Singkirkan Racun-Racun Jiwa

Renungan Harian Misioner
Sabtu Biasa IX, 6 Juni 2020
P. S. Norbertus
2 Tim. 4:1-8; Mzm. 71:8-9, 14-15ab, 16-17.22; Mrk. 12:38-44

Saudara terkasih,
Hari ini dalam Injil Markus Yesus mengajar kita para murid-Nya untuk waspada. Ada tiga hal yang harus diwaspadai dan itu adalah racun-racun jiwa. Racun jiwa yang pertama adalah pamer untuk popularitas diri. Tuhan Yesus mengatakan, “Waspadalah terhadap para ahli Taurat. Mereka suka berjalan-jalan dengan pakaian panjang.” Suka berjalan-jalan dengan pakaian (jubah) panjang, bisa diringkas dengan satu kata: pamer. Pakaian atau jubah yang dipakai itu panjang sampai menyentuh tanah dan tentu saja indah karena menjadi tanda penghormatan, sehingga membuat yang memakainya tidak leluasa berjalan cekatan, bergerak lincah, dan bekerja giat. Jauh dari kecekatan, kelincahan dan kegesitan, orang menjadi cenderung lambat, santai-santai, senang-senang. Demikian, menjadi mudah “dinikmati” orang lain. Dengan kata lain, orang menjadi pamer. Pamer merupakan racun jiwa karena mendorong orang untuk sok-sok’an, cenderung sombong dan berpusat pada diri sendiri. Kalau sudah berpusat pada diri, kemudian orang menjadi tertutup pada yang lain, bahkan pada rahmat Tuhan sendiri.

Racun jiwa kedua adalah cari penghormatan. Yesus melanjutkan, “… dan suka menerima penghormatan di pasar. Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan.” Kalau sudah pamer, orang bisa terkena racun yang kedua yaitu mencari penghormatan. Orang pamer karena mau menarik perhatian yang lain, menjadikan dirinya pusat perhatian, dan ujungnya karena mau dihormati. Penghormatan ini adalah penghormatan palsu, penghormatan yang busuk karena merendahkan orang. Lupa bahwa sudah dari sononya, manusia itu terhormat karena ia adalah gambar dan rupa Allah. Manusia adalah citra Allah. Ia dan sesamanya adalah wajah Allah. Inilah yang kerap kali dilupakan dan diabaikan orang, sehingga orang mencari penghormatan untuk dirinya sendiri dan memberi penghormatan pada orang lain hanya didasarkan pada derajat, pangkat, status sosial-ekonomi-religius. Kemudian, orang secara sadar atau tidak akan menutup mata bagi Tuhan.

Racun jiwa ketiga, menindas yang lemah. Tuhan Yesus masih mengatakan, “Mereka mencaplok rumah janda-janda.” Kalau menutup mata bagi Tuhan atau tidak menganggap Tuhan, yang terjadi adalah orang menjadi mudah merendahkan sesamanya. Kalau Tuhan saja tidak dianggap, apalagi orang lain, tentu akan lebih mudah tidak diperhitungkan dan akan ditindas. Janda-janda yang disebut Yesus mewakili kelompok orang yang lemah, kecil, tersingkir, tidak diperhitungkan. Mereka inilah sasaran orang-orang yang haus penghormatan, haus popularitas, haus kekuasaan. Orang-orang yang kehausan ini akan “memangsa” sesamanya yang lemah, miskin, kecil dan tersingkir.

Racun jiwa keempat, menjual Tuhan. Mengakhiri pengajaran-Nya, Yesus berkata, “… sambil mengelabui orang dengan doa panjang-panjang.” Untuk memuaskan dahaga penghormatan, popularitas dan kekuasaan, orang tidak segan-segan “menjual” Tuhan karena agama paling mudah dipakai untuk manipulasi dalam masyarakat agamis. Menjual Tuhan berarti mengatasnamakan Tuhan untuk mencapai kepentingan diri atau kelompoknya sendiri yang muaranya adalah egoisme dan egosentrisme. Orang seperti ini tidak sungguh-sungguh beriman pada Tuhan. Biasanya sangat kaku, konservatif, mengagungkan seremoni-ritualisme, mengedepankan kekerasan, dan mudah menghakimi orang lain.

Tidak tertutup kemungkinan racun-racun jiwa ini mengancam kita juga. Maka, seperti pesan Yesus tadi, “Waspadalah terhadap para ahli Taurat (bc: racun-racun jiwa).”

Bagaimana untuk waspada? Kuncinya disiratkan dalam bagian kedua Injil Markus hari ini, “Sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Kunci untuk waspada adalah kesungguhan pada Tuhan dan kerendahan hati. Persis kedua hal inilah yang tidak disukai setan dan senjata melawannya.

Kedua kunci waspada itu ditunjukkan oleh janda miskin yang dilihat Tuhan Yesus, dan juga oleh Santo Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius (2 Tim. 4:1-8). Janda miskin memberikan kesungguhan hidupnya bagi Tuhan dengan “memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Janda miskin ini tidak memberi ‘sisa’ kepada Tuhan, namun apa yang merupakan satu-satunya harta yang sebenarnya sungguh ia butuhkan untuk menyambung hidup. Sementara itu, Paulus menyatakan, “Mengenai aku, darahku mulai dicurahkan sebagai persembahan.” Dengan kata lain, kedua tokoh ini mempertaruhkan hidupnya bagi Tuhan. Kunci kedua untuk menyingkirkan racun-racun jiwa adalah rendah hati. Yang ‘sungguh-sungguh bagi Tuhan,’ ia adalah yang memiliki kerendahan hati. Rendah hati berarti memindahkan gravitasi hidup dari egois-egosentris kepada gravitasi pada Tuhan. Hidupnya rela dan taat dipimpin oleh Tuhan.

Marilah singkirkan racun-racun jiwa dengan kesungguhan bagi Tuhan dan kerendahan hati.*** (NW)

(RD. M Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s