Tunduk pada Kebajikan dan Keselamatan Sesama

Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa II, 18 Januari 2023
Pembukaan Pekan Doa Sedunia Untuk Persatuan Umat Kristiani

Ibr. 7:1-3,15-17; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 3:1-6

Salah satu pertanyaan yang paling fundamental bagi setiap manusia segala zaman: Apa yang menjadi arah dasar hidupmu? Kebajikan atau kejahatan? Keselamatan atau kebinasaan manusia?  Pertanyaan fundamental ini harus dijawab dengan setegas-tegasnya sebelum manusia memikirkan segala peraturan, sekalipun peraturan itu tampak suci dan tanpa cela. Sebab segala peraturan yang baik harus tunduk pada kebajikan dan keselamatan, bukan kejahatan dan kebinasaan.

Bacaan Injil hari ini mengungkapkan posisi Yesus berhadapan dengan pertanyaan fundamental tersebut. Dalam peristiwa penyembuhan orang yang mati sebelah tangannya, Yesus menghadirkan sebuah peran pemulihan dari Allah Pencipta, sebuah peran yang biasanya menunjuk pada Kebijaksanaan Allah. Tindakan Yesus yang pertama di sini adalah meminta orang yang mati sebelah tangannya untuk “berdiri” dan memintanya untuk berdiri di tengah-tengah jemaat. Orang yang mati sebelah tangannya, seperti seorang kusta, hidup terpisah dari komunitas orang yang sehat dan normal atau setidaknya menempatkannya hanya di pinggiran tempat tinggal komunitas tersebut. Orang cacat dipandang sebagai bukti adanya suatu dosa yang belum diakui di hadapan Allah (bdk. Mzm. 32:1-5). Tindakan Yesus di sini melawan tindakan yang biasanya dilakukan orang ketika berhadapan dengan orang yang fisiknya cacat, yakni menghindari orang yang cacat. Tindakan Yesus ini menjadi sebuah tindakan pemulihan fisik, sosial dan spiritual.

Perdebatan-perdebatan mengenai hari Sabat memperlihatkan bahwa Yesus tidak mempedulikan peraturan-peraturan tradisi. Yesus iba kepada orang-orang sakit dan menyembuhkan mereka, tanpa peduli akan harinya. Pertanyaan Yesus: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk. 3:4) merupakan sebuah pertanyaan mendasar mengenai kewajiban utama manusia. Pertanyaan Yesus mengingatkan kita pada prinsip kebutuhan yang telah dikemukakan di dalam perdebatan sebelumnya tentang Sabat. Bagi Yesus, memenuhi kebutuhan orang yang mati sebelah tangannya berarti berbuat baik, sedangkan tidak menolong orang itu berarti berbuat jahat.

Apa makna tindakan penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus pada hari Sabat bagi kita? Tindakan Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya menegaskan patokan yang jelas tentang apa yang harus kita lakukan, termasuk pada hari Sabat atau hari Tuhan, yaitu menolong orang lain dan berbuat baik. Beristirahat pada hari Sabat adalah cara untuk menyatakan hormat kepada Allah atas semua yang telah Dia lakukan bagi kita di dalam dan melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Penebus kita. Namun, “istirahat” seperti itu tidak membebaskan kita dari cinta kita kepada sesama. Jika kita benar-benar mencintai Tuhan di atas segalanya, maka cinta Tuhan akan melimpah menjadi cinta sesama juga. Sebagai orang yang mengimani Yesus, kita hendaknya melakukan apa saja demi kebaikan dan keselamatan sesama kita sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus.  Seluruh hidup Yesus terarah pada tujuan perutusan-Nya, yaitu membebaskan dan menyelamatkan manusia. Atas dasar tujuan perutusan itulah, Yesus tidak takut untuk hadir di tengah orang-orang yang suka mempersalahkan-Nya; Yesus menaruh perhatian dan berbelas kasih terhadap orang yang menderita; Ia tidak takut menantang arus yang diyakini-Nya tidak benar dan tidak takut menghadapi orang-orang yang berlawanan pendapat dengan-Nya. Yesus berusaha agar keadaan manusia normal dan sehat. Ia mengambil risiko demi menyelamatkan sesama.

Usaha untuk mengikuti arah dasar hidup yang ditetapkan Yesus tentu tidak gampang karena  kita akan dicap sebagai pemberontak, pelanggar tradisi dan penentang kuasa sebagaimana yang dialami oleh Yesus. Namun, sebagai pengikut Yesus, kita hendaknya tetap berjuang untuk menjalankan hidup kita sesuai dengan arah dasar yang telah ditetapkan dan diteladankan oleh Yesus, yaitu melakukan kebajikan dan mengusahakan keselamatan sesama. Tidak ada satu hari pun yang membebaskan kita dari kewajiban untuk berbuat baik.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen Universitas Katolik Weetebula, NTT)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal:Para pendidik – Kita berdoa untuk para pendidik, semoga mereka menjadi saksi yang dapat dipercaya, mengajarkan persaudaraan daripada kompetisi dan membantu mereka yang paling muda dan rentan.

Ujud Gereja Indonesia:Optimisme dan harapan – Kita berdoa, semoga tahun baru menjadi saat rahmat, yang mendorong kita untuk optimis, percaya dan berharap, bahwa Roh Tuhan akan menuntun dan membuka mata kita untuk bisa melihat kesempatan, peluang dan jalan keluar dalam pelbagai kesulitan, masalah dan tantangan yang harus kita hadapi.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s