Beriman Seperti Orang “Kafir”

Renungan Harian Misioner
Senin Biasa XXIV, 12 September 2022
P. Nama SP Maria Yang Tersuci

1Kor. 11:17-26; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Luk. 7:1-10

Kapernaum terletak dekat danau Tiberias, di perbatasan antara daerah orang Israel dan orang kafir, yang dijumpai dengan menyeberangi danau tersebut. Kapernaum ini juga penting karena dekatnya dengan jalan yang menjadi penghubung antara Galilea dengan negara-negara lain. Akibatnya kota perbatasan ini mempunyai kantor yang sekarang ini kita kenal sebagai kantor bea-cukai dan tentunya terdapat kelompok pertahanan atau satuan militer yang cukup untuk menjaga keamanan. Kota inilah yang dipilih Yesus sebagai tempat kediaman untuk memulai karya-karya-Nya. Lokasi yang strategis untuk membuat banyak orang dari segala penjuru mendengar dan melihat kuasa dan otoritas Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus.

Di situ tinggallah seorang perwira Romawi, dan perwira di perbatasan itu biasanya mengepalai 100 orang prajurit. Bagi orang Israel, perwira Romawi ini dianggap najis, bahkan dua kali najis karena ia adalah orang kafir dan ia adalah seorang penjajah! Tetapi oleh orang-orang terkemuka setempat, perwira ini dikenal sebagai seorang yang mengasihi bangsa Israel dan tampaknya menaruh simpati pada agama Yahudi karena ia turut terlibat dalam pembangunan rumah ibadat di sana. Perwira ini juga seorang yang berbelas kasih, terlihat di mana ia menyayangi hambanya dan ingin sekali menyembuhkan hambanya yang sakit. Karena ia berpikir bahwa seorang rabi Yahudi kemungkinan tidak bersedia menolong seorang perwira Romawi, maka ia meminta tolong pada tua-tua Yahudi setempat itu untuk datang kepada Yesus dan memohonkan kesembuhan bagi hambanya itu. Hal yang manusiawi yang ternyata berlaku sejak zaman dulu adalah, kedudukan dan relasi seseorang di tengah kehidupan masyarakat dapat mempermudah sebuah pekerjaan. Kita lihat bagaimana akhirnya para tua-tua itu merekomendasikan kepada Yesus bahwa permohonan perwira itu layak untuk diperhatikan.

Bila Yesus kemudian datang memenuhi permintaan perwira itu, bukanlah karena jabatan dan kebaikan yang dibuat oleh perwira itu. Hamba dari perwira itu disembuhkan bukan karena Yesus membenarkan pendapat tua-tua Yahudi itu, melainkan karena Yesus ingin menunjukkan bahwa anugerah Allah dinyatakan dalam diri manusia terlepas dari apa saja yang telah diperbuatnya. Yesus menyatakan bahwa tidak layak kalau kita hanya mencintai mereka yang mencintai kita, sebesar apapun jasa yang telah diperbuatnya, sekaligus Yesus mengajak kita mencintai musuh (Mat. 5:43-44).

Cara perwira ini memperlakukan Yesus sama seperti ia memperlakukan atasannya. Ia sadar betul bahwa dirinya tidak layak dikunjungi oleh Yesus. Pernyataannya menunjukkan bahwa perwira ini percaya bahwa Yesus mempunyai kuasa dan otoritas yang jauh melampaui otoritas atasannya. Yesus mempunyai otoritas atas kehidupannya bahkan atas seluruh hidupnya sendiri, termasuk hamba-hamba yang berada di bawah pimpinannya. Sehingga ia merasa cukup apabila Yesus memerintahkan kesembuhan bagi hambanya. Inilah yang menjadi pusat pujian Yesus kepada perwira ini. Yesus jarang memuji, maka penting bagi kita memperhatikan pujian yang keluar dari mulut-Nya. Yesus membandingkan iman orang-orang Israel dengan iman si perwira kafir ini. Dan kita dituntut untuk belajar beriman seperti iman yang dimiliki oleh orang yang dianggap kafir ini.

Iman adalah tanggapan manusia terhadap kasih karunia Allah. Iman sejati senantiasa tunduk pada rencana Tuhan dan percaya pada belas kasih-Nya yang tidak terbatas. Kita semua dikasihi tanpa batas dan tanpa pamrih. Iman seharusnya terwujud dalam bentuk ketaatan saat menerima dan mensyukuri anugerah yang dicurahkan Allah kepada kita. Keselamatan adalah anugerah yang dinyatakan kepada kita yang percaya. Dan anugerah Allah itu tidak diberikan berdasarkan status, jabatan, kedudukan, kebaikan maupun kurban serta persembahan yang kita lakukan. Anugerah Allah hanya karunia belaka bagi kita yang sesungguhnya tidak layak ini. Namun dengan mensyukuri anugerah yang kita terima itu dapat memampukan kita hidup yang memancarkan kesaksian akan kemurahan Tuhan serta memuliakan Allah Bapa di sorga. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Penghapusan hukuman mati

Kita berdoa semoga hukuman mati yang melawan martabat manusia, secara resmi dapat dihapus di semua negara.

Ujud Gereja Indonesia: Menghindari ketergantungan pada gawai

Kita berdoa semoga dengan sadar kita semua menghindari ketergantungan pada gawai secara berlebihan.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s