Iman Berbuah Kebahagiaan

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Jumat Pekan III Adven, 21 Desember 2018
Kidung Agung. 2:8-14 atau Zefanya. 3:14-18a & Lukas. 1: 39-45

Lukas menghadirkan sejumlah figur penting di sekitar kisah kelahiran Yesus, yakni Zakharia-Elisabet, Yusuf-Maria Bunda Yesus, kemudian Simeon-Hanna. Mereka semua digambarkan sebagai orang yang setia, rendah hati, beriman teguh dan membuka diri terhadap rencana Allah. Mereka hanya mengandalkan Allah saja. Mereka adalah representasi dari hamba-hamba Yahweh yang setia menantikan pemenuhan janji keselamatan. Mereka adalah kaum miskin Yahweh atau anawim, yang tidak memiliki andalan lain selain Allah saja. Yang mereka pilih sebagai prinsip hidup adalah kesetiaan, kerendahan hati dan iman yang teguh.

Lukas hari ini menampilkan dua tokoh dari kelompok miskin Yahweh ini, yakni Maria dan Elisabet saudaranya. Kesamaan keduanya adalah sedang mengandung anak sulung masing-masing, yang hadir dalam kandungan mereka secara luar biasa. Elisabet yng mandul mengandung dalam usia tua. Maria juga mengandung putra sulungnya, yang juga hadir dalam kandungannya secara luar biasa. Kita tentu mengingat kata-kata Maria ketika malaikat memberikan berita bahwa dia akan mengandung, “Bagaimana hal itu akan terjadi sebab aku belum bersuami?” (Luk.1:34). Lagi-lagi, suatu pengalaman yang melampaui yang alamiah dan manusiawi. Mengandung di usia tua dan mengandung tanpa suami. Itulah keistimewaan kedua tokoh Injil hari ini.

Fakta yang melampaui hal alamiah dan manusiawi ini mau menegaskan bahwa intervensi Allah dalam kehidupan keduanya penuh dan utuh. Keduanya melahirkan Putera tanpa keterlibatan manusia, tepatnya lelaki. Allah mengambil inisiatif, mengerjakan hal luar biasa, yang hanya dapat dilakukan Allah saja. Itu berarti bahwa kedua perempuan ini adalah perempuan luar biasa. Apa keluar-biasaan mereka?

Jawabannya kita temukan dalam kalimat Elisabet, “Berbahagialah dia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Kalimat ini nyata kebenarannya dalam pengalaman Elisabet dan Maria. Lukas 1 : 7 mengatakan Elisabet mandul dan berusia tua; dan dalam ayat 34 ditulis kata-kata Maria: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Tetapi yang terjadi pada mereka melampaui keterbatasan manusiawi itu. Di hadapan keterbatasan itu mereka memiliki satu hal yang sama yakni IMAN.

Berkat iman itu, yang dikatakan Tuhan terjadi dalam hidup mereka. Kalimat Elisabet mengingatkan kita, kebahagiaan kita pun akan terjadi asal saja kita memiliki IMAN. “Berbahagialah dia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan Tuhan akan terlaksana.” Seberapa banyak kata-kata Tuhan menyapa kita dalam hidup kita? Kata-kata itu akan terlaksana asal saja kita memiliki IMAN dan terlaksananya kata-kata itu adalah kebahagiaan kita. Pada Elisabet dan Maria sudah terjadi “Iman berbuah kebahagiaan,” dan hal itu bukan mustahil bagi kita, asal kita juga memiliki IMAN. Iman berbuah kebahagiaan.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s