Rahmat Tuhan Tidak Bisa Dibeli!

Homili Paus: ‘Anda tidak dapat membeli hadiah Tuhan’
Paus Fransiskus merayakan Misa pagi di Casa Santa Marta, mengingatkan orang-orang beriman bahwa pemberian Tuhan itu gratis dan bukanlah ciri-ciri orang Kristiani jika mencari cara bertumbuh dalam karir gerejawi.

Menjadi seorang Kristiani, seorang imam atau uskup adalah hadiah gratis dari Tuhan, dan kekudusan terdiri dari “upaya menjaga” karunia yang kita terima ini dengan murah hati, dan tidak menganggap semuanya sebagai jasa kita sendiri.

Paus merenungkan Mazmur dan Bacaan Pertama liturgi hari ini.

Bapa Paus menjelaskan bahwa Mazmur mengingatkan pemilihan Daud sebagai raja Israel, setelah Tuhan menolak Saulus karena tidak menaati-Nya.

Dalam Bacaan tersebut dikisahkan, Tuhan mengirim Samuel untuk mengurapi salah satu putra Isai dari Betlehem sebagai raja. Pengurapan, menunjukkan pilihan Allah, dan sekarang ini digunakan untuk menguduskan para imam dan uskup.

Memerhatikan bahwa kita orang Kristiani diurapi dengan minyak selama Pembaptisan, Paus menjelaskan bahwa Allah mendesak Samuel untuk melihat melampaui penampilan yang ada karena, “tidak penting apa yang dilihat manusia: karena pada kenyataannya, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Paus ingat bagaimana saudara-saudara Daud berperang melawan orang Filistin untuk mempertahankan kerajaan Israel mengatakan “mereka telah berjasa”, tetapi Bapa Paus mencatat, Tuhan malah memilih yang terakhir dari mereka.

Paus menggambarkannya sebagai ”anak lelaki yang gelisah,” yang menggembalakan kawanan domba dan di Alkitab tertulis bahwa dia dipanggil Daud, dan saat itu ada seorang pemuda tampan “dengan perawakan yang luar biasa.” Setelah pengurapan, “Roh Tuhan turun atas Daud.”

Hadiah Tuhan itu gratis
Paus Fransiskus mengatakan bahwa ini adalah kisah yang mendorong seseorang untuk masuk dalam perenungan dan bertanya-tanya mengapa Tuhan memilih anak laki-laki “biasa”, yang mungkin berperilaku konyol seperti yang dilakukan banyak anak muda pada umumnya. Dia bahkan bukan anak laki-laki yang saleh, “yang berdoa setiap hari”, dan dia memiliki tujuh saudara yang baik “yang lebih berjasa daripada dirinya.”

Namun, Paus menunjukkan, yang terkecil, “yang paling terbatas, orang yang tidak memiliki gelar”, yang tidak berperang, adalah orang yang akan dipilih. Ini, menunjukkan kepada kita “kemurahan hati dari pilihan Allah.”

Bapa Paus mengundang mereka yang hadir untuk merenungkan kehadiran mereka sendiri dalam Misa dengan bertanya “mengapa Tuhan memilih kita?” Bukan karena, mereka berasal dari keluarga Kristiani atau budaya Kristiani,” pada kenyataannya, banyak orang seperti itu akhirnya menolak Tuan.

Dan menyoroti kemurahan hati dari pilihan Allah tersebut, Paus juga berbicara tentang bagaimana para imam dan uskup menerima pengurapan mereka secara gratis.

“Ada, ya, orang-orang yang ingin maju dalam apa yang disebut karir gerejawi, yang berperilaku secara simonis, mencari pengaruh, menjadi pendaki,” tetapi Paus menunjukkan bahwa hal tersebut bukanlah jalan Kristiani.

“Menjadi orang Kristiani, dibaptis, ditahbiskan sebagai imam dan uskup adalah murni merupakan rahmat. Anda tidak dapat membeli hadiah Tuhan.”

Menjaga hadiah
Paus kemudian berbicara tentang apa yang dapat kita lakukan “untuk menjadi kudus” dan bahwa kekudusan Kristiani adalah “berusaha menjaga karunia Tuhan, tidak lebih”, berperilaku sedemikian rupa sehingga Tuhan selalu bersama kita.

Paus mengutuk sikap beberapa orang yang memiliki tujuan menaiki tangga karir di Gereja, dan Bapa Paus mengatakan bahwa untuk menjadi seorang uskup yang diurapi, itu merupakan sebuah hadiah.

Bapa Paus mendesak orang Kristiani untuk hidup dengan kerendahan hati, dengan demikian menjaga karunia Allah karena telah memilih kita. Dan Paus berbicara tentang karunia besar Roh Kudus dengan mengatakan: “Ketika Tuhan memilih kita, Dia memberi kita Roh Kudus. Dan itu murni merupakan rahmat.”

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya memperingatkan orang-orang Kristiani untuk tidak pernah melupakan umat Allah.

“Jika kita para imam melupakan kawanan domba kita, jika kita para uskup melupakan ini dan merasa lebih penting daripada yang lain, kita menyangkal karunia Allah.

“Ini seperti mengajari Roh Kudus, kita bisa mengatur semuanya sendiri, (…) dan itu jelas bukanlah sifat Kristiani. Sama sekali tidak menjaga hadiah yang telah kita terima.”

Marilah hari ini kita mohon kepada Tuhan, agar memberi kita rahmat untuk mengucap syukur atas karunia besar dan indah yang telah Dia berikan kepada kita, dan untuk dapat menjaganya dalam kesetiaan.

21 Januari 2020
Oleh: Linda Bordoni
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s