Sukacita Memenuhi yang Sabar dan Teguh Hati!

Renungan Harian Misioner
Minggu Pekan Adven III, 11 Desember 2022
HARI MINGGU ADVEN III

Yes. 35:1-6a,10; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 5:7-10; Mat. 11:2-11

Sahabat misioner terkasih,

Kita memasuki Minggu Adven III, yang disebut Minggu Gaudete atau Minggu Sukacita. Antifon pembuka misa Minggu Adven III ini menyerukan ajakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat” (Flp. 4:4-5). Kita diajak bersukacita karena kehadiran (kelahiran) Tuhan semakin mendekat. Warta Sabda Tuhan pada misa hari ini penuh ajakan sukacita itu.

Bacaan I yang dikutip dari Kitab Yesaya menggambarkan kegembiraan itu demikian, “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga. Seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai! […] Kuatkanlah hatimu, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan membawa pembalasan dan ganjaran […] Kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” Umat yang dituju oleh seruan Kitab Yesaya ini sedang berada dalam kegelisahan dan ambang keputusasaan karena situasi hidup yang tidak menentu setelah pembuangan ke Sion. Oleh karena itu, umat diteguhkan dan disemangati dengan warta keadilan Tuhan yang akan segera datang dan kemuliaan Tuhan yang akan memancar di antara bangsa-bangsa. Dalam beragam kadar tingkatan kita pun tidak jarang berada dalam situasi gelisah, cemas, tak menentu, lungkrah, bahkan nyaris kehilangan harapan karena realitas hidup yang kita hadapi: pandemi Covid-19 merenggut orang-orang yang kita kasihi, pekerjaan yang selama ini mapan hilang begitu saja, bencana alam yang datang tak terduga mengancam keberlangsungan hidup kita, dan realitas-realitas pahit lain yang silih berganti menghampiri kita. Dalam situasi-situasi terpuruk seperti itu, marilah kita membiarkan diri disapa Tuhan, “Kuatkanlah hatimu, janganlah takut! Lihatlah Allahmu akan datang.”

Membiarkan diri disapa Tuhan berarti juga memelihara kesabaran dan keteguhan hati. Bacaan II yang dikutip dari Surat Rasul Yakobus mengajak kita untuk bersabar dan berteguh hati menanti kedatangan Tuhan, “Saudara-saudara, bersabarlah sampai kedatangan Tuhan […] kamu harus bersabar dan meneguhkan hatimu karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” Bersabar adalah salah satu keutamaan iman Kristen. Kita sabar karena yakin bahwa Tuhan sudah mendekat. Bersabar bukanlah sikap sekadar menahan-nahan diri, melainkan sikap aktif karena menyerahkan segalanya kepada Tuhan sebagai yang berhak bertindak sepenuhnya atas hidup kita.

Sikap sabar dan teguh hati itulah yang mendatangkan sukacita. Sukacita bukanlah sekadar rasa senang yang sebentar muncul, sebentar lenyap, yang mudah dipengaruhi oleh hal-hal fana. Sukacita merupakan situasi batin yang mantap dan damai karena Roh Allah.

Sahabat misioner terkasih,

Gambaran sukacita seperti itu tampak dalam pribadi Yohanes Pembaptis yang ditampilkan dalam Injil Minggu Adven III ini. Yohanes Pembaptis adalah orang besar. Besar, bukan karena kekuasaan atau kekayaan, melainkan karena hidup dan perannya dalam mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Besar, bukan karena keangkuhan atau kesombongan, tetapi karena kerendahan hatinya. Yohanes Pembaptis bersukacita menjadi kecil agar Tuhan semakin dimuliakan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30). Yohanes tokoh besar, bukan karena kesuksesan diri sendiri, melainkan karena menjadi penyiap jalan bagi kasih Tuhan. Ia rela mundur, supaya Yesus lebih besar dan diikuti oleh para muridnya. Yesus adalah orang yang dinanti-nantikannya, maka Yohanes meyakinkan dirinya dan murid-muridnya dengan bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Tepatlah Yesus kemudian memuji Yohanes, “Camkanlah, di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Ia sungguh orang besar karena ia lahir karena belas kasih Allah. Ia bekerja untuk kemuliaan Allah. Ia pun mati karena keyakinannya akan kebenaran.

Semoga dengan meneladan semangat dan nilai yang diperjuangkan Yohanes Pembaptis, kita pantas menyambut kelahiran Tuhan dalam perayaan Natal tahun ini. Kalau kita bekerja untuk kemuliaan Tuhan, kita juga boleh menerima sukacita, yakni rasa damai karena merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.***(NW)

(RD. M Nur Widipranoto – Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Sukarelawan dari organisasi yang tidak mencari keuntungan

Kita berdoa semoga organisasi-organisasi yang tidak mencari keuntungan yang berkomitmen pada perkembangan kemanusiaan dapat menemukan orang-orang yang berdedikasi terhadap kesejahteraan masyarakat dan tidak mengenal lelah mencari jalan untuk menjalin kerja sama internasional.

Ujud Gereja Indonesia: Memupuk sikap moderat

Kita berdoa, semoga Gereja membangun dan memupuk sikap moderat dan toleran bagi umatnya sendiri, sambil terus waspada terhadap bahaya fundamentalisme dan radikalisme baik yang ada di luar maupun di dalam Gereja sendiri.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s