Misi: Membawa Damai

Hari ke-4, Renungan Bulan Misi
Minggu, 4 Oktober 2020
Peringatan : Santo Fransiskus Assisi, Pengaku Iman

Bacaan : Yes. 5:1-7
Injil : Mat. 21:33-43

“Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Mat. 21:43)

Dokumen: Kami menyerukan kepada para intelektual, filsuf, tokoh agama, seniman, pakar media dan semua laki-laki dan perempuan berbudaya di setiap bagian dunia untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan untuk menegaskan pentingnya nilai-nilai ini sebagai jangkar keselamatan bagi semua, dan untuk memajukannya di mana-mana (art. 16).

“Semoga Tuhan menganugerahi Anda kedamaian,” salam Fransiskus Asisi kepada Sultan Al-Malik Al-Kamil saat kunjungannya ke Mesir pada musim panas 1219. Sultan Al-malik Al-Kamil adalah seorang muslim, pemimpin dan penguasa Dinasti Ayyubiah yang wilayahnya mencakup Palestina, Suriah dan Mesir waktu itu. Sedangkan, Fransiskus Asisi kita tahu ia adalah orang kudus dari Asisi Italia, pendiri ordo Saudara Dina. Tahun 1217-1221 adalah masa perang salib V antara tentara Kristen dengan tentara Muslim. Kunjungan Fransiskus kepada Sultan Al-Malik Al-Kamil di tepi sungai Nil, di luar kota Damietta, Mesir tergolong kedatangan yang nekad. Fransiskus bersama temannya Illuminatus mempertaruhkan nyawa dengan berani memasuki markas tentara muslim itu. Pasalnya, waktu itu sedang berkecamuk perang salib yang diliputi rasa benci dan permusuhan antara Kristiani dan Muslim.

Kunjungan Fransiskus kepada Sultan Al-Malik Al-Kamil hanya membawa satu misi, yaitu mengupayakan perdamaian dan mengakhiri perang. Salam Fransiskus, “Semoga Tuhan menganugerahi Anda kedamaian,” membuat Sultan Al-Malik terenyuh dan terpesona. Di tengah-tengah pergolakan perang salib yang diliputi kebencian, permusuhan, dan dendam, kedatangan Fransiskus dan Illuminatus meluluhkan kekerasan hati. Mereka disambut dengan penuh keramahtamahan dan persaudaraan. Perjumpaan tokoh-tokoh besar itu menjadi antidot, bahwa menanggapi kekerasan dengan kekerasan hanya akan membuahkan kekerasan lagi yang tak berujung, sebaliknya menanggapi kekerasan dengan kebaikan dan rasa hormat akan mencairkan hati beku dan mengubah permusuhan menjadi persaudaraan.

Deklarasi Abu Dhabi tentang persaudaraan insani mendesak kita untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia dan hidup berdampingan untuk menegaskan pentingnya nilai-nilai ini sebagai jangkar keselamatan bagi semua. Ini selaras dengan nasihat Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, menjadi bacaan II misa hari ini, “Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, itulah yang harus kamu pikirkan.”

Sudah menjadi amanat misi kita saat ini: mewujudkan damai dalam hati dan sesama. Kita memulainya dari diri sendiri, kemudian keluar kepada lingkaran terkecil kita: keluarga, lalu meluas lagi dengan tetangga atau lingkungan kerja, dan seterusnya. Sampai akhirnya membentuk gelombang-gelombang damai yang merambah seluruh jiwa.

Kerajaan damai inilah yang diharapkan sebagai Kebun Anggur Tuhan semesta alam, yang disebut dalam Kitab Yesaya dan Injil Matius (bacaan I dan Injil Minggu Biasa XXVII ini). Kerajaan damai itu menggambarkan Kerajaan Allah, suasana damai sejahtera yang memenuhi hati setiap insan. Kerajaan Allah adalah Allah yang meraja dalam hidup manusia. Santo Paulus menyatakannya demikian, “Maka, damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus […] Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai kamu.”

Kita adalah pengikut Kristus, dan setiap pengikut Kristus harus memurnikan hidup batin dari segala unsur yang menjauhkan kehadiran Kristus sendiri yang menyelamatkan. Pengikut Kristus harus terus-menerus membuka hati bagi kehadiran Kristus dan membiarkan Allah berkarya dalam hidupnya. Konkretnya apa? Misi kita hari ini adalah menumbuhkan nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan dan hidup bertetangga dengan tulus terus bertumbuh dan berkembang dalam hidup sehari-hari kita. Nilai-nilai itulah yang menjadi jangkar keselamatan bagi semua orang. (NW)

(RD. M. Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s