Yesus Bersabda: “Berbahagialah…”

Audiensi: Sabda Bahagia adalah pesan bagi umat manusia
Mengawali siklus katekese baru yang didedikasikan untuk Sabda Bahagia, Paus Fransiskus merenungkan undangan Yesus untuk menjalani kehidupan dengan kerendahan hati, kemiskinan dan belas kasih.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa untuk memberikan diri-Nya kepada kita, Tuhan sering memilih jalan yang “tidak terpikirkan”, yang mengarahkan kita melampaui “keterbatasan, air mata, dan kegagalan” kita, menuju pada kegembiraan Paskah yang lahir dari perjalanan Kristus sendiri dari kematian ke kehidupan.

Berbicara kepada para peziarah yang berkumpul di Aula Paulus VI untuk Audiensi Umum hari Rabu, Bapa Paus merenungkan Khotbah di Bukit yang diucapkan oleh Yesus yang, “mencerahkan” kehidupan orang-orang beriman dan juga banyak orang yang tidak beriman.

“Sulit,” untuk tidak tersentuh oleh kata-kata ini, dan Bapa Paus mendorong umat beriman untuk memahami dan menyambut Sabda Bahagia “dalam kepenuhan” karena di dalam Sabda Bahagia “terkandung kartu identitas Kristiani”.

Proklamasi Sabda Bahagia
Paus menjelaskan bagaimana proklamasi pesan itu terjadi: Ketika Yesus melihat orang banyak, Dia naik ke “bukit yang indah” di sekitar Danau Galilea, duduk dan berbicara kepada para murid, memproklamirkan Sabda Bahagia.

“Pesan itu ditujukan kepada para murid, namun saat itu ada kerumunan yang membentang hingga ke kaki langit, di mana semua manusia berada. Oleh karena itu, Sabda Bahagia adalah pesan untuk seluruh umat manusia.”

Sebuah Hukum baru
“Gunung”, mengingatkan orang di Sinai, di mana Allah memberi Musa Sepuluh Perintah. Namun kali ini, latar belakangnya bukan “badai yang mengerikan”, melainkan tempat di mana “kekuatan manis” dari Kabar Baik memenuhi udara.

Maka, Yesus mulai mengajarkan hukum baru yang memanggil kita untuk mau menjadi miskin, lemah lembut, dan untuk berbelas kasih.

“Perintah-perintah baru” ini, lebih dari sekadar norma: “Faktanya, Yesus tidak memaksakan apa pun, selain mengungkapkan jalan menuju kebahagiaan,” Dia mengulangi kata ‘berbahagialah’ delapan kali.

Karunia Tuhan
Paus Fransiskus menjelaskan bahwa setiap Sabda Bahagia terdiri dari tiga bagian: kata pembuka “Berbahagialah” diikuti oleh situasi di mana mereka yang disebut diberkati menemukan diri mereka sendiri – miskin dalam roh, berkabung, haus akan keadilan – dan akhirnya alasan mengapa mereka berbahagia.

“Ada delapan Sabda Bahagia dan akan menyenangkan untuk mempelajarinya dengan hati serta mengulanginya dalam upaya menjaga hukum ini, yang Yesus berikan kepada kita, di dalam pikiran dan hati kita.”

Bapa Paus menggarisbawahi bahwa Sabda Bahagia tidak dapat ditemukan dalam situasi seseorang saat ini, melainkan dalam kondisi baru ketika mereka yang diberkati menerima hadiah dari Tuhan: “Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”, “karena mereka akan dihibur”, “Karena mereka akan memiliki bumi” dan seterusnya.

Suatu kondisi rahmat
Adapun “alasan” untuk kebahagiaan, Paus mencatat bahwa Yesus sering menggunakan kata kerja pasif seperti “mereka akan dipuaskan”, “mereka akan beroleh kemurahan”, “mereka akan disebut anak-anak Allah”; hal tersebut ingin mengatakan bahwa Sabda Bahagia mengajarkan bahwa kita berbahagia bukan oleh situasi kita saat ini, tetapi oleh kondisi baru yang menjadi milik kita yang berasal dari rahmat Allah

Paus melanjutkan dengan memikirkan kata “Berbahagialah”, dan mengatakan bahwa dalam arti sebenarnya kata itu tidak menunjukkan kondisi seseorang “dengan perut kenyang atau yang baik-baik saja.” Bapa Paus menjelaskan bahwa kata itu merujuk pada seseorang yang menemukan dirinya dirahmati dan yang melangkah maju di jalan yang ditunjukkan oleh Allah dengan kesabaran, kemiskinan, pelayanan terhadap orang lain, penghiburan.

“Dia yang maju di jalan itu bahagia, dan akan diberkati.”

Membaca Sada Bahagia
Mengulangi bahwa Sabda Bahagia “selalu menuntun kita pada kegembiraan”, Paus mengundang mereka yang hadir untuk mengambil Injil Matius dan membaca pasal 5, ayat 1 hingga 11, “mungkin beberapa kali selama seminggu, untuk memahami keindahan ini dan menjaga jalan menuju kebahagiaan yang Tuhan tawarkan kepada kita.”

Salam untuk para peziarah
Di akhir audiensi, Paus Fransiskus menyambut kelompok-kelompok peziarah yang hadir dalam berbagai bahasa, dan mengingatkan mereka dari Polandia bahwa pada hari Minggu, pada Hari Raya Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Hari untuk Hidup Bakti dirayakan di negara mereka dan Bapa Paus memohonkan doa:

“Mari kita berdoa bagi para religius yang membaktikan diri mereka kepada Allah dan kepada saudara-saudari mereka dalam pelayanan sehari-hari, sesuai dengan karisma mereka, agar mereka dapat selalu menjadi saksi yang setia akan kasih Kristus yang menyelamatkan. Marilah kita juga berdoa untuk panggilan baru bagi kehidupan yang dikuduskan.”

29 Januari 2020
Oleh: Linda ordoni
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s