Kebencian adalah Nafas Setan

Homili Paus: Hidup hanya memiliki nilai ketika diberikan
Dalam homilinya pada misa Jumat pagi, Paus Fransiskus menggambarkan pelajaran yang didapatkan dari kemartiran Yohanes Pembaptis dan tokoh-tokoh lain yang terlibat di dalamnya.

Menurut Yesus, kemartiran Yohanes, lelaki terhebat yang lahir dari seorang wanita, adalah seorang saksi besar akan kenyataan bahwa hidup hanya memiliki nilai ketika diberikan kepada orang lain “dalam cinta, kebenaran, dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga.” Paus Fransiskus mengutarakan hal itu dalam homilinya pada misa, 8 Februari, di Casa Santa Marta.

Paus merenungkan kisah Injil tentang kemartiran Yohanes dengan menganalisis karakter Raja Herodes yang “korup dan ragu-ragu,” Herodias, istri saudaranya, yang “hanya tahu bagaimana membenci,” Salome, “penari yang sia-sia,” dan sang nabi yang dipenggal kepalanya.

Pembaptis
Paus mengatakan bahwa Yohanes tahu dia harus memperkecil dan meniadakan dirinya sendiri sampai mati karena Yesus harus bertumbuh. Pendahulu Kristus itu menyangkal bahwa dia adalah Mesias, sebaliknya ia menunjukkan Yesus kepada murid-murid-Nya dan secara perlahan ia menghilang sampai ia dihapus dan dipenggal di sel penjara yang gelap dan sepi.

Paus menggambarkan kemartiran sebagai sebuah pelayanan dan misteri yang memerlukan karunia kehidupan yang sangat besar. Dia menemui sebuah akhir yang kejam yang disebabkan oleh “perilaku manusia yang merenggut nyawa seorang Kristiani, seseorang yang jujur dan menjadikannya seorang martir,” kata Paus.

Herodes yang Bergetar
Paus mengatakan bahwa, pada awalnya, Herodes “percaya bahwa Yohanes adalah seorang nabi,” mendengarkannya dengan sukarela dan melindunginya sampai batas tertentu tetapi menahannya di penjara. Dia bimbang karena Yohanes mencela dia untuk dosa perzinahan.

Raja mendengar suara Tuhan yang memintanya untuk mengubah hidupnya, tetapi dia tidak sanggup karena dia korup dan sangat sulit untuk keluar dari perilaku korup tersebut. Herodes tidak dapat keluar dari kerumitan ketika dia mencoba membuat “keseimbangan diplomatik” antara kehidupan zinahnya dan banyak ketidakadilan dan kesadaran akan kekudusan nabi yang dia penggal kepalanya.

Kebencian Herodias
Injil mengatakan bahwa Herodias “membenci” Yohanes karena dia berbicara dengan jelas. Paus Fransiskus menggambarkan kebencian sebagai “nafas setan,” dikatakan hal tersebut sangat kuat, mampu melakukan segalanya kecuali mencintai. ‘Cinta’ iblis adalah kebencian dan Herodias memiliki roh setan kebencian yang menghancurkan.

Salome yang sia-sia
Putri Herodias adalah penari yang baik dan menyenangkan para pengunjung dan Herodes menjanjikan kepada gadis itu segala yang dia minta, sama seperti setan menggoda Yesus di padang pasir.
Paus Fransiskus menjelaskan bahwa di balik karakter-karakter ini ada setan, yang menabur kebencian pada wanita itu, kesombongan pada gadis itu dan perilaku korup pada raja.

Pembaptis
Perintis jalan Kristus, “lelaki terhebat yang lahir dari seorang wanita,” seperti yang Yesus gambarkan, berakhir sendirian, di sel penjara yang gelap, korban tingkah penari yang sia-sia, kebencian dari seorang wanita jahat dan perilaku korup dari seorang raja yang bimbang. Yohanes, kata Paus, adalah seorang martir, yang membiarkan dirinya mengecil untuk memberikan jalan kepada Mesias.
Yohanes mati di sel, dalam anonimitas, “seperti banyak martir kita,” kata Bapa Suci, menambahkan ini “merupakan seorang saksi besar, orang hebat, orang suci yang hebat.”

Memberikan hidup, membuka hati
“Kehidupan,” Paus menjelaskan, “memiliki nilai hanya ketika diberikan, diberikan dalam cinta, kebenaran, diberikan kepada orang lain, di dalam kehidupan sehari-hari, di dalam keluarga.”
Jika seseorang menyelamatkan hidupnya untuk dirinya sendiri, menjaganya sama seperti raja dalam perilaku korupnya atau sang wanita dengan kebenciannya, atau anak perempuan dengan kesombongannya, sedikit mirip seperti remaja, tanpa sadar, hidup menjadi layu dan mati, menjadi tidak berguna.
Paus mengakhiri dengan mendesak semua orang untuk memikirkan 4 karakter dalam Injil tersebut dan untuk membuka hati kita agar Tuhan dapat berbicara kepada kita tentang hal ini.

08 Februari 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s