Paus pada madah Te Deum: ‘Yesus melepaskan kekuatan cinta’

Paus Fransiskus menutup tahun kalender dengan Ibadat Sore dan Te Deum (Kidung dalam liturgi Gereja Katolik), dengan mengatakan dalam kepenuhan waktu Allah mengutus Anak-Nya yang melepaskan kuasa cinta yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Paus Fransiskus menutup tahun kalender dengan Ibadat Sore, adorasi dan doa berkat Sakramen Mahakudus, serta madah Te Deum di Basilika Santo Petrus pada Senin malam. Dengan merenungkan bacaan singkat dari Ibadat Sore untuk Perayaan Maria, Bunda Allah, Paus Fransiskus memfokuskan pada frase “kepenuhan waktu” dan “untuk menebus.”

Kepenuhan waktu
Paus Fransiskus mulai dengan berkata bahwa Rasul Paulus menulis bahwa dalam “kepenuhan waktu” Allah mengutus Anak-Nya bukan hanya lahir dari seorang wanita tetapi juga dilahirkan di bawah Hukum Musa. “Bagaimana ini bisa menjadi tanda ‘kepenuhan waktu’?” Tanya Paus Fransiskus. Meskipun Dia mulai dengan tidak tampak dan tidak berarti, hanya butuh tiga puluh tahun sebelum Yesus “melepaskan kuasa yang belum pernah terdengar, yang masih bertahan dan akan bertahan dalam semua sejarah. Kekuatan ini disebut Cinta. Adalah cinta yang memberikan kepenuhan untuk segalanya, bahkan pada waktu,” kata Paus. Di dalam Yesus, Allah memusatkan semua cinta-Nya.

Dilahirkan untuk menebus
Yesus dilahirkan untuk menyelesaikan misi yang diberikan kepada-Nya oleh Bapa-Nya: untuk menebus. Untuk “menebus”, Paus Fransiskus menjelaskan, “adalah membebaskan dari kondisi perbudakan dan mengembalikan kebebasan, martabat dan kebebasan yang pantas bagi anak-anak.” Dari “perbudakan kuno terhadap dosa,” hati manusia dibebaskan dan martabat kita dipulihkan, katanya.

Perbudakan modern
Paus Fransiskus kemudian berhenti untuk merenungkan kondisi tunawisma yang dihadapi oleh setidaknya sepuluh ribu orang di Roma. Dia menyebut kondisi mereka sebagai bentuk perbudakan “tidak layak bagi pribadi manusia.” Yesus juga “dilahirkan dalam kondisi yang sama, bukan karena kebetulan atau ketidaksengajaan,” kata Paus, “tetapi untuk menunjukkan kasih Allah bagi yang rendah dan miskin.”

Persalinan Gereja
Paus Fransiskus mengatakan dia ingin mendorong model persalinan untuk Pesta Persalinan Ilahi Maria. Ini adalah model Gereja yang mendekat kepada orang-orang dalam realitas hidup mereka, daripada sekadar melihat dan menawarkan bantuan dengan cara tertentu. Mengakui bahwa melalui seorang wanita kita menerima “kepenuhan kemanusiaan kita, ‘pengangkatan sebagai anak-anak’.” Kerendahan diri Yesus membangkitkan kita, kerendahan hati-Nya membuat kita hebat, kelemahan-Nya membuat kita kuat. Karena Yesus menjadi pelayan, “kita telah menerima kebebasan,” kata Paus.

Cinta adalah nama-Nya
Sebagai penutup, Paus Fransiskus berkata,
“Nama apa yang bisa diberikan untuk semua ini jika bukan Cinta? Cinta Bapa dan Putra dan Roh Kudus, kepada siapa Gereja Ibu kudus malam ini melambungkan madah pujian dan ucapan syukurnya.”

31 Desember 2018
Oleh: Sr. Bernadette Mary Reis, fsp
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s