Permohonan Pengampunan dalam Jejak Tradisi Para Paus

Paus dengan komunitas Roma: Permohonan akan pengampunan dalam jejak tradisi
Mea culpa (pengakuan bersalah) dari Paus Fransiskus di Rumania merupakan yang terbaru dari seri panjang yang telah dilakukan Paus-Paus sebelumnya.

Kata-kata yang diucapkan oleh Paus Fransiskus pada hari terakhir dalam perjalanannya ke Rumania – memohon pengampunan dari komunitas Roma atas diskriminasi yang diderita selama perjalanan sejarah – hal ini sesuai dengan tradisi yang saat ini telah sepenuhnya ditegakkan di Gereja Katolik semenjak lima puluh tahun yang lalu. “Sejarah memberi tahu kita bahwa orang Kristen juga, termasuk Katolik, tidak asing dengan kejahatan seperti itu,” kata Paus, menjelaskan permohonannya untuk pengampunan.

Semenjak bulan September 1965, Paus Paulus VI telah menunjukkan perhatiannya terhadap komunitas ini ketika ia merayakan Misa di Kamp Romanian Internasional, Pomezia. Pada kesempatan itu, Paus mengatakan, “Anda berada di dalam Gereja; bukan pada batas, tetapi dalam arti tertentu Anda berada di pusat, Anda berada di dalam hati Gereja. Anda berada di jantung Gereja karena Anda sendirian.” Pada waktu itu, Paus mengenang pelanggaran, diskriminasi, dan penganiayaan yang diderita oleh orang-orang Romawi, meskipun dia sendiri tidak meminta pengampunan; tetap saja, dia adalah Paus yang meresmikan sebuah masa untuk meminta pengampunan dari umat beragama di luar Kristiani atas beberapa sejarah gelap di masa lalu.

Merupakan tanggung jawab Paus Yohanes Paulus II untuk menujukan sebuah permintaan khusus akan pengampunan, yang dia lakukan selama perayaan pertobatan untuk Yobel tahun 2000: “Marilah kita berdoa agar ketika merenungkan Yesus, Tuhan dan Sumber Damai kita, umat Kristiani akan dapat bertobat dari kata-kata dan sikap yang lahir dari kesombongan, kebencian, keinginan untuk mendominasi orang lain, permusuhan terhadap anggota agama lain dan terhadap kelompok-kelompok terlemah dalam masyarakat, seperti imigran dan perantau”.

Benediktus XVI juga menyatakan kepedulian dan simpatinya bagi komunitas-komunitas ini ketika ia menyambut perwakilan dari berbagai kelompok etnis Roma dan masyarakat keliling lainnya: “Sayangnya selama berabad-abad Anda telah merasakan kepahitan dari ketiadaan keramahan dan kadang-kadang, penganiayaan… Hati nurani orang Eropa tidak bisa melupakannya penderitaan yang begitu banyak! Semoga bangsamu tidak pernah lagi menjadi obyek pelecehan, penolakan, dan penghinaan! ”

Sekarang penerusnya, Paus Fransiskus, melanjutkan jalan yang telah ditelusuri oleh Paus-Paus sebelumnya, telah secara eksplisit membarui permintaan pengampunan; karena Paus sebelumnya telah meminta pengampunan dari penduduk asli di Chiapas pada tahun 2016; atau seperti yang Paus lakukan pada bulan Agustus 2018, dalam menanggapi skandal pelecehan anak di bawah umur, menulis dalam Surat kepada Umat Allah, “Dengan rasa malu dan pertobatan, kami mengakui sebagai komunitas gerejawi bahwa kami tidak berada di tempat di mana kami seharusnya berada, bahwa kami tidak bertindak tepat waktu, menyadari besarnya dan beratnya kerusakan yang terjadi pada begitu banyak kehidupan.”

Jalan mereka yang meminta pengampunan tidak selalu mudah atau bebas dari rasa sakit. Paus Yohanes Paulus II, secara sistematis mengikuti jejak Konsili dan Paulus VI, mengundang berbagai kritik dari dalam Gereja. Dalam masa kepausannya, Paus Polandia itu telah membuat banyak permintaan pengampunan, dan telah mengunjungi kembali berbagai peristiwa di masa lalu. Dia berbicara tentang Perang Salib; perasaan puas diri tertentu dari pihak Katolik dalam menghadapi kediktatoran abad ke-20; perpecahan di antara gereja-gereja; penganiayaan perempuan; pengadilan Galileo dan Inkuisisi; penganiayaan terhadap orang Yahudi; perang agama; perilaku orang Kristen terhadap penduduk asli Amerika dan penduduk asli Afrika.

Bagi orang Kristen, meminta pengampunan, dan mengakui diri kita sebagai orang berdosa yang terus menerus membutuhkan penyucian, adalah normal – atau memang seharusnya demikian. Dan bahkan jika kesalahan selalu bersifat pribadi, dan tetap demikian, di setiap masa Gereja berusaha untuk memahami dan menghayati pesan Injil dengan lebih setia, secara bertahap menjadi lebih sadar akan langkah-langkah palsu dan kesalahan yang telah dibuat. Ada beberapa alasan terhadap keberatan paling umum yang diajukan untuk tidak meminta pengampunan atas peristiwa-peristiwa di masa lalu: orang tidak dapat menilai orang-orang yang telah pergi sebelum kita dalam terang kepekaan modern. Tetapi bahkan di masa lampau pun dimungkinkan untuk memahami – seperti yang dipahami oleh beberapa nabi, yang seringkali tidak pernah terdengar – bahwa Yesus selalu berada di pihak para korban, dan tidak pernah di pihak para pelaku; di pihak teraniaya, dan tidak pernah di pihak penganiaya. Dan bahkan ketika Rasul Petrus memotong telinga hamba imam besar untuk membela-Nya, Yesus memerintahkannya untuk meletakkan kembali pedang itu di sarungnya.

02 Juni 2019
Sumber: Vatican news

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s