Mengampuni Membebaskan Jiwa

Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XVII, 3 Agustus 2019
Peringatan S. Stefanus I
Im. 25:1,8-17; Mzm. 67:2-3,5,7-8; Mat. 14:1-12

Kitab Imamat berkisah mengenai tahun Yobel. “Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya” (Im. 25:10). Tahun Yobel adalah tahun kebebasan, di mana Allah memerintahkan setiap orang Israel untuk pulang ke tanah milik dan kembali kepada kaum masing-masing. Allah membebaskan setiap orang, termasuk para budak dan kaum tawanan.

Allah begitu mencintai manusia. Dalam perintah-Nya bahkan Ia memberikan sebuah tahun khusus untuk pembebasan setiap manusia, tanpa pandang bulu. Allah ingin setiap manusia dapat hidup bebas dan bahagia. Dan dua kali Allah berpesan, “Janganlah kalian merugikan satu sama lain” (Im. 25:14.17). Dalam perdamaianlah kebahagiaan itu akan tercapai. Manusia bukan hanya harus berdamai dengan Allah tetapi juga dengan satu sama lain. Manusia harus saling menghargai satu sama lain, jangan saling merugikan. Itu pesan Allah.

Kebebasan mempunyai dua bentuk. Pertama, kebebasan fisik. Di zaman sekarang ini, kita melihat seruan yang sama yang terus-menerus dilakukan oleh Bapa Paus Fransiskus kepada dunia. Bapa Paus memiliki hati yang begitu besar untuk para migran, yang karena situasi terdesak (perang, ancaman, dll) harus mengungsi ke berbagai negara, di mana mereka ditolak dan akhirnya nasib mereka terlunta-lunta. Juga kepada para tawanan perang, yang sering diperlakukan tidak adil, sehingga mengalami penganiayaan, bahkan mati dalam penjara. Kita diminta untuk mau mendoakan, juga menunjukkan kepedulian serta belas kasih yang nyata sebagaimana Yesus selalu memihak kepada orang-orang yang lemah dan membutuhkan.

Kedua, kebebasan batin. Seseorang yang hidup bebas secara fisik namun tidak memiliki kebebasan batin, tidak dapat mengalami kepenuhan hidup. Bagaikan tawanan yang tinggal di balik jeruji, tak mampu melangkah maju, atau memiliki inisiatif menyambut kehidupan dengan sukacita. Tak sedikit orang yang berada dalam situasi seperti ini. Mengapa? Karena ada sesuatu yang memenjarakannya. Mungkin karena ia belum mau beranjak dari masa lalu, pengalaman masa kecil yang menyakitkan, sebuah peristiwa traumatis, atau juga karena ia membiarkan orang lain menawan pikiran, batin dan kehendaknya. Rasanya hidup segan, tapi mati tak mau. Ia bukan hanya tak mampu berdamai dengan orang lain tetapi juga dengan dirinya sendiri.

Bagi kita yang beruntung diberikan anugerah kehidupan dengan kebebasan fisik, seharusnya kita menyambut kehidupan itu dengan rasa syukur. Kita harus berupaya membuka jeruji penjara batin kita. Tetapi yang terutama harus kita sadari terlebih dahulu bahwa pintu jeruji hanya bisa dibuka dari dalam. Harus ada kesadaran, keinginan dan kerelaan hati. Juga tentunya keberanian disertai rahmat Allah. Mengapa kita sering terpenjara dalam batin? Karena kita tak mudah melupakan. Kita sering tak rela mengampuni. Kunci penjara batin kita adalah sebuah “pengampunan”. Pengampunan yang akan membawa pembebasan.

Allah mencintai setiap manusia, yang tak pernah sempurna dan selalu penuh dengan kesalahan dan dosa. Menyadari kedosaan kita sendiri, ketidaklayakan kita di hadapan-Nya, namun cinta-Nya masih juga tercurah dalam kehidupan kita, mari kita buka penjara batin kita dengan pengampunan yang telah lebih dahulu diberikan Allah kepada kita.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keluarga sebagai sekolah pengembangan kemanusiaan: Semoga dengan hidup doa dan cintanya, keluarga-keluarga semakin mampu menjadi sekolah tempat kemanusiaan yang sejati dihidupi dan dikembangkan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan antarumat beragama: Semoga dalam menjalin kerukunan hidup antarumat beragama, umat Katolik dimampukan untuk melihat kebaikan dan ketulusan dari kelompok umat beragama lain. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami dalam iman dan kesetiaan berbangsa mengobarkan nasionalisme penuh hikmat dan kebijaksanaan di kampung maupun di tempat-tempat aktivitas dalam masyarakat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s