Untuk Apa TUHAN Memberi Kita PUTRA Tunggal-Nya?

Renungan Harian Misioner
Rabu, 27 April 2022
P. S. Petrus Kanisius

Kis 5:17-26; Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh 3:16-21

Bacaan Injil ini berisi jawaban atas pertanyaan Nikodemus, yang juga sebenarnya mewakili pertanyaan manusia sekarang: bagaimana orang dapat memperoleh hidup baru? Bagaimana orang dapat dilahirkan kembali?  Dengan rumusan lain, bagaimana kita dapat memperoleh hidup yang kekal? Jawabannya adalah percaya kepada Yesus, Anak Tunggal Allah: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Memperoleh hidup yang kekal bukan semata kerinduan jiwa setiap manusia, melainkan juga merupakan kehendak Allah sendiri  atas manusia ciptaan-Nya. Allah begitu mengasihi setiap orang dan Ia menghendaki setiap orang beroleh hidup yang kekal. Kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia  membuat Allah rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal: “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yoh. 3:17). Karena Yesus datang untuk menyelamatkan dunia dan manusia, maka setiap orang yang percaya kepada Yesus beroleh hidup yang kekal. Kepercayaan itu memberikan hidup baru dan terang kepada manusia. Sebaliknya, barangsiapa menutup mata terhadap kasih Allah, berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, ia sesungguhnya sedang mendatangkan hukuman atas dirinya.

Untuk memperoleh hidup yang kekal, jalan satu-satunya adalah iman. Iman bukanlah percaya atau mengikatkan diri pada ajaran yang abstrak, tetapi percaya kepada pribadi Yesus dan karya-karya-Nya. Iman bukanlah kesetujuan intelektual terhadap doktrin, melainkan penyerahan diri secara total dan keterbukaan terhadap Yesus. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa iman adalah syarat untuk memperoleh keselamatan: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari alam maut ke dalam hidup” (Yoh. 5:24). Iman dan kepercayaan muncul ketika orang melihat Yesus mengerjakan hal-hal yang tidak dapat dikerjakan oleh orang lain dan mulai tertarik pada-Nya; mereka yakin bahwa Dia pasti datang dari Allah dan merasa takjub di hadapan-Nya. Lalu pengalaman mereka akan Yesus berubah dan menjadi semakin mendalam. Pengalaman itu menumbuhkan relasi kepercayaan kepada Yesus, yang menawarkan persahabatan dan menyatakan pandangan baru tentang kemanusiaan.

Bagaimana tanggapan kita atas kasih Allah? Dengan memberikan Anak-Nya, Allah menganugerahkan terang kepada kita hingga dapat berjalan dalam terang tanpa jatuh. Ada godaan bagi kita untuk mengelak terang itu, karena dalam terang Tuhan itu kelemahan dan kesalahan kita akan menjadi terlihat dengan jelas.  Kita tidak ingin orang melihat wilayah gelap dalam diri kita. Kita takut dilihat sebagai orang yang jahat dan bersalah. Namun, dengan menjauhkan diri dari cahaya kasih Allah, kita sesungguhnya sedang menghukum diri untuk tetap hidup dalam kegelapan, tanpa kecerahan kasih Allah dalam Yesus itu. Apabila kita menutup mata terhadap kasih Allah, kita mendatangkan hukuman atas diri kita sendiri. Inilah kerugian bagi kita, jika kita tidak percaya kepada Yesus dan menjauhkan diri dari terang kasih-Nya.

Kita hendaknya sadar bahwa iman pertama-tama tidak mengenai Allah, melainkan mengenai rencana dan kehendak Allah dengan kita.  Allah mendatangi kita melalui Yesus, Anak-Nya yang tunggal supaya kita yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6:40). Tuhan adalah Bapa Cinta Kasih yang abadi yang tidak bisa beristirahat sampai anak-anak-Nya yang mengembara kembali ke rumah-Nya. Semoga kita tidak menyia-nyiakan kasih dan kehendak Allah bagi kita  dengan terus membuka mata terhadap kasih Allah yang terwujud dalam setiap pengalaman dan peristiwa hidup kita,  berjuang untuk melakukan yang benar, dan tidak henti-hentinya datang kepada Yesus, Sang Terang  sejati. Tuhan memberi kita Putra Tunggal-Nya supaya kita yang percaya kepada-Nya  beroleh berkat dan hidup yang kekal.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Tenaga kesehatan

Kita berdoa untuk para tenaga kesehatan yang melayani orang sakit dan lansia, terutama yang berada di negara-negara miskin; semoga mereka mendapat dukungan yang memadai dari negara dan komunitas setempat.

Ujud Gereja Indonesia: Bersikap terhadap konsumerisme

Kita berdoa semoga kita tetap bersikap sederhana dan tidak tergoda untuk memiliki barang yang tidak kita perlukan di tengah gelombang konsumerisme yang mendikte dunia.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s