Misionaris: Abdi Kerajaan Allah

Renungan Harian Misioner
Rabu Biasa XXXII, 13 November 2019
Peringatan S. Stanislaus Kostka, S. Didakus, S. Fransiska Xaveria Cabrini
Keb. 6:1-11; Mzm. 82:3-4,6-7; Luk. 17:11-19

Para sahabat misioner yang terkasih, shalom! Tugas-perutusan kita sebagai misionaris, meminjam ungkapan penulis Kitab Kebijaksanaan adalah sebagai “abdi Kerajaan Allah” (Keb. 6:4). Dan tentang bagaimana mengabdi Kerajaan Allah itu, Firman Tuhan menghadirkan perjumpaan Yesus dengan 10 orang kusta dalam Injil hari ini. Kita dalami pesan-pesan Firman ini!

1. Misionaris: abdi Kerajaan Allah!
Panggilan sebagai “abdi Kerajaan Allah,” ini disematkan oleh penulis Kitab Kebijaksanaan untuk para raja yang diangkat untuk memerintah dan memimpin Umat Allah. Penulis menegaskan bahwa kekuasaan dan pemerintahan datang dari Tuhan (Keb. 6:3). Oleh karena itu, siapapun yang dipercaya oleh Allah untuk melaksanakan kekuasaan dan pemerintahan ini, dia terikat kewajiban untuk mendengarkan dan melaksanakan kuasa dan kehendak Allah (Keb. 6:1). Dan oleh karena kekuasaan dan pemerintahan ini adalah milik Allah, maka pelaksana kekuasaan dan pemerintahan ini juga harus tunduk kepada Allah, dan tidak mengikuti kemauannya sendiri. Akan ada pengadilan bagi pemegang kuasa dan pemerintahan yang menyimpang dari kehendak Allah (Keb. 6:4-5). Bagi pelaksana kekuasaan dan pemerintahan ini, apabila mereka berlaku bijaksana dan menuruti kehendak Allah, maka eksekusi kekuasaan dan pemerintahan ini juga bisa menjadi sarana penyucian diri dan hidup mereka (Keb. 6:9-11).

Seperti halnya para raja yang menjadi pelaksana kekuasaan dan pemerintahan atas umat Allah ini, demikianlah juga para misionaris. Mereka diutus untuk menghadirkan Yesus Kristus dan Allah Bapa-Nya kepada umat manusia (Mat. 10:40; Mrk. 9:37). Allah dan kuasa-Nya yang hadir di dalam tugas-perutusan para misionaris ini, dengan sendirinya akan menghalau kekuasaan jahat yang membelenggu manusia (Mrk. 6:7). Takluknya roh-roh jahat ini menjadi penanda hadirnya Kerajaan Allah dan bekerjanya kuasa Allah di tengah umat manusia (Mat. 21:28). Demikianlah menghadirkan Allah dan kerajaan-Nya dan kuasa-Nya yang menyembuhkan dan membebaskan itu adalah tugas-perutusan kita sebagai misionaris!

2. Isolasi & Reunifikasi
Menghadirkan kerajaan serta kuasa Roh Allah yang memulihkan dan menyembuhkan itu membuka lembaran baru bagi umat manusia untuk boleh mengalami secara nyata hadirnya Allah di dalam kehidupan umat manusia. Tuhan kita Yesus Kristus dalam Injil-Nya hari ini membuka mata kita tentang kuasa Allah itu, ketika Dia menyembuhkan sepuluh orang kusta. Efek dari penyakit kusta itu adalah isolasi mutlak atas seseorang terhadap sesama manusia lainnya. Penderita kusta harus dijauhkan dari komunitas kaum beriman baik secara sosial maupun secara religius. Penderita kusta harus tinggal jauh dari komunitas, tidak boleh ambil-bagian dalam kegiatan ibadah keagamaan maupun kegiatan sosial lainnya. Mereka terisolasi secara sempurna!

Yesus yang dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem menjumpai 10 orang kusta di perbatasan Samaria dan Galilea (Luk. 17:11-12). Karena isolasi tersebut di atas, maka ketika meminta pertolongan Yesus, kesepuluh penderita kusta itu berdiri agak jauh, (Luk. 17:12a). Permintaan tolong para penderita kusta ini membuka peluang bagi Yesus untuk menghadirkan Kerajaan dan Kuasa Penyembuhan Allah kepada orang-orang ini.

Ketika meminta orang-orang ini pergi menghadap imam, sesungguhnya Yesus sudah mulai mematahkan isolasi yang membelenggu kesepuluh orang ini. Isolasi sosial dan religius dipatahkan dengan peneguhan dari seorang imam, bahwa penderita kusta ini telah sembuh dan boleh kembali ke komunitas dan ikut ambil-bagian dalam seluruh kegiatan di masyarakat ini. Terbebasnya ke-10 orang ini dari kusta dan kembalinya mereka ke dalam masyarakat menunjukkan bahwa seorang misionaris dapat menjadi sarana yang mempersatukan kembali orang-orang dengan para mantan penderita kusta. Kita menyebutnya re-unifikasi atau penyatuan kembali.

Ternyata dari ke-10 orang itu, ada seorang yang kembali lagi kepada Yesus untuk mengucap syukur dan berterima kasih (Luk. 17:15-16). Pada perjumpaan pertama dengan Yesus, isolasi sosial dan religius yang mengganjal mereka dalam pergaulan dengan komunitas dipatahkan. Mereka dipersatukan kembali dengan sesama jemaat kaum beriman secara sosial, religius maupun liturgis. Namun masih ada satu lagi isolasi yang harus dipatahkan juga, yaitu hubungan dengan Allah. Untuk reunifikasi di wilayah yang satu ini, hanya mantan penderita kusta yang adalah orang Samaria itu yang mendapatkannya. Kesembilan yang lain yang Yahudi, tidak memperolehnya. Mereka hanya mendapatkan reunifikasi sosial, religius dan liturgis minus reunifikasi dengan Allah. Sedang yang Samaria itu mendapatkan reunifikasi sosial, religius dan liturgis, juga hubungannya dengan Allah dipulihkan. Ada reunifikasi spiritual, ketika si Samaria itu berbahagia mendengarkan kata-kata penyembuhan ini, berdirilah dan pulanglah, imanmu telah menyelamatkan dikau (Luk. 17:19). Demikianlah kepada umat manusia yang dibelenggu oleh berbagai bentuk isolasi ini, para misionaris (saudara dan saya) diutus untuk memecahkan belenggu isolasi ini, dan membawa kembali manusia kepada persekutuan dengan sesama manusia dan dengan Tuhan Allah sendiri. Reunifikasi manusia dengan sesamanya dan dengan Tuhan Allahnya ini merupakan buah yang dapat dihasilkan oleh seorang misionaris, sebagai abdi Kerajaan Allah.

Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami pembawa penyembuhan dan persekutuan antara manusia dengan diri-Mu. Amin. (RMG)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s