Misionaris: Berbagi kehadiran Juruselamat seperti Bunda Maria

Renungan Harian Misioner
Kamis Biasa XXXIII, 21 November 2019
Perayaan Maria Dipersembahkan Kepada Allah
1Mak. 2:15-29; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Luk. 19:41-44

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom! Menjelang akhir Bulan November & akhir Tahun Liturgi C/1 ini, kita diundang untuk berkaca pada Bunda kita, Bunda Maria. Pada hari ini: 21 November, kita menyatukan diri dengan semua kaum beriman dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik, merayakan Peringatan Santa Maria dipersembahkan kepada Allah. Satu arah hidup dibentangkan kepada kita, yaitu arah hidup yang membawa kita menuju Allah. Namun kehidupan di dunia ini menyajikan juga suatu arah hidup yang lain, yang bertentangan dengan arah yang pertama tersebut, yakni arah hidup yang menjauh dari Tuhan. Bagaimana peran seorang misionaris ketika dirinya masuk ke dalam medan misi dengan situasi hidup yang bertentangan arah seperti ini? Mari kita ikuti arahan Firman Tuhan!

1. Pilihan hidup Matatias dan keluarganya
Perjumpaan kita dengan Tuhan dibuka dengan warta tentang pilihan hidup dan kesaksian iman Matatias sekeluarga dari kota Modein. Mereka hidup pada masa pemerintahan raja Antiokus Epifanes. Pada masa ini orang Israel mengadakan perjanjian persahabatan dengan bangsa-bangsa lain, dan meninggalkan Allah nenek-moyang mereka, termasuk tradisi budaya dan keagamaan mereka (1Mak. 1:11-15; 41-43). Maka, Umat Allah yang seharusnya berziarah menurut hukum dan ketentuan Allah untuk menyatu dengan-Nya, berbalik dengan menjauhi Tuhan Allah serta hukum-hukum dan ketentuan-Nya. Dengan demikian, dua arah hidup yang saling bertentangan muncul di dalam kehidupan umat, yaitu arah hidup yang taat-setia menyatu dengan Allah berhadapan dengan arah hidup yang melawan dan menjauh dari Allah!

Arah hidup yang taat-setia menyatu dengan Allah diwakili oleh institusi keagamaan, dan cara hidup yang melawan dan menjauh dari Allah diwakili oleh institusi kerajaan, khususnya pada masa raja Antiokus dan kemudian pada masa raja Antiokus Epifanes, puteranya. Dalam situasi seperti ini cara hidup yang taat-setia kepada hukum-hukum dan ketentuan Allah akan muncul sebagai perlawanan atau bahkan penistaan terhadap raja (2Mak. 7:24a; 30-31).

Sekalipun nampaknya sulit untuk menghayati arah hidup yang taat-setia menyatu dengan Allah, tetapi selalu ada orang-orang beriman, yang sungguh tidak ingin lepas dari hubungan dengan Allah. Mereka bahkan rela kehilangan nyawa untuk mempertahankan hubungan dengan Tuhan Allah ini (1Mak.1:62-64). Matatias dan keluarganya yang kita jumpai dalam Bacaan Pertama hari ini termasuk orang-orang beriman yang taat-setia ini (1Mak.2:19-22).

2. Nasib kota Yerusalem dan penduduknya
Tegangan antara arah hidup yang melawan dan menjauhi Allah dengan arah hidup yang taat-setia kepada Allah dan hukum-hukum-Nya ini berlangsung terus hingga ke zaman Yesus dan bahkan sampai juga ke zaman kita. Demikian ketika memasuki kota Yerusalem, Yesus menangisi kota itu. Oleh karena mengikuti arah hidup yang melawan Allah dan menjauhi Dia, maka mereka (a) tidak mampu memahami apa yang sesungguhnya perlu untuk hidup dengan damai-sejahtera (Luk. 19:42), dan lebih jauh lagi (b) orang-orang Yerusalem ini menjadi ignorant alias tidak mampu lagi untuk mengetahui saat di mana Allah datang mengunjungi mereka (Luk. 19:44c). Arah hidup yang melawan Allah dan menjauhi hukum-hukum dan ketentuan Allah adalah cara hidup yang bisa saja secara fisik-jasmaniah nampaknya baik dan aman, namun secara rohaniah justru membawa manusia kepada kebinasaan. Sebaliknya, arah hidup yang taat-setia kepada Allah adalah arah hidup yang secara fisik-jasmaniah nampaknya berat dan penuh derita, namun secara rohani justru mengantar manusia kepada kehidupan di dalam Allah. Kehidupan abadi di dalam Tuhan inilah harapan yang dipegang oleh Matatias dan keluarganya, sehingga mereka rela menyerah nyawa untuk ini! Harapan yang membawa peneguhan iman ini juga ditegaskan kembali oleh Pemazmur, yang mengumandangkan warta ini kepada kita, “Siapa yang jujur jalannya, akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah” (Mzm. 50:23).

