Misionaris yang Terbunuh di Tahun 2019

Kota Vatikan (Agenzia Fides) – Tahun 2019 menjadi Tahun Luar Biasa bagi Gereja Katolik, karena peringatan 100 tahun dikeluarkannya surat Apostolik Maximum Illud. Hampir seluruh Gereja Universal merayakan dengan berbagai kegiatan misioner, melalui doa, katekese, refleksi secara teologis dan biblis, amal kasih, kongres misi, dan sebagainya. Hal ini semua merupakan himbauan dari Paus Fransiskus dalam merayakan Bulan Misi Luar Biasa, 100 tahun Maximum Illud.

Dengan adanya berbagai kegiatan misioner, hal ini akan memberikan kesegaran baru bagi wajah Gereja di seluruh dunia, membangkitkan semangat dan komitmen misioner bagi seluruh umat beriman. Harapannya, dengan ini seluruh umat beriman mampu menjadi saksi cinta kasih Allah di mana pun mereka berada. Dalam surat yang ditujukan kepada Majelis Umum Serikat Kepausan Misioner pada tanggal 3 Juni 2017, Paus Fransiskus menunjukkan “kesaksian” misionaris harus menjadi poin penting dalam kehidupan Kristiani. Kesaksian menjadi salah satu dari empat dimensi yang harus dipromosikan dalam perayaan 100 tahun Maximum Illud.

Setelah waktu khusus yang dihidupi oleh seluruh umat Katolik dipelbagai penjuru, saat ini menjadi sebuah kesempatan untuk menemukan kembali tokoh-tokoh, saksi iman Gereja-gereja lokal yang menghabiskan hidup mereka untuk Injil dalam konteks dan situasi yang paling beragam. Agenzia Fides melanjutkan layanannya untuk mengumpulkan informasi terkait para misionaris yang terbunuh selama tahun 2019. Gereja menggunakan istilah “misionaris” untuk semua yang dibaptis, sadar bahwa “berdasarkan baptisan yang diterima, setiap anggota Umat Allah telah menjadi murid misionaris. Setiap orang yang dibaptis, apa pun fungsinya di Gereja dan tingkat pendidikan imannya, adalah subjek aktif evangelisasi “(EG 120).

Agensia Fides, telah mendata seluruh misionaris yang terbunuh selama tahun 2019. Mereka semua telah menjadi saksi iman akan kebenaraan Injil. Mereka adalah saksi-saksi iman, mereka telah terlibat dalam kehidupan Gereja dan mengorbankan hidupnya untuk pewartaan Injil, disiksa dan dibunuh demi mempertahankan iman kepada Kristus.  Menurut data yang dikumpulkan, tahun 2019 ada 29 misionaris terbunuh di dunia. 18 Imam, 1 Diakon Permanen, 2 Bruder, 2 Biarawati, dan 6 Misionaris Awam.

Delapan tahun berturut-turut jumlah misionaris terbunuh tertinggi yang terdaftar di Amerika, namun sejak 2018 Afrika telah berada di puncak peringkat tragis ini. Di Afrika, 12 pastor terbunuh pada 2019, 1 bruder, 1 biarawati, 1 misionaris awan (perempuan). Di Amerika 6 imam terbunuh, 1 diakon permanen, 1 bruder, 4 misionaris awam. Di Asia, 1 misionaris awam (perempuan). Di Eropa, 1 biarawati terbunuh.

Catatan lain diberikan oleh fakta bahwa ada semacam “globalisasi kekerasan”: sementara di masa lalu para misionaris yang terbunuh  sebagian besar terkonsentrasi di suatu negara, atau di wilayah geografis,  dan pada 2019 fenomena ini tampak lebih digeneralisasi dan tersebar luas.  10 misionaris dari Afrika, 8 dari Amerika, 1 dari Asia dan 1 dari Eropa terbunuh, mereka adalah misinaris yang menumpahkan darahnya. Kehidupan banyak orang telah dipotong selama perampokan atau pencurian, dalam konteks sosial kemiskinan, degradasi, di mana kekerasan adalah aturan hidup, otoritas negara atau dilemahkan oleh korupsi dan kompromi. Pembunuhan-pembunuhan ini karena itu bukan ekspresi langsung dari kebencian terhadap iman, tetapi dari keinginan untuk “destabilisasi sosial”. “Komunitas pastor dan paroki mempromosikan keselamatan, pendidikan, layanan kesehatan, hak asasi migran, wanita dan anak-anak,” jelas direktur Multimedia Catholic Center (CCM) Meksiko, Fr. Omar Sotelo Aguilar, SSP. Faktanya, Gereja lokal adalah “sebuah realitas yang membantu orang, dalam persaingan langsung dengan kejahatan terorganisir”, yang tahu bahwa melenyapkan seorang imam lebih dari sekadar melenyapkan seseorang, karena itu mengacaukan seluruh komunitas. Dengan demikian “budaya teror dan keheningan terbentuk, penting untuk pertumbuhan korupsi dan, oleh karenanya, memungkinkan kartel untuk bekerja secara bebas” (lihat Fides 17/6/2019).

Beberapa pembunuhan harus dibaca dalam kunci ini, seperti yang dilakukan Don David Tanko, dibunuh oleh orang-orang bersenjata ketika dalam perjalanan ke desa Takum, di Nigeria, di mana ia akan memediasi perjanjian perdamaian antara dua kelompok etnis lokal di konflik selama beberapa dekade, atau pembunuhan biadab terhadap seorang biarawati lanjut usia di Republik Afrika Tengah, Suster Ines Nieves Sancho, yang selama beberapa dekade terus mengajar para gadis untuk menjahit dan belajar perdagangan, atau bahkan cerita.

(Agenzia Fides, 30/12/2019)

http://www.fides.org/en/missionaries

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s