Misi Kita, Panggilan Kita 

Pada Hari Minggu Pentakosta, 31 Mei 2020, Paus Fransiskus menulis pesan tahunan untuk Hari Minggu Misi Sedunia  2020. Beliau menempatkan misi dalam konteks pandemi Covid-19 yang sedang mewabah. Tema Minggu Misi Sedunia 2020, diambil dari Kitab Nabi Yesaya “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8).


Panggilan Misi dalam Krisis Pandemi Covid-19

Paus Fransiskus memulai pesannya untuk Minggu Misi dengan mengingat kata-kata yang diungkapkan pada kesempatan momen doa luar biasa pada tanggal 27 Maret  2020. Saat itu, di seluruh dunia sedang mengalami disorientasi dan ketakutan yang dipicu oleh krisis internasional saat ini, akibat virus corana. Paus Fransiskus mengungkapkan pesan melalui sebuah refleksi, di mana Tuhan terus bertanya, “Siapakah yang akan Aku utus?” Dalam kelemahan dan kesakitan yang menyentuh kita saat ini, Tuhan mengingatkan akan panggilan dan perutusan kita yang sejati, sebuah kerinduan untuk hidup secara bebas dari segala kejahatan. Di sinilah panggilan bermisi muncul sebagai undangan supaya keluar dari diri kita sendiri untuk cinta kepada Tuhan dan sesama melalui pelayanan, pemberian diri, dan doa.

Bersama Yesus Sang Misionaris Agung

Paus Fransiskus mengajak kita untuk meneladani Yesus Putra Tunggal Allah, yang telah memberikan diri-Nya bagi keselamatan umat manusia. Ia rela menyerahkan diri-Nya, demi cinta-Nya, dan ketaatan-Nya kepada Bapa. “Sama seperti Yesus sepenuhnya menyelesaikan misi-Nya dengan mati di kayu salib, kita menemukan diri kita tepat ketika kita memberikan diri kepada orang lain”, demikian yang ditulis oleh Paus Fransiskus dalam pesan Minggu Misi. Selanjutnya beliau mengatakan: “Misi kita, panggilan kita, kesediaan kita untuk diutus berasal dari panggilan-Nya sendiri sebagai “Misionaris Bapa”. Panggilan pribadi kita berakar pada fakta bahwa kita adalah putra dan putri Allah di Gereja”.

Gereja sebagai Misionaris

Paus Fransiskus menjelaskan, bahwa secara khusus Gereja yang “melanjutkan misi Yesus dalam sejarah”. Demikianlah anggota Gereja yang telah dibaptis dan diutus dalam nama-Nya. Melalui kesaksian dan pemberitaan Injil kita, Allah melanjutkan “untuk menyatakan kasih-Nya”. Inilah cara-Nya yang mampu “menyentuh dan mengubah hati, pikiran, tubuh, masyarakat, dan budaya di setiap tempat dan waktu.”

Menanggapi suatu hubungan

“Misi adalah respons bebas dan kesadaran terhadap panggilan Tuhan,” Paus mengingatkan kita. Menurut Paus Fransiskus, panggilan untuk misi hanya dapat dilihat ketika kita memiliki hubungan cinta pribadi dengan Yesus yang hadir di Gereja-Nya. Itu mengarah pada pertanyaan tentang kesiapan kita untuk menyambut kehadiran dan tindakan Roh Kudus dalam hidup kita. Panggilan itu datang kepada pasangan yang sudah menikah, orang-orang yang dikuduskan dan para pemimpin yang ditahbiskan dalam peristiwa kehidupan sehari-hari. Pertanyaan lain yang menurut Paus harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri adalah apakah kita bersedia “di kirim kapan saja atau di mana saja untuk bersaksi tentang iman kita” dalam hubungan dengan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dan pertanyaan terakhir adalah apakah kita bersedia menanggapi sebagaimana Maria selalu “siap untuk sepenuhnya melayani kehendak Allah?”

Misi Merespons Kehidupan

Paus Fransiskus mengakui bahwa: “tantangan untuk misi Gereja saat ini adalah memahami apa yang Tuhan katakan kepada kita saat pandemi ini.” Ketika orang meninggal sendirian atau ditinggalkan, karena orang lain kehilangan pekerjaan mereka, dengan perlunya menjauhkan diri secara sosial atau katakanlah di rumah, Paus mengatakan bahwa kita diundang “untuk menemukan kembali bahwa kita memerlukan hubungan sosial serta hubungan komunal kita dengan Tuhan”. “Situasi ini dapat meningkatkan kesadaran kita tentang perlunya berhubungan dengan orang lain,” katanya. “Tuhan akan menyentuh hati kita melalui doa yang akan selalu membuka kita untuk memahami kebutuhan orang lain. Kita yang belum mampu berpartisipasi dalam kehidupan liturgi Gereja sekarang memahami “pengalaman banyak komunitas Kristiani yang tidak dapat merayakan Misa setiap hari Minggu,” kata Paus.

Siapa yang akan Kuutus?

Pertanyaan Tuhan yang diungkapkan oleh Nabi Yesaya “sekali lagi ditujukan kepada kita dan menunggu tanggapan yang murah hati dan meyakinkan: ‘Inilah aku, utuslah aku!’” (Yes. 6:8). Demikian, Paus Fransiskus mengatakan di akhir pesannya. Minggu Misi Sedunia akan menjadi hari di mana kita akan dapat menegaskan kembali melalui doa, refleksi, dan materi untuk membantu partisipasi aktif kita dalam misi Yesus di Gereja-Nya. Paus Fransiskus menetapkan bahwa momen utama yang diambil pada tanggal 18 Oktober akan mendukung “pekerjaan misionaris yang dilakukan atas nama saya oleh Lembaga Misi Kepausan, untuk memenuhi kebutuhan spiritual dan material dari orang-orang dan Gereja di seluruh dunia, untuk keselamatan semua orang.”

Diolah dari Vatican News

Buka juga Missio KKI Edisi 58

Cover-Missio-HMMS-2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s