Orang-Orang Majus adalah Teladan Orang yang Sudi Menyembah Allah

Homili Paus Fransikus – 6 Januari 2010 : Hari Raya Penampakan Tuhan

Bacaan Ekaristi : Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a,5-6; Mat. 1:1-12.

Dalam Injil (Mat 2:1-12), orang-orang Majus mengawali dengan menyatakan alasan mengapa mereka datang : “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (ayat 2). Penyembahan adalah akhir dan tujuan dari perjalanan mereka. Memang, ketika mereka tiba di Betlehem, “mereka melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia” (ayat 11). Begitu kita kehilangan indra penyembahan, kehidupan kristiani kita, yang merupakan sebuah perjalanan menuju Tuhan, bukan menuju diri kita sendiri, kehilangan arah. Injil memperingatkan kita tentang resiko ini, karena selain orang-orang Majus tak seorang pun yang sudi menyembah.

Pertama-tama, ada Raja Herodes, yang menggunakan kata menyembah, tetapi hanya untuk mengelabui. Ia meminta orang-orang Majus untuk memberitahunya di mana anak itu dapat ditemukan, “supaya aku pun datang menyembah Dia” (ayat 8). Faktanya, Herodes hanya menyembah dirinya sendiri; itulah sebabnya ia ingin membebaskan dirinya dari Anak itu melalui kebohongan. Apa yang diajarkan hal ini kepada kita? Ajarannya, ketika kita tidak menyembah Allah, kita akhirnya menyembah diri kita sendiri. Demikian juga, kehidupan kristiani, ketika kehidupan tersebut gagal menyembah Tuhan, dapat menjadi cara yang halus untuk menegaskan diri dan kemampuan kita sendiri. Inilah resiko yang besar : kita mempergunakan Allah ketimbang melayani-Nya. Berapa kali kita telah merancukan kepentingan Injil dengan kepentingan kita sendiri? Berapa kali kita menyelubungi perkara keagamaan dengan hal-hal yang kita rasakan nyaman? Berapa kali kita merancukan kuasa Allah, yakni untuk melayani orang lain, dengan kuasa dunia ini, yakni untuk melayani diri kita sendiri!

Dalam Injil, orang-orang lain selain Herodes juga tidak sudi menyembah : mereka adalah para imam kepala dan para ahli Taurat. Mereka memberitahu Herodes dengan sangat teliti di mana Mesias akan dilahirkan : di Betlehem di tanah Yudea (bdk. ayat 5). Mereka tahu nubuat tersebut dan bisa mengutipnya dengan tepat. Mereka tahu ke mana harus pergi, tetapi mereka tidak pergi ke sana. Di sini kita juga bisa mengambil pelajaran. Dalam kehidupan kristiani, tidaklah cukup hanya memiliki pengetahuan : jika kita tidak keluar dari diri kita sendiri, jika kita tidak berjumpa orang lain dan menyembah, kita tidak bisa tidak mengenal Allah. Teologi dan kemujaraban pastoral tidak berarti apa-apa jika kita tidak bersujud; jika kita tidak bersujud seperti orang-orang Majus, yang tidak hanya berpengetahuan luas tentang merencanakan sebuah perjalanan, tetapi juga mampu berangkat dan sujud menyembah. Begitu kita menyembah, kita menyadari bahwa iman bukan sekadar seperangkat ajaran yang bagus, tetapi suatu hubungan dengan Pribadi yang hidup yang memanggil kita untuk mengasihi-Nya. Kita datang untuk melihat Yesus apa adanya ketika kita berjumpa langsung dengan-Nya. Melalui penyembahan, kita menemukan bahwa kehidupan kristiani adalah sebuah kisah cinta dengan Allah, di mana apa yang benar-benar penting bukanlah berbagai gagasan baik kita tetapi kemampuan kita untuk menjadikan-Nya pusat dari cinta kita, seperti yang perbuat para kekasih dengan orang-orang yang mereka cintai. Menjadi inilah seharusnya Gereja, seorang penyembah yang mencintai Yesus, mempelainya.

