Mata Tidak Kenyang Melihat

Renungan Harian Misioner
Kamis Biasa Pekan XXV, 24 September 2020
P. S. Gerardus dr Hungaria, S. Pasifikus

Pkh. 1:2-11; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Luk. 9:7-9

Dikisahkan oleh Penginjil Lukas bahwa Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas. Apa yang didengar Herodes? Kedua belas murid Yesus berkeliling desa ke desa, memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat (bdk. Luk. 9:1-6). Harusnya sebagai seorang raja, Herodes patut bersuka-hati mengetahui bahwa ada orang-orang berkeliling menolong rakyatnya. Tetapi sebaliknya, ia tak suka berita itu dan cemas. Apakah ia cemas Yohanes yang telah dibunuhnya bangkit kembali? Karena dalam hatinya ia merasa bersalah telah membunuh Yohanes yang ia tahu tidak bersalah itu? Ataukah kecemasannya itu berkaitan dengan Yesus, yang santer dibicarakan orang-orang karena kuasa-Nya? Mungkinkah Herodes merasa terintimidasi akan kehadiran Yesus, sebuah ancaman bagi kuasa dan kepopulerannya sebagai ‘raja’ wilayah?

Di bacaan pertama, Pengkhotbah membuka hari ini dengan kata-kata yang seakan tak berpengharapan, “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Mungkin ada orang yang ketika mendengar sepenggal kalimat tersebut akan langsung memutuskan untuk berhenti membaca Kitab Pengkhotbah. Suram. Hawa putus asa begitu kuat tercium dari kata per kata. Tapi apakah benar si pengkhotbah adalah orang yang negatif dan pesimis? Mengapa dikatakannya semua sia-sia? Bukankah untuk bisa terus hidup kita harus memiliki harapan, optimisme dan menjauhkan diri dari kata-kata suram?

Dunia terus berputar, kehidupan terus berjalan. Ada yang lahir, ada yang meninggal. Matahari terbit dan tenggelam, dan terbit kembali. Sekarang kita ada, besok kita tiada. Sekarang kita memiliki, besok kita kehilangan. Adakah sesuatu yang menetap dan abadi? Adakah sesuatu yang akan tetap ada selama-lamanya? Atau adakah sesuatu yang benar-benar ‘baru’ dari segala yang sudah pernah ada?

Kita, manusia sering lupa pada ketidakabadian dan ‘ke-sesaat-an’, lalu menjadi tersesat dalam ilusi keabadian yang kita peluk kuat-kuat untuk dipertahankan selama mungkin, meskipun mungkin seperti sifat ilusi itu sendiri, sebenarnya hal itu hanyalah bertahan dalam ‘ketidaknyataan’ pikiran kita.

Herodes cemas akan dikalahkan oleh kuasa Anak Manusia yang gemar berkeliling dan berbuat baik itu. Alih-alih merasa senang dan berterima kasih pada si Penolong rakyatnya, ia sibuk mencemaskan diri dan kuasanya. Posisi dan kekuasan memang kerap jadi pedang yang dapat menikam diri sendiri. Ketika kuasa dan posisi bukan lagi sekedar rahmat dan titipan tanggung jawab dari Tuhan, sebaliknya jadi alat pemuas nafsu dan rupa-rupa keinginan diri.

Pengkhotbah bukan bicara mengenai hidup Herodes saja, tapi kita juga, manusia-manusia yang selalu berjerih lelah di bawah sinar matahari. Apa yang kita kejar? Apa rupa-rupa keinginan yang melekat kuat pada diri kita saat ini, yang menyebabkan kecemasan dan ketakutan bahkan penderitaan? Apakah benar kita mendengar nada putus asa dan kesuraman dalam untaian kata pengkhotbah? Ataukah sebaliknya kita dapat merasakan hembusan harapan yang akhirnya membangunkan kita dari keterlenaan pada rupa-rupa keinginan dan jerat duniawi, sehingga kita mungkin masih dapat menyelamatkan diri dan hidup dari ‘kesia-siaan belaka’?

Ingat, “mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar”, sia-sia mengejar segala sesuatu. Mungkin kita perlu berhenti sejenak, kuasai diri, lepas dan bebaskan jiwa dari segala kesia-siaan dunia…

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hormat terhadap sumber daya alam: Semoga semua sumber daya bumi ini tidak dikuras dan dirampas dengan serakah, tetapi dibagikan dengan adil, disertai rasa syukur dan penghargaan terhadap alam. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menciptakan udara bersih: Semoga dalam partisipasi untuk menciptakan udara bersih, keluarga-keluarga Katolik berinisiatif menjalankan sumbangan yang sederhana dengan menghijaukan lingkungannya masing-masing. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan tekad kami untuk mendaraskan upaya keadilan kami pada Sang Sabda sendiri. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s