T-SOM: “GEMBIRA – CERDAS – TANGGUH – MISIONER”

08 Februari 2020

Hari ke-2 “Jogja Friendship”

Setelah melalui pembagian kelompok, pembuatan nama kelompok dan yel-yel, para peserta T-SOM bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan outbond/tracking “menyusur sungai”. Enam kelompok dibagi dalam 3 tim berbeda. Tim pertama yang terdiri dari kelompok 3 dan 6 berangkat lebih dulu.

Di halaman depan Melcosh, yang ditetapkan panitia sebagai Pos 1, para peserta diminta berhenti untuk mengikuti games. Games sederhana hanya menggunakan sebuah botol aqua kosong yang harus di-estafetkan dari satu peserta ke peserta lainnya dengan hanya menggunakan kedua kaki (botol dijepit di paha). Ternyata tidak mudah memindahkan botol tanpa bantuan tangan. Ekspresi dan gestur para peserta pun terlihat lucu dan mengundang tawa.

Dari pos 1, para remaja T-SOM dan para pendamping melanjutkan perjalanan menuju ke bawah sungai. Langit terlihat cerah, begitu pula dengan wajah-wajah para remaja, yang berjalan penuh semangat sambil sesekali bersenandung bersama, menyanyikan lagu-lagu SEKAMi. Meskipun harus melalui hutan, semak-semak, jalan yang sempit, dan terjal, semuanya tampak kompak, saling menunggu dan mengingatkan untuk selalu berhati-hati.

Di pinggir sungai, tepatnya di Pos ke-2, panitia meminta para peserta untuk berhenti. Saatnya untuk games ke-2. Semua diminta menggunakan topi yang terbuat dari bola plastik yang telah dipotong separuh, yang di atasnya menempel sebuah gelas plastik. Peserta paling belakang harus mengisi gelas di atas kepalanya dengan air sungai, lalu menuang air itu ke dalam gelas teman berikutnya, dstnya, hingga di ujung barisan, orang terakhir akan menuang air tersebut ke botol kosong yang ada di tanah. Kelompok yang berhasil menuang air terbanyak akan menang.

Terjadi kericuhan, karena tidak mudah menuang air dari gelas di kepala, harus bisa mengukur ketepatan jarak antar gelas, sementara peserta tidak diperbolehkan menggunakan tangan, hanya bisa menggerakkan kepala dan membungkukkan badan mereka. Mereka pun berusaha mencari jalan dan bekerja sama, ada yang berdiri memperhatikan untuk memberikan instruksi kepada kedua orang yang sedang menuang dan menerima air, seperti layaknya seorang tukang parkir yang memberi aba-aba, mengatur ketepatan posisi parkir sebuah mobil. Alhasil air pun berhasil dituang dari gelas ke gelas, walaupun tidak sedikit juga air yang tumpah membasahi wajah dan kaos para peserta.

Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali, di mana para peserta harus mulai mendaki. Melewati sebuah selokan, seorang remaja kehilangan sendal jepit. Temannya turun dan berusaha membantu mencari sendal tersebut. Namun sayang ketika ditemukan, sendal sudah putus. Salah satu panitia kemudian merelakan sendalnya untuk dipakai remaja tersebut, agar remaja tersebut tidak bertelanjang kaki menyelesaikan sisa perjalanan.

Di Pos ke-3, para peserta kemudian mengikuti sebuah games unik yang menggunakan dua buah batang bambu. Batang bambu harus diletakkan di atas telunjuk para peserta, dan mereka harus naik dan turun tanpa menjatuhkan batang bambu tersebut. Games yang tampak mudah ini, ternyata cukup sulit dilakukan. Awalnya kedua kelompok menjatuhkan batang bambu masing-masing. Kemudian mereka pun belajar bekerja sama dan mendengarkan instruksi dari masing-masing pendamping maupun teman lain untuk menyeragamkan gerak dan jari.

Sampai di pos ke-4 diadakan games ke-4, di mana telah disiapkan kotak-kotak besar di lapangan terbuka, yang mana kotak-kotak tersebut dipisahkan dengan tali plastik. Peserta pertama diminta untuk menebak harus menginjak kotak yang mana, hingga sampai ke seberang. Lalu peserta pertama harus memberikan informasi mengenai kotak yang benar untuk diinjak kepada teman yang berikutnya. Di sini diperlukan daya ingat yang baik serta penjelasan yang akurat. Jika salah menginjak kotak maka panitia akan berteriak dan peserta mendapatkan olesan tepung di wajah mereka.

Di pos terakhir, games terakhir terjadi keriuhan yang luar biasa karena enam kelompok akhirnya berkumpul bersama, mengikuti dan saling melemparkan air dalam plastik-plastik yang telah disiapkan panitia.

Para remaja berada dalam masa yang aktif dan membutuhkan banyak kegiatan yang menggunakan fisik dan gerak. Kegiatan outbond ini bertujuan untuk melatih fisik juga mental para remaja. Games-games yang diadakan bukan hanya sekedar untuk bergembira, namun juga melatih para remaja untuk memikirkan ide, jalan keluar, bagaimana bekerja sama, dan saling mendengarkan.

Nantikan kisah selanjutnya: Misa Konselebrasi, Pentas Seni dan Api Unggun, malam terakhir “Jogja Friendship”.

Baca juga:
Remaja Bermisi? “YES!”
Menjalin “Persahabatan” dalam Misi

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s