Ketika kita mengawali Tahun Baru, semoga kita menemukan hal baru bahwa iman menuntut penyembahan. Jika kita sudi bersujud di hadapan Yesus, kita akan mengatasi godaan untuk berangkat di jalan kita sendiri. Karena penyembahan mencakup ber-“eksodus” dari bentuk perbudakan terbesar : perbudakan terhadap diri sendiri. Menyembah berarti menempatkan Tuhan di pusat, bukan diri kita sendiri. Menyembah berarti memberikan berbagai perkara tempat yang selayaknya, dan memberikan tempat pertama bagi Allah. Menyembah berarti membuat rencana Allah lebih penting ketimbang waktu pribadi kita, hak kita, dan ruang kita. Menyembah adalah menerima ajaran Kitab Suci : “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu” (Mat 4:10). Allahmu : menyembah berarti menyadari bahwa kamu dan Allah saling memiliki satu sama lain. Itu berarti bisa berbicara dengannya secara bebas dan intim. Menyembah berarti membawa kehidupan kita kepada-Nya dan memperkenankan-Nya memasuki ke kehidupan kita. Menyembah berarti memperkenankan penghiburan-Nya turun ke bumi. Menyembah berarti menemukan bahwa, untuk berdoa, cukuplah mengatakan: “Tuhanku dan Allahku!”, dan memperkenankan diri kita diliputi oleh kasih-Nya yang lembut.

Menyembah berarti pergi kepada Yesus tanpa daftar tuntutan, tetapi dengan satu permintaan saja : tinggal bersama-Nya. Menyembah berkenaan dengan menemukan bahwa sukacita dan kedamaian meningkat seiring dengan pujian dan ucapan syukur. Dalam penyembahan, kita memperkenankan Yesus menyembuhkan dan mengubah diri kita. Dalam penyembahan, kita memungkinkan Tuhan mengubah diri kita dengan kasih-Nya, menyalakan cahaya di tengah kegelapan kita, menganugerahkan kita kekuatan dalam kelemahan dan keberanian di tengah pencobaan. Menyembah berarti berkonsentrasi pada apa yang esensial : membebaskan diri dari hal-hal yang tidak berguna serta kecanduan yang membius hati dan mengacaukan pikiran. Dalam penyembahan, kita belajar untuk menolak apa yang seharusnya tidak disembah : ilah uang, ilah konsumerisme, ilah kesenangan, ilah kesuksesan, ilah diri. Menyembah berarti bersujud di hadapan Yang Mahatinggi dan menemukan di hadapan-Nya bahwa keagungan hidup tidak berupa memiliki, tetapi mengasihi. Menyembah berarti mengakui bahwa kita semua adalah saudara dan saudari di hadapan misteri kasih yang menjembatani setiap jarak : menyembah adalah berjumpa kebaikan pada sumbernya; menyembah adalah menemukan dalam Allah yang dekat keberanian untuk mendekati sesama. Menyembah berarti hening di hadapan Sabda ilahi, dan belajar menggunakan kata-kata yang tidak melukai tetapi menghibur.

Menyembah adalah tindakan cinta yang mengubah kehidupan kita. Menyembah adalah melakukan apa yang dilakukan orang-orang Majus. Membawa emas kepada Tuhan dan mengatakan kepada-Nya bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada diri-Nya. Mempersembahkan kepada-Nya kemenyan dan mengatakan kepada-Nya bahwa hanya dalam persatuan dengan-Nya kehidupan kita dapat terangkat ke surga. Menghadirkan-Nya dengan mur, balsam untuk orang-orang yang memar dan terluka, dan berjanji kepada-Nya bahwa kita akan membantu sesama kita yang terpinggirkan dan menderita, di mana Ia sendiri hadir.

Saudara dan saudari yang terkasih, hari ini kita masing-masing dapat bertanya, ”Apakah aku seorang kristiani yang menyembah?” Banyak umat kristiani berdoa tetapi mereka tidak menyembah. Marilah kita mengajukan pada diri kita pertanyaan ini : Apakah kita menemukan waktu untuk menyembah dalam jadwal harian kita dan apakah kita menyediakan ruang untuk menyembah dalam komunitas kita? Terserah kita, sebagai Gereja, untuk mengamalkan kata-kata yang kita doakan dalam Mazmur hari ini : “Segenap bangsa di muka bumi akan menyembah-Mu, ya Tuhan”. Dalam penyembahan, kita juga akan menemukan, seperti orang-orang Majus, makna perjalanan kita. Dan seperti orang-orang Majus, kita juga akan “sangat bersukacita” (Mat 2:10).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s