Allah Memanggil Kita untuk Membicarakan Dosa-dosa kita

PAUS Fransiskus mengawali Misa harian Selasa pagi, 10 Maret 2020, di Casa Santa Marta (Vatikan) dengan meminta kita untuk mendoakan “semua orang sakit, tenaga medis, semua orang yang sedang menderita wabah penyakit”. Beliau meminta kita mendoakan khususnya para imam agar mereka memiliki keberanian untuk mengunjungi orang-orang sakit, membawakan mereka “kekuatan Sabda Allah dan Ekaristi, menyertai” semua orang yang sedang membantu mereka yang terkena virus Corona.

“Kemarin Sabda Allah mengajarkan kita untuk mengenali dosa-dosa kita dan mengakuinya”. Oleh karena itu, Paus Fransiskus mengawali homilinya dengan melanjutkan tema tersebut. “Hari ini”, beliau melanjutkan, “Tuhan meminta kita semua, orang-orang berdosa untuk berdialog dengan-Nya”. Beliau kemudian melanjutkan permenungannya dengan berfokus pada Bacaan Pertama (Yes. 1:10,16-20) : “Marilah, baiklah kita beperkara! – sabda Tuhan – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju”.

Seperti Adam dan Hawa, kita cenderung menyembunyikan diri karena kita merasa malu akan hal-hal yang telah kita lakukan. Dosa membuat kita dekat dengan diri kita. Malahan Allah memanggil kita untuk membicarakannya dengan Dia.

“Dan Tuhan memanggil kita, ‘Marilah kita membicarakan hal ini’, kata Tuhan. Marilah kita membicarakan dosamu. Marilah kita membicarakan situasimu. Jangan takut. Tidak…. Marilah. Aku dapat mengubah segalanya, kata Tuhan. “Jangan takut untuk datang dan membicarakannya. Bahkan beranilah menghadapi kesengsaraanmu”.

Paus Fransiskus kemudian menceritakan kisah tentang seorang santo yang berkecil hati. Tidak peduli apa yang ia lakukan, ia selalu merasa bahwa Tuhan tidak puas. Maka, ia menanyakan kepada Tuhan apa yang kurang. “Berikanlah kepada-Ku dosa-dosamu. Itulah apa yang kurang”, jawab Tuhan.

Kita memperdaya diri sendiri ketika tidak berbicara dengan Tuhan, lanjut Paus Fransiskus. Kita berpura-pura tidak berdosa. Inilah teguran Tuhan kepada ahli-ahli Taurat. Mereka melakukan segalanya demi penampilan, kata Paus Fransiskus, merujuk pada Bacaan Injil (Mat. 23:1-12).

“Penampilan… Kesombongan… Menutupi kebenaran hati kita dengan kesombongan… Kesombongan tidak pernah menyembuhkan… Sebaliknya, kesombongan beracun. Kesombongan meningkatkan kekerasan hati kita. Kesombongan akan berkata, ‘jangan pergi kepada Tuhan. Tinggallah sendirian’. Kesombongan adalah tempat di mana kita menutup diri terhadap panggilan Tuhan. Tetapi undangan Tuhan adalah undangan seorang bapa, seorang saudara. ‘Datanglah. Ayolah. Marilah berbicara. Pada akhirnya, Akulah yang bisa mengubah hidupmu dari merah menjadi putih”.

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya, dengan mengatakan bahwa Sabda Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa doa kita dapat menjadi nyata. Kita bahkan dapat berdoa tentang kenyataan dosa-dosa kita.

“Tuhan mengenal siapa kita… tetapi kesombongan mengundang kita untuk menutupi hal itu. Semoga Tuhan membantu kita”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s