Betapa TUHAN Menilai Tinggi Setiap Kita

Renungan Harian Misioner
HARI MINGGU BIASA XXIV, 11 September 2022

Kel. 32:7-11,13-14; Mzm. 51:3-4,12-13,17,19; 1Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-32 (panjang) atau Luk. 15:1-10 (singkat)

Ada tiga yang “hilang”: domba, dirham dan anak! Ada pencarian oleh pemiliknya. Ada sukacita saat ditemukan. Yesus ingin membela dan menegaskan misi-Nya: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Diawali dengan sungutan orang Farisi dan ahli Taurat, karena Yesus menerima para pendosa dan pemungut cukai. Diakhiri dengan kata-kata Ayah terhadap si sulung yang menggerutu karena “kebijakan” si Ayah terhadap si Bungsu yang “berdosa”. Tidak sulit untuk melihat kaitan antara kaum Farisi & Ahli Taurat dengan si anak sulung. Keduanya sudah punya konsep “baku” tentang keselamatan: mereka merasa tahu bagaimana seharusnya Bapa bertindak! Keadilan Allah harus sesuai dengan keadilan yang sudah baku itu, yang sudah dianut sejak dahulu! Allah tidak boleh “keluar dari skema”: pendosa harus dihukum, orang benar harus diberkati. Sebuah midrash dari kalangan agamawan ini bahkan mengatakan: “jangan seorang pun bergaul dengan orang-orang jahat, bahkan demi membawa mereka kepada Hukum Taurat”. Pokoknya: pendosa tidak perlu dicari. Biarkan saja mereka pergi, agama harus bersih dari orang-orang seperti ini!

Yesus punya strategi lain: justru pendosa harus dicari. Yesus menghadirkan Allah yang berbelas kasih, Yang sibuk mencari manusia yang berdosa. Misi-Nya dilukiskan seperti gembala: mencari satu domba yang hilang, meski harus sebentar meninggalkan yang 99. Sang Gembala rela mengambil risiko, demi pergi mencari yang seekor. Karya-Nya digambarkan juga seperti seorang perempuan, yang dengan cermat mencari satu dirhamnya yang hilang. Betapa Tuhan menilai tinggi setiap kita. Setiap jiwa berharga di mata-Nya. Maka, Yesus tidak segan makan bersama kalangan yang sering dicap pendosa. Ia menghadirkan Allah yang menerima setiap orang tanpa praduga. Bagi kaum Farisi: Allah harus dibela terhadap pelbagai manusia pendosa. Kekudusan-Nya harus diproteksi dari pelbagai pelanggaran, hal dan orang najis. Bagi Yesus, manusia harus dibela dari pelbagai cap dan praduga manusia  yang menghalangi perjumpaannya dengan Bapa. Kekudusan Allah harus diekspansi: dibagikan kepada sebanyak mungkin orang, dengan cuma-cuma.

Berita Gembira hari ini sungguh menguatkan. Ternyata Saya dan Anda selalu masuk dalam DPO Tuhan: Daftar Pencarian Orang yang diselamatkan-Nya. Dialah “Bapa yang tidak pernah hilang”: terus menunggu kita pulang. Ia terus menanti kita kembali, tanpa menghitung berapa kali kita pergi. Ia bahkan terus mencari untuk membawa kita kembali menjadi milik-Nya yang bernilai. Dengan demikian, Injil hari ini bukanlah tentang “Prodigal Son” (Anak yang Boros), tetapi tentang “Prodigal Love”: cinta Allah yang boros terhadap kita anak-anak-Nya yang “suka bolos”! Iman akan kasih Allah ini mengundang Saya dan Anda untuk berhenti menjadi Farisi, yang lebih suka melihat dosa orang lain daripada kesalahan sendiri, yang menjauhi sesama demi menjaga kesucian dan harga diri. Kita dipanggil untuk menghadirkan Allah yang mendekati siapa saja, khususnya mereka yang dicap pendosa, dan bersukacita jika menemukan dan ditemukan oleh mereka yang hilang.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Penghapusan hukuman mati

Kita berdoa semoga hukuman mati yang melawan martabat manusia, secara resmi dapat dihapus di semua negara.

Ujud Gereja Indonesia: Menghindari ketergantungan pada gawai

Kita berdoa semoga dengan sadar kita semua menghindari ketergantungan pada gawai secara berlebihan.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s