Dalam Misi Kita adalah Pelayan Bukan Manajer

Paus kepada Para Uskup di Thailand: Roh Kudus adalah protagonis misi
Paus Fransiskus berpidato di hadapan para Uskup Thailand dan Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) di Shrine of Beato Nicholas Bunkerd Kitbamrung di Bangkok.

Paus memulai pidatonya kepada para Uskup dengan menempatkan topik perjumpaan mereka di bawah “tatapan berjaga-jaga” dari Beato Nicholas Bunkerd, “agar teladannya dapat mengilhami kita dengan semangat besar untuk evangelisasi di semua Gereja lokal di Asia.”

Beato Nicholas Bunkerd Kitbamrung
Beato Nicholas diutus sebagai seorang imam misionaris ke Thailand utara pada tahun 1930 di mana ia melatih para seminaris dan bekerja untuk membawa umat Katolik yang telah murtad kembali kepada iman. Pada zaman sentimen anti-Kristen selama Perang Dunia II, ia ditangkap karena tindakan “antipatriotik” dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Dia kemudian melanjutkan pekerjaan misionarisnya di sana, membaptis 68 tahanan lainnya. Dia akhirnya meninggal karena TBC di rumah sakit penjara pada tahun 1944 pada usia 49.

Hari Jadi ke-50 FABC
Paus Fransiskus mencatat bahwa tahun 2020 akan menandai peringatan ke lima puluh pendirian Federasi Konferensi Waligereja Asia. “Ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengunjungi kembali ‘tempat-tempat suci’ tersebut di mana akar-akar misionaris yang meninggalkan jejak mereka di tanah-tanah tersebut dilestarikan”, dan “untuk menyambut dengan parrhesia (kebebasan berbicara) sebuah masa depan yang harus Anda sendiri ciptakan dan kembangkan.” Dalam hal ini, “baik Gereja maupun masyarakat di Asia akan mendapat manfaat dari penjangkauan injili yang dibarui dan dibagikan.”

Sebuah Benua multikultural dan multiagama
Paus Fransiskus menggambarkan Asia sebagai “benua multikultural dan multi-agama” di mana kemajuan teknologi yang cepat dapat membuka peluang-peluang besar, “namun juga dapat menghasilkan pertumbuhan konsumerisme dan materialisme”. Paus mencantumkan bidang-bidang khusus yang menjadi perhatian: “momok narkoba dan perdagangan manusia”, perawatan kepada para migran dan pengungsi, eksploitasi yang dialami banyak pekerja, “serta ketimpangan ekonomi dan sosial antara kaya dan miskin.”

Kenangan para misionaris pertama
Paus Fransiskus mengenang para misionaris pertama: “keberanian, kegembiraan, dan stamina yang luar biasa dapat membantu kita melihat situasi dan misi kita saat ini dari perspektif yang jauh lebih luas dan lebih transformatif”. Kenangan itu membebaskan kita dari keyakinan bahwa “masa lalu lebih baik untuk proklamasi Injil.” Itu juga membantu kita “untuk tidak berlindung dalam diskusi tanpa hasil yang akhirnya hanya membuat kita berbalik pada diri kita sendiri, melumpuhkan segala tindakan”.

Kuasa Roh Kudus
Paus melanjutkan, mengingatkan para uskup bahwa Roh Kudus “yang datang lebih dulu dari para misionaris dan tetap tinggal bersama mereka.” Kekuatan Roh Kudus mendukung banyak misionaris “untuk tidak mengabaikan tanah, orang, budaya atau situasi apa pun. Mereka berani dan tegas karena mereka tahu Injil adalah hadiah untuk dibagikan kepada dan untuk semua orang.” Misi, berarti menumbuhkan indera penciuman: “Misi menuntut perhatian ayah dan ibu, karena domba hanya hilang ketika gembala menyerah untuk menemukan yang hilang itu, dan bukan sebelumnya. “

Gereja adalah saksi panggilan
Paus Fransiskus berkata kita perlu membiarkan diri kita “diubah” oleh Injil: dimurnikan oleh Tuhan, Gereja menjadi “saksi melalui panggilan… tanpa takut turun ke jalan dan berhadapan muka dengan kehidupan orang-orang yang dipercayakan untuk dilayaninya. “Paus mengatakan pada para Uskup, yang merupakan minoritas di banyak negara mereka, bahwa kita dapat belajar dari mereka: mereka tidak membiarkan diri mereka “dirusak oleh inferioritas kompleks”, atau “keluhan karena tidak diberikan pengakuan.”

Misi adalah hasrat bagi Kristus dan umat-Nya
Kita bukanlah orang yang bertanggung jawab atas misi. Roh Kudus adalah protagonis sejati. “Kita telah diubah oleh Roh untuk kemudian mentransformasikannya di mana pun kita berada.” Misi adalah “hasrat bagi Yesus Kristus dan hasrat bagi umat-Nya”.

Para pelayan bukan para manajer
“Kita juga adalah bagian dari orang-orang ini, kita dipilih untuk menjadi pelayan, bukan tuan atau manajer.” Ini berarti “kita harus menemani mereka yang kita layani dengan kesabaran dan kebaikan, mendengarkan mereka, menghargai martabat mereka, selalu mempromosikan dan menghargai inisiatif kerasulan mereka. “Paus mengingatkan para Uskup banyak tanah mereka diinjili oleh umat awam yang berbicara dalam “dialek rakyat mereka, sebuah praktik sederhana dan langsung dari inkulturasi, bukan secara teoritis maupun ideologis, melainkan buah dari semangat mereka untuk membagikan Kristus.”

Uskup dan imam mereka
Paus mendorong para Uskup untuk selalu membuka pintu bagi para imam mereka. “Tetangga terdekat uskup adalah imam. Beradalah dekat dengan para imam Anda, dengarkan mereka dan berusahalah untuk menemani mereka dalam setiap situasi, terutama ketika Anda melihat bahwa mereka berkecil hati atau apatis, yang merupakan godaan setan terburuk. Jangan hadir sebagai hakim tetapi sebagai seorang bapa, bukan sebagai manajer yang mengerahkan mereka, tetapi sebagai kakak yang sejati.”

Menatap ke masa depan
Paus Fransiskus mengakhiri pidatonya kepada para Uskup mengakui banyak masalah yang harus mereka hadapi dalam komunitas mereka. “Mari kita menatap ke masa depan dalam kepastian bahwa kita tidak melakukan perjalanan ini sendirian”: “Tuhan ada di sana, menunggu kita, dan mengundang kita untuk mengenali Dia terutama dalam momen pemecahan roti.”

22 November 2019
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s