Ketakutan yang Menjadi Sukacita

Paus Fransiskus mengawali homilinya pada Misa harian Kamis pagi, 16 April 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau mengatakan bahwa ia telah terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya sehingga lupa berterima kasih kepada satu kelompok orang.

“Saya berterima kasih kepada para dokter, para perawat, para relawan. Tetapi saya sudah melupakan para apoteker. Mereka juga telah bekerja keras untuk membantu orang sakit menjadi lebih baik. Marilah kita mendoakan mereka juga”

Kehadiran Yesus masih menjadi ketakutan kita

Dalam homilinya, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa setelah kebangkitan Yesus, hari-hari tidak begitu tenteram di Yerusalem. Orang-orang dipenuhi dengan “ketakutan, keheranan, keraguan”, kata Paus Fransiskus.

Bahkan para murid, yang tahu bahwa Tuhan telah bangkit, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Simon, dan telah mendengar kesaksian para murid yang kembali dari Emaus, takut. Ketakutan mereka meningkat menjadi kengerian ketika Yesus muncul di tengah-tengah mereka dan mereka berpikir bahwa mereka melihat hantu (bdk. Luk 24:37). Hal yang sama terjadi ketika Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air (bdk. Yoh 6:19). Pengalaman itu, dan apa pun yang dikatakan Yesus kepada Petrus setelah kebangkitan-Nya, kali ini membuat mereka terdiam.

Kehadiran Yesus menenangkan ketakutan para murid ketika Ia menampakkan diri kepada mereka dan berkata: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku”.

Penuh Sukacita

Ketakutan para murid kemudian berubah rupa menjadi sukacita yang meluap-luap. Sukacita mereka begitu besar sehingga membuat mereka tidak percaya. Mereka, dalam arti tertentu, ”lumpuh dengan sukacita”. Sukacita para murid adalah “pengalaman penghiburan terbesar yang mungkin”, kata Paus Fransiskus. Sukacita adalah “sesuatu yang berbeda daripada bahagia, baik atau berseri-seri”.

“Sukacita adalah buah Roh Kudus”, kata Paus Fransiskus. Mengenai contoh sukacita, Bapa Suci mengutip contoh sipir Paulus di Filipi (bdk. Kis 16) dan sida-sida Etiopia setelah dibaptis (bdk. Kis 8) yang “dipenuhi dengan sukacita” dan Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Roma (15:13), ketika Paulus memohon kepada “Allah, sumber pengharapan, untuk memenuhi jemaat yang ditujunya “dengan segala sukacita”.

“Tanpa Roh, kita tidak bisa memiliki sukacita. Menerima sukacita Roh Kudus adalah rahmat”, Paus Fransiskus menambahkan.

Panggilan Sukacita

Paus Fransiskus merujuk pada Seruan Apostolik Paulus VI Evangelii Nuntiandi (no. 80) di mana ia berkaca pada umat Kristiani dan para penginjil yang dipenuhi dengan sukacita. Sukacita ini serupa dengan yang dirasakan oleh orang-orang pada zaman Ezra dan Nehemia ketika mereka menemukan Kitab Hukum. Kata-kata Nehemia kepada orang Israel ketika mereka menangis setelah mendengar Kitab Hukum, “sukacita Tuhan adalah kekuatan kita”, “akan membantu kita hari ini”, kata Paus Fransiskus.

Doa Paus Fransiksus

Bapa Suci mengakhiri homilinya dengan berdoa agar kita dapat memiliki kekuatan untuk mewartakan Injil dan menjadi saksi-saksi sukacita Tuhan. “Hari ini, marilah kita memohon kepada-Nya untuk memberikan kita buah Roh Kudus ini”.

Fr. Benedict Mayaki, SJ – Vatican News
(terjemahan BN-KKI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s