Panggilan dan Semangat Misioner Menggema di Keuskupan Tanjung Selor

Karya Kepausan Indonesia mengadakan SOMA (School of Missionary Animators) di Paroki St. Petrus Sungai Kayan Mara 1 – Keuskupan Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Kegiatan yang digelar selama tiga hari (29 April s.d. 01 Mei 2023), dibawakan langsung oleh RD. M Nur Widipranoto (Dirnas Karya Kepausan Indonesia) didampingi oleh Antonius Turmudi (Sekretaris POSI – Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner). Tampak pula mendampingi tim, Sr. Juliva Motulo, DSY, Dirdios KKI Keuskupan Tanjung Selor. Kedatangan tim BN KKI dengan perahu kayu disambut meriah di tepi Sungai Kayan dengan prosesi adat suku Dayak dan tari-tarian.

Foto: Tim KKI dan rombongan tiba di lokasi kegiatan (atas) – Penyambutan dengan adat suku Dayak Kayan (bawah)

Paroki ini memiliki umat sebanyak 650 KK secara keseluruhan, namun hanya 116 KK yang berada di pusat paroki. Umat mayoritas adalah suku Dayak Kayan, hanya ada 4 KK dari suku NTT. Menurut RD. Bernardus Moi (Pastor Paroki) yang merupakan orang asli suku Dayak Agabak, hampir seluruh umat Dayak Kayan di parokinya memiliki hubungan kekerabatan dan mereka sangat menghayati persaudaraan.

Foto: sambutan perwakilan ketua ada kampung (atas)- Tim KKI bersama panitia dan umat (tengah) – bersama anak-anak (bawah)

Kegiatan dibuka oleh RP. Dominikus Pareta, OMI (Vikjen Keuskupan Tanjung Selor), dilanjutkan kata sambutan dari perwakilan ketua adat kampung. RD. Nur Widi dalam sambutannya menjelaskan tujuan kegiatan. SOMA adalah layanan yang diberikan kepada para animator SEKAMI untuk formasi metodologis mereka di tingkat teologis, spiritual, dan pastoral, sehingga mereka dapat memenuhi syarat untuk melayani anak-anak di bidang animasi, formasi, organisasi, dan kerja sama. Harapannya para animator dapat memiliki pemahaman yang benar tentang misi, membentuk semangat misioner, memperkuat komitmen serta membangun persekutuan misioner.

 Tujuan SOMA selaras dengan dua kutipan dari ensiklik Redemptoris Missio yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II. Pertama: “Tatkala Masa Seribu Tahun Ketiga Karya Penebusan semakin mendekat, Allah sedang mempersiapkan suatu musim semi yang agung bagi Kekristenan, dan kita sudah dapat melihat tanda-tandanya yang pertama” (RM, 86). Kedua: “Kami melihat sinar-sinar fajar pagi baru mulai menyingsing, yaitu fajar pagi dari abad misioner yang baru, yang akan menjadi siang terang-benderang yang menghasilkan panenan berlimpah-limpah, jika semua orang Kristen, dan para misionaris dan teristimewa Gereja-Gereja muda, menanggapi panggilan dan tantangan-tantangan dari zaman kita ini, dengan tulus hati dan dalam kekudusan” (RM, 92).

Foto: Dirnas KKI membawakan materi SOMA (atas) – para peserta aktif dalam kegiatan (bawah)

Peserta SOMA kurang lebih 150 orang berasal dari 14 paroki. Hanya 1 paroki yang letaknya paling jauh tidak hadir, yaitu Paroki St. Lukas Apau Kayan. Para peserta ada yang datang dari daerah yang jauh dikarenakan 15 paroki Keuskupan Tanjung Selor tersebar di wilayah yang cukup luas. Mereka diterima menginap di rumah-rumah umat selama kegiatan berlangsung. Peserta yang adalah para pendamping SEKAMI dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing menggunakan nama 5 Benua (Amerika, Afrika, Australia-Oceania, Asia dan Eropa). Materi- materi yang diberikan pada hari pertama, yaitu: Spiritualitas Animator Misioner dan Kreativitas Bina Iman Remaja (Gerak Lagu dalam Bina Iman Remaja). Kegiatan hari pertama ditutup dengan doa Taize bersama.

Minggu, 30 April 2023 bertepatan dengan Hari Panggilan Sedunia ke-60, kegiatan dibuka dengan doa pagi meditasi membumi serta outbond berupa games dan olahraga yang dipandu oleh tim SOMA Keuskupan Tanjung Selor. Sesi dilanjutkan dengan pemberian materi: Animasi dan Permainan dalam Bina Iman; Menyusun Bahan Bina Iman Remaja; Menyusun Bahan Bina Iman Remaja dan Presentasi (lanjutan). Bertepatan dengan kegiatan SOMA di aula, siang itu berlangsung pula kegiatan Bakti Sosial dengan menggunakan ruangan PAUD St. Theresia. Baksos ini diprakarsai oleh BP St. Monika Tanjung Selor, yang merupakan klinik milik Keuskupan Tanjung Selor, dijalankan oleh suster-suster dari tarekat OSF.

Foto: kegiatan Bakti Sosial yang diadakan paralel dengan kegiatan SOMA, merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-60

Sore harinya diadakan misa yang dipimpin oleh RD.  M Nur Widipranoto dengan RD. Bernadus Moi sebagai konselebran. Beberapa anak dan remaja SEKAMI memeriahkan perayaan Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-60 tersebut dengan mengenakan kostum imam dan biarawan/biarawati. Pada saat homili, diputar video persembahan dari tarekat biarawan/biarawati yang berkarya di Keuskupan Tanjung Selor, tak ketinggalan juga video dari para imam diosesan. Dirnas KKI pada momen itu memberikan harapan sekaligus doanya, “Semoga biarawan dan biarawati  KW (red: tiruan) ini ke depannya bisa menjadi pastor dan suster sungguhan.”

Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Malam Keakraban Bersama dimulai dengan pemberian kenang-kenangan pada tim BN KKI. Kemudan dilanjutkan dengan Pentas Seni Mini menampilkan kreativitas dari para peserta berupa gerak dan lagu Sekami, tari-tarian daerah serta drama singkat mengenai Minggu Panggilan.

Pada hari ketiga, hari terakhir, kegiatan dibuka dengan misa pagi. Sesi SOMA dilanjutkan dengan topik: Pemantapan Materi; Praktik Pendampingan Remaja dan Pembuatan Rencana Program T-SOM & Sosialisasi Pembuatan Program Pra-Jamnas & Post-Jamnas per Dekanat/Paroki Keuskupan Tanjung Selor. Akhirnya program SOMA ditutup dengan pemberian sertifikat dari Karya Kepausan Indonesia kepada para peserta.

 (Budi Ingelina – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

Sumber:
Novriyanti Sisiliana. T (Komsos Keuskupan Tanjung Selor)
Devi Glorya Angelin (KKI Keuskupan Tanjung Selor)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s