Lakukan Hal-Hal Kecil dengan Cinta yang Besar

Renungan Harian Misioner
Jumat, 10 Januari 2020
P. S. Gregorius X, S. Agatho
1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Luk. 5:12-16

Dalam sebuah peristiwa yang terjadi di Lapangan Santo Petrus, Roma, seperti biasa Paus Fransiskus memberikan salam khasnya kepada para peziarah dan ia berhenti selama beberapa menit untuk menyapa, bahkan ia memeluk seorang pria dengan penyakit yang langka. Momen ini seketika membuat para peziarah dan orang-orang yang melihat foto peristiwa itu secara online memuji belas kasih dan kebaikan Paus Fransiskus. Tak hanya memeluk, Paus juga mendoakan serta mencium pria dengan kondisi kulit yang tertutup bisul itu. Diketahui bahwa, orang tersebut menderita penyakit genetik langka yang tidak menular yaitu penyakit neurofibromatosis. Namun meskipun penyakit tersebut sebenarnya tidak menular, pria itu sering menjadi korban diskriminasi diakibatkan oleh penampilannya. Penyakit neurofibromatosis ini bisa menyebabkan rasa sakit yang hebat dan kelumpuhan, gangguan penglihatan, tuli, keterbelakangan mental, migren, serta juga kanker. Lalu mengapa peristiwa Bapa Paus ini menjadi buah bibir di kalangan banyak orang? Sederhana saja, karena hanya sedikit orang yang mau melakukan hal seperti itu dan biasanya sesuatu yang jarang dilakukan manusia kemudian akan dianggap sebagai peristiwa yang luar biasa. Peristiwa di atas sebenarnya bukanlah seperti ditemukannya bakat yang langka dari orang-orang tertentu atau adanya kejadian fenomenal, melainkan peristiwa tersebut menjadi istimewa hanya karena hanya sedikit orang yang mau melakukannya.

Ketika membaca berita di atas tentang kebaikan yang penuh belas kasih dari Paus Fransiskus dan dalam peristiwa mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus kepada yang sakit kusta, saya dan mungkin juga termasuk anda menjadi takjub serta dalam hati memuji tindakan tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa ketika berhadapan dengan situasi yang sama kita tidak mampu berbuat hal yang sama dan hanya berhenti sampai pada tahap memuji tindakan yang orang lain lakukan? Adakah sesuatu yang menghalangi kita? Mungkinkah itu adalah ketakutan kita yang membuat kita ingin melindungi diri sendiri, berpikir bahwa penyakit itu menular dan merupakan ancaman? Ataukah mungkin ini terkait dengan ketidakpedulian kita, yang hanya sampai sebatas merasa kasihan/iba melihat penderitaan orang lain, sekaligus merasa beruntung, “bersyukur kepada Tuhan, saya tidak mengalami hal yang demikian”. Sungguh ironis kan bahwa ada pula orang yang bersyukur dalam hatinya bahwa dia tidak mengalami kondisi penderitaan yang serupa dengan orang lain dan bahwa apa yang dialami oleh sesamanya manusia itu adalah nasib tidak beruntung yang memang harus mereka jalani.

Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita, bagaimana Yesus tidak takut menghampiri si kusta bahkan mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah orang itu. Kesembuhan sesungguhnya yang dialami oleh si penderita kusta adalah perasaan diterima, dihargai dalam kodrat kemanusiaannya; akhirnya ada yang mau menerima dirinya apa adanya. Seperti halnya Santa Teresa dari Kalkuta berkata, penyakit yang terberat saat ini bukanlah kanker atau penyakit mematikan lainnya, melainkan perasaan tidak diinginkan, dijauhi dan ditinggalkan. Kita mungkin tidak bisa berbuat sama seperti Santo Fransiskus dari Asisi dan Bunda Teresa yang bersedia merawat orang-orang kusta serta mengambil mereka di persimpangan-persimpangan jalan. Sebab, tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Namun, “setiap dari kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar” (Bunda Teresa).

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

Photo link: Vatican News

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Mempromosikan perdamaian dunia: Semoga umat Kristiani, para penganut agama-agama lain, dan semua orang yang berkehendak baik mau mempromosikan perdamaian dan keadilan di dunia ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Membangun solidaritas: Semoga demi solidaritas nyata terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, keluarga-keluarga Katolik mau menentukan porsi makan secukupnya supaya tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan seluruh umat di Keuskupan kami kepada Roh Kasih-Mu, agar semakin mengimani Allah Bapa, yang Maha Adil dengan mewujudkan keadilan sosial. Kami mohon…

Amin

2 thoughts on “Lakukan Hal-Hal Kecil dengan Cinta yang Besar

Leave a Reply to Renaldus Sanjaya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s