Sudah Siapkah Kita Tinggalkan Peziarahan di Dunia?

Renungan Harian Misioner
Jumat, 13 November 2020
P. S. Stanislaus Kostka, S. Didakus

2Yoh. 4-9; Mzm. 119:1,2,10,11,17,18; Luk. 17:26-37

Bacaan Injil hari ini mengajak kita mempersiapkan diri untuk akhir dari peziarahan hidup kita di dunia ini. Apakah kita sudah siap? Apakah bekal kita sudah cukup? Ini adalah pertanyaan yang Tuhan tanyakan kepada kita ketika Dia berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah, yang akan datang pada saat yang paling tidak terduga.

Kapan kita tahu hari kedatangan Anak Manusia? Kehadiran Tuhan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari jika kita menyadari penuh apa yang kita lakukan. Yesus berkata, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia; mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke bahtera, dan lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua,” (Luk. 17:26-27). Tuhan datang di manapun kita berada, dalam situasi apapu: saat kita sedang makan dan minum, bekerja, dan di dalam segala aktivitas harian kita. Jika mata kita terbuka, kita tentu akan bersyukur kepada Tuhan atas makanan yang kita miliki, pekerjaan yang memberi makna dan tujuan pada hidup kita, serta kegembiraan merayakan cinta bersama orang lain. Butuh kesadaran dan kesiapsediaan mengenali kedatangan Tuhan dalam keseharian hidup kita. Sayangnya, banyak dari kita yang menikmati hadiah ini tanpa bersyukur, tidak memiliki semangat dan perhatian pada pekerjaan yang dilakukan; dan mengadakan perayaan bersama tanpa menghargai kehadiran orang lain. Kita mengabaikan peristiwa hidup kita, tidak memaknainya. Karenanya, Yesus mengingatkan kita untuk selalu waspada dan siap sedia!

Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar,” (Luk. 17:37). Jika banyak burung nasar melayang di atas langit, kita tahu ada bangkai. Tanda-tanda yang memperingatkan kita tentang masa depan juga ada di hadapan kita. Banyak hal yang tidak bisa diprediksi dalam hidup. Kita melihat seseorang yang tampak sehat tiba-tiba terkena serangan jantung; bisnis seketika runtuh karena perubahan kondisi ekonomi, atau pria muda di puncak karir mengalami kecelakaan dan harus cacat seumur hidup; dan banyak lagi peristiwa yang terjadi tak terduga.

Kita tidak tahu kapan waktunya akan tiba bagi kita untuk bertemu dengan Tuhan. Ketika saatnya tiba, tidak ada apapun yang dapat kita bawa dari dunia ini bersama kita. Baik itu orang yang kita cintai maupun harta benda. Kepemilikan kita hanyalah sementara, semuanya hanya dalam status pinjaman. Saat kita mati, semuanya akan ditinggalkan! Inilah juga yang Tuhan maksudkan dengan perkataan-Nya, “Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah, dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya,” (Luk. 17:31-33). Yesus juga berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat. 16:26). Ini adalah pertanyaan mendasar yang perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri; jangan sampai di akhir hidup, kita tidak hanya mendapati diri kita tidak siap untuk meninggalkan dunia, tetapi juga baru menyadari bahwa kita telah hidup dengan sia-sia. Jika kita bersama Tuhan, kita akan menyadari semua hal duniawi ini, meskipun pada hakikatnya baik, sifatnya hanya sesaat, untuk memberi kita hiburan saat kita menjalani ziarah kehidupan menuju ke surga. Yesus mengingatkan bahwa, kita tidak boleh membiarkan harta benda menghalangi kita untuk mencintai dan memberikan diri kita sendiri kepada satu sama lain untuk memperoleh hidup. Hanya ketika kita siap untuk menyerahkan hidup kita dan harta benda kita untuk kebaikan orang lain, barulah kita dapat memiliki hidup. Inilah ironi hidup. Dengan memberikan apa yang kita miliki, kita menemukan cinta dan kegembiraan.

Bagaimana kita bisa hidup sedemikian rupa sehingga kita selalu siap menghadapi akhir dari perjalanan hidup kita? Santo Yohanes memberi kita jawabannya: dengan mencintai satu sama lain. “Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa. Dan sekarang aku meminta kepadamu – Ibu – bukan seolah-olah menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya – supaya kita saling mengasihi,” (2Yoh. 4-5). Pada akhirnya hanya ada satu perintah, yaitu perintah untuk saling mengasihi. Cinta adalah satu-satunya perintah dan memang satu-satunya hukum yang mengantar kita untuk memasuki kerajaan-Nya pada saat kita dipanggil. Apakah kita sudah menjalankan perintah-Nya itu dalam hidup kita? Marilah kita memohon kepada Bapa agar memampukan kita untuk selalu waspada, siap sedia menyambut kedatangan Anak Manusia, dengan melepaskan segala keterikatan duniawi dan hidup penuh cinta kasih sebagaimana yang ditunjukkan Putra-Nya sendiri kepada kita.

(RP. Gabriel Joseph, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s