Zakheus: Koruptor pun Mesti Bertobat

Renungan Harian Misioner
Selasa Biasa XXXIII, 19 November 2019
2Mak. 6:18-31; Mzm. 3:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10

Dalam masyarakat Yahudi, pemungut cukai seringkali disamakan dengan para pendosa publik. Mereka bernasib sama, yakni menerima sanksi sosial berupa pengucilan serta cap-cap atau stigma negatif lainnya. Mereka tidak layak ambil bagian dalam kehidupan sosial-keagamaan. Pada bagian awal Injil hari ini, figur Zakheus dilukiskan sebagai “kepala pemungut cukai yang amat kaya”.

Kemudian disusul dengan lukisan mengenai niat baik Zakheus: “berusaha melihat orang apakah Yesus itu”. Niat baik itu tidak mudah diwujudkan karena dia memiliki halangan fisik (ia berbadan pendek), juga halangan sosial (orang banyak). Jadi secara fisik dan secara sosial, tidak mungkin mewujudkan niatnya. Akses bagi Zakheus tertutup. Berhentikah Zakheus? Putus asakah dia? Tidak. Hambatan fisik dan sosial diatasinya. Ia berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara. Dia berada di tempat lebih tinggi. Dia mengatasi keterbatasan fisik dan menyingkirkan hambatan sosial. Zakheus berhasil.

Apakah dengan demikian dia melihat Yesus? Lukas melukiskan tokoh Zakheus sampai pada upaya optimal “memanjat pohon ara” untuk melihat Yesus. Lukas lantas mengganti subyek, bukan lagi Zakheus, tetapi Yesus. Bukan Zakheus yang melihat Yesus. Subyek berganti: Yesus melihat ke atas dan berkata kepada Zakheus, “Zakheus segeralah turun. Hari ini Aku mau menumpang di rumahmu”. Yesus masuk ke rumah Zakheus. Zakheus tidak lagi hanya “melihat” Yesus, tetapi malah menjamu Yesus di rumahnya.

Berbeda dengan pemimpin agama masa itu, yang menyingkirkan orang berdosa seperti Zakheus, Yesus memilih masuk ke rumah Zakheus. Kehendak Zakheus “ingin melihat Yesus”, dibalas dengan kelimpahan: “Yesus masuk ke rumahnya”. Sedikit saja usaha dan upaya manusia yang keluar dari hati yang tulus, diganjari Allah dengan berlimpah. Zakheus tidak dikucilkan, dia dirangkul. Yesus mengambil langkah kontroversial, yang mengundang kritik, “Ia menumpang di rumah orang berdosa”. Keputusan Yesus untuk menumpang di rumah Zakaheus, sejalan dengan keyakinan serta pendirian-Nya karena “bukan orang sehat yang membutuhkan tabib tetapi orang sakit” (Luk.5:31). Yesus adalah pribadi yang menghadirkan kerahiman Allah bagi para pendosa yang bertobat.

Yesus memulihkan martabat Zakheus. Dia punya hak atas kerahiman Allah, karena dia adalah “anak Abraham”. Kehadiran kerahiman Allah di rumahnya, ditanggapi Zakheus dengan laku tobat radikal: “Tuhan separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat”. Zakheus kembali menjadi anak Abraham yang menjalankan kasih dengan berbagi harta kepada mereka yang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kekayaan yang dia peroleh karena korupsi.

Kisah Zakheus adalah kisah inspiratif. Para koruptor pun anak Abraham, asal mereka kembali memulihkan status dan martabatnya, dengan berbagi (membagikan separuh kekayaan kepada orang miskin) dan berlaku adil (dengan mengembalikan harta korupsi empat kali lipat). Setiap penjahat korupsi selalu mesti meneladani Zakheus karena kerahiman Allah ditawarkan dan dianugerahkan kepada siapa saja, yang ingin bertobat dengan menerima Yesus dalam hidupnya. Koruptor pun mesti bertobat. Suatu akhir yang penuh sukacita, karena Zakheus kembali menjadi “anak Abraham” dan bersukacita seperti Eliazer yang menyambut akhir hidup dengan sukacita, karena selama hidupnya telah melakukan kebajikan.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s