Jangan Iri Hati Seperti Iblis!

Homili Paus: Iblis menghancurkan karena dia iri hati
Dalam homilinya selama Misa di Casa Santa Marta pada hari Selasa, Paus Fransiskus merenungkan Kitab Kebijaksanaan dan menggambarkan bagaimana iblis berusaha menghancurkan umat manusia karena cemburu Tuhan menjadi manusia.

Iblis ada, menabur kebencian dan kematian di seluruh dunia karena dia iri hati Anak Allah menjadi manusia. Ini adalah inti dari homili Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta pada hari Selasa pagi.

Paus merenungkan Bacaan Pertama dari Kitab Kebijaksanaan, dan ayat pertama khususnya, yang dimulai: “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan ia dijadikan-Nya menurut gambar hakekat-Nya sendiri”. Ayat yang sama kemudian menambahkan: “Tetapi karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia”.

Paus Fransiskus menjelaskan bagaimana “kecemburuan dari malaikat sombong yang menolak menerima inkarnasi” menuntunnya “untuk menghancurkan umat manusia”. Itulah bagaimana “kecemburuan, iri hati, persaingan” memasuki hati kita, padahal sebenarnya “kita bisa hidup damai dalam persaudaraan.” Di sinilah “perjuangan dan keinginan untuk menghancurkan” dimulai.

Gosip menghancurkan orang lain
Paus Fransiskus menggambarkan sebuah dialog imajiner dengan umat beriman: “Tetapi Bapa, saya tidak menghancurkan siapa pun”. “Tidak? Dan bagaimana dengan gosipmu? Ketika kamu berbicara buruk tentang seseorang, kamu menghancurkannya”. Paus mengutip kata-kata Rasul Yakobus: “Lidah adalah senjata yang menakutkan”. “Gosip membunuh. Fitnah membunuh”.

Kita berperang di dalam diri kita sendiri, dan kita telah melakukan itu sejak dari awal. “Kain dan Habel adalah saudara, tetapi kecemburuan dan iri hati yang satu menghancurkan yang lainnya”. Beginilah cara kerjanya, tontonlah berita malam mengenai: “perang, kehancuran, orang-orang sekarat penyakit yang disebabkan oleh perang”.

Peringatan Tembok Berlin
Paus Fransiskus mengenang peringatan hancurnya Tembok Berlin, kengerian perang, Nazi, dan mereka yang “menyiksa siapa pun yang bukan dari ‘ras murni'”.

Di balik semua ini ada seseorang yang menggerakkan kita untuk melakukan hal-hal ini. Itulah yang kita sebut pencobaan. Ketika kita pergi ke ruang pengakuan dosa, kita berkata kepada imam: “Pastor, aku tergoda dengan ini, itu, dan yang lainnya …”. Seseorang menyentuh hatimu, menuntunmu ke jalan yang salah. Seseorang menabur kehancuran dan kebencian di hati kita. Hari ini kita harus mengatakannya dengan jelas, ada banyak yang menabur kebencian di dunia, yang menghancurkan.

Paus mengatakan dia sering memiliki kesan bahwa berita itu adalah kisah kebencian dan kehancuran, perang dan serangan teroris. “Begitu banyak anak meninggal karena kelaparan dan penyakit” karena mereka tidak memiliki air, tidak ada pendidikan, atau perawatan kesehatan. Sebaliknya, “uang yang dibutuhkan untuk hal-hal ini malah digunakan untuk pembuatan senjata pemusnah”. Inilah yang terjadi di dunia, yang juga terjadi “di dalam jiwaku dan di dalam jiwamu”, karena iri hati dan kebencian iblis. “Dan mengapa iblis iri?” Ia iri “dengan sifat manusia kita”.

Apa kamu tahu kenapa? Karena Anak Allah menjadi salah satu dari kita. Iblis tidak bisa menerimanya.

Lumpur politik
Itulah sebabnya iblis menghancurkan, dan itu adalah “akar kecemburuan iblis, akar kejahatan kita, pencobaan kita, itu adalah akar dari perang, kelaparan, semua musibah di dunia”. Menghancurkan dan menabur kebencian bukanlah merupakan norma, bahkan dalam politik pun tidak. “Tetapi beberapa orang tetap melakukannya”. Seringkali seorang politisi tergoda untuk melempar lumpur ke orang lain, “untuk menghancurkan yang lain”, menggunakan secara bersamaan kebohongan dan kebenaran. Ini bukan persaingan politik yang sehat dan bersih “untuk kebaikan negara”. Politisi-politisi semacam itu menggunakan penghinaan untuk mengurangi lawan, mereka takut lawan mungkin terlihat lebih kompeten.

Saya ingin kita semua memikirkan hal ini: mengapa ada begitu banyak kebencian di dunia saat ini? Dalam keluarga yang tidak dapat didamaikan, di lingkungan kita, di tempat kerja, dalam politik… Iblis adalah penabur kebencian: “Kematian memasuki dunia melalui kecemburuan Iblis”. Ada yang mengatakan: tetapi Bapa, iblis tidak ada, itu adalah kejahatan, kejahatan yang sangat halus… Tetapi Firman Allah jelas. Iblis marah kepada Yesus. Bacalah Injil: hal itu sudah jelas, meskipun kita memiliki iman ataupun tidak.

Paus Fransiskus mengakhiri dengan berdoa agar Tuhan “membuat hati kita bertumbuh dalam iman kepada Yesus Kristus, Putra-Nya”, yang mengambil sifat manusiawi kita, “untuk bertarung dengan daging kita dan menjadi pemenang dalam daging kita” atas iblis dan kejahatan. Semoga iman ini “memberi kita kekuatan untuk tidak memainkan permainan sebagai orang yang iri, pembohong besar, penabur kebencian”.

12 November 2019
Oleh: Alessandro Di Bussolo
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s