Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa IV, 03 Februari 2024
P. S. Blasius & S. Ansgarius
1Raj. 3:4-13; Mzm. 119:9,10,11, 12,13,14; Mrk. 6:30-34
Kalau selesai merenungkan makna mendalam dari Kesetiaan dalam Pengutusan mewartakan Kabar Gembira, maka selanjutnya di hari Sabtu sesudah Jumat Pertama, umat Allah diajak untuk mempersembahkan bakti dalam kesempatan yang sering disebut “HARI DOA” bagi para Imam. Sebenarnya, apa yang ingin kita lakukan pada hari Jumat Pertama: sesungguhnya kita diundang untuk memperingati Sahabat Kita, yaitu Hati Yesus yang Mengasihi kita semua. Oleh sebab itu, pada Sabtu berikutnya itu, kita dipanggil Gereja untuk bersama-sama mendoakan para imam, yaitu Utusan Khas dalam Gereja, agar Pelayanan Kasih Paguyuban Umat Beriman terlaksana dengan setia. Namun kita tahu juga, bahwa sejak dahulu sampai sekarang: tidak sedikit para Rasul, seperti para imam itu manusia biasa; yang bisa lemah dan berdosa. Kita ingat, bahwa Petrus berdosa. Yohanes juga pendosa. Dalam sejarah, di antara murid Kristus, banyak pendosa sehingga sering diperlukan pertemuan demi ‘pembenahan’, yang sudah dimulai sejak Perjanjian Baru, seperti nampak dalam Kisah para Rasul dan konsili-konsili pertama. Para sahabat terkasih, tradisi Gereja mengajak umat mendoakan pelayanan dan memohonkan ampun bagi para imam dan semua yang melayani dalam Pengutusan Ilahi. Marilah kita mendoakan utusan-utusan Tuhan yang memiliki kelemahan dan banyak dosa. Semoga dengan begitu, Rencana Allah untuk menyelamatkan terwujud.
Bacaan I: 1 Raj. 3:4-13 memperlihatkan hasrat seluruh umat untuk berdoa terus, agar para Utusan Allah demi kebaktian Umar kepada Allah itu, senantiasa melaksanakan pengutusan Allah. Kesetiaan itu dapat mendukung seluruh umat, agar senantiasa ada, yang menyediakan diri untuk juga mau melayani dalam tugas pengutusan. Kita tahu, betapa banyak hal yang dapat dilakukan dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru supaya Rencana Penyelamatan Allah senantiasa terwujud, karena ada saja para generasi kemudian yang mau mengambil bagian dalam Karya Allah.
Refleksi Kita: sejauh manakah kita senantiasa siap untuk diutus Allah?
Bacaan Injil: Mrk. 6:30-34 memperlihatkan dengan sangat bagus, bagaimana Yesus memberi teladan kepada para murid: sikap terbaik dalam menjadi rasul. Sesudah pada awal Yesus memberi tugas kepada murid, semua mencoba melaksanakan dengan setia, lalu melaporkan pelaksanaan pengutusan, Yesus mengajak semua berdoa. Artinya, para Murid Kristus, diajak sadar, bahwa asal, pelaksanaan dan muara pengutusan ada di Tangan Allah. Di sanalah kita diajak Gereja untuk mendoakan semua Rasul dalam Gereja: supaya hidup pribadi maupun pengutusan pewartaan Kabar Gembira selalu diwujudkan dalam persekutuan Keluarga Allah.
Refleksi Kita: sejauh manakah kita setia untuk mendoakan para rasul dalam pewartaan Kabar Gembira? Mari kita sering mendoakan mereka itu.
(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang sakit parah – Semoga mereka yang sakit parah berserta keluarga mereka, menerima perawatan dan pendampingan jasmani dan rohani yang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Pemilihan Umum – Semoga warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dianugerahi kebijaksanaan dan kejernihan hati untuk memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri yang mengutamakan kepentingan umum.
Amin