3. Bunda Maria & Para Misionaris
Ke dalam situasi hidup dengan arah yang bertentangan tersebut di atas, apa yang bisa dilakukan oleh seorang misionaris Kerajaan Allah?

Dari Firman Tuhan yang disampaikan sebagai pedoman untuk ziarah hidup kita hari ini, khususnya melalui tokoh-tokoh iman seperti Matatias dan keluarganya itu, satu hal dapat kita tegaskan, yakni pentingnya menjaga dan merawat serta mempertahankan hubungan dengan Allah dalam situasi apapun. Meminjam spiritualitas Perayaan Hari Peringatan Santa Maria hari ini, kita dapat menambahkan dasar mengapa kita perlu mempertahankan hubungan dengan Allah itu hingga titik-darah yang terakhir, ialah karena seperti Bunda Maria, hidup kitapun sudah dipersembahkan kepada Allah, lewat Sakramen Baptis yang telah menjadikan kita sebagai putera dan puteri Allah.

Berbeda jauh dengan penduduk kota Yerusalem, yang tidak mengetahui saat di mana Allah melawati mereka (Luk. 19:44c), Bunda Maria tahu dan membuka hatinya ketika Allah melalui malaikat Gabriel datang kepadanya dan meminta kesediaannya untuk menjadi Bunda Tuhan. Di hadapan Tuhan, Maria menyerahkan dirinya sebagai seorang hamba, untuk melakukan kehendak Allah (Luk. 1:38).

Selanjutnya, misi pertama yang dilakukan Bunda Maria adalah mengunjungi Elisabeth saudaranya. Maria harus menempuh perjalanan sejauh 90 mil dari rumahnya di Nasareth menuju Hebron untuk menjumpai Elisabeth. Di sana Maria berbagi kegembiraan sebagai seorang “ibu Tuhan, dengan berbagi kehadiran Allah, Sang Juruselamat yang ada di dalam dirinya” (Luk. 1:43-45).

Demikian, di dalam situasi hidup yang bisa saja diwarnai oleh pertentangan arah hidup dan permusuhan antar orang-orang yang memilih cara hidup tersebut, ada 2 hal yang dapat dapat dilakukan oleh seorang misionaris: Pertama, seperti Matatias dan keluarganya, seorang misionaris haruslah seorang yang taat-setia menyatu dengan Tuhan. Dalam situasi apapun, Allah adalah sandaran dan andalannya! Kedua, seperti Bunda Maria, seorang misionaris adalah seorang pembagi kehadiran Allah dengan aneka kuasa yang mengalir dari persekutuannya dengan Allah tersebut. Dan karena itu, seperti Bunda Maria, seorang misionaris dalam arti sesungguhnya, haruslah menjadi tempat Allah tinggal di dalamnya. Seorang misionaris haruslah seseorang yang “mengandung Allah di dalam hidupnya,” sehingga dapat berbagi kehadiran Allah di dalam perjumpaannya dengan manusia, persis seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria kepada Elisabeth sekeluarga (Luk. 1:39-45).

Bunda Maria, doakanlah kami anak-anakmu, supaya kamipun mampu berbagi kehadiran Juruselamat kita Yesus Kristus kepada Elisabeth-Elisabeth yang kami jumpai dalam hidup kami. Amin. (RMG)

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dialog dan Rekonsiliasi di Timur Tengah: Semoga semangat berdialog, bekerjasama dan rekonsiliasi tumbuh di wilayah Timur Tengah, di mana beragam komunitas agama dapat saling membagikan hidup dalam kebersamaan mereka. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Doa para lansia: Semoga para lansia tetap mampu memaknai hidupnya dan menjadi teladan karena mau berdoa dan terus belajar berdoa bagi kebutuhan Gereja dan Masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami semakin menghayati Kristus sebagai Raja mereka serta mengikuti jejak-Nya bertindak bijaksana dalam mewartakan Kabar Gembira dan mewujudkan Kerajaan Allah. Kami mohon…

Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s