dengan Murid yang Dikasihi Yesus itu, Petrus langsung masuk ke dalam kubur. Ia melihat lebih banyak: kain kafan dan kain-peluh yang sudah terlipat. Petrus memerankan ajaran resmi para saksi dalam jemaat awal: kebangkitan Tuhan itu nyata. Mayatnya tidak dicuri orang. Pencuri tidak mungkin membuang waktu melipat kain peluh, membuka kain kafan dan membawa pergi mayat telanjang!

Ketiga, percaya. Meskipun ketiganya berlari dan melihat, namun hanya satu yang percaya, yaitu: Murid yang Dikasihi Yesus. Baginya, kain-kafan yang tertinggal adalah tanda bahwa Sang Kekasih sudah bangkit. Murid ini menjadi teladan iman. Dia memerankan tahapan yang tepat untuk percaya: penuh antusias berlari mencari Sang Kekasih yang “hilang”, berhenti di depan kubur-Nya: merenungkan dan berusaha melihat lebih dalam, lalu masuk untuk melihat dan percaya. Relasi kasih dengan Tuhan membantunya untuk lebih cepat berlari, tahu berhenti untuk mendalami arti, dan akhirnya percaya dan mengimani (bnd. juga  21:7).

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Tenaga kesehatan

Kita berdoa untuk para tenaga kesehatan yang melayani orang sakit dan lansia, terutama yang berada di negara-negara miskin; semoga mereka mendapat dukungan yang memadai dari negara dan komunitas setempat.

Ujud Gereja Indonesia: Bersikap terhadap konsumerisme

Kita berdoa semoga kita tetap bersikap sederhana dan tidak tergoda untuk memiliki barang yang tidak kita perlukan di tengah gelombang konsumerisme yang mendikte dunia.

Amin

Satu respons untuk “Berlari Mencari Sang KEKASIH Yang Bangkit

  1. Amin..,Keyakinan yang dilandasi oleh iman yang tulus pastilah percaya dengan sepenuh hati..Tuhan kita Yesus Kristus ..Firman Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia ( Trinitas) pribadi Ilahi untuk menyelamatkan kita semua dari dosa….semoga Tuhan selalu ada beserta kita semua..amin🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s