Panggilan Kemartiran

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 26 Desember 2020
Pesta St. Stefanus Martir Pertama, Hari kedua dalam Oktaf Natal

Kis. 6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22

Saudari-saudara terkasih, bukan merupakan kebetulan jika hari kedua dalam Oktaf Natal ini Gereja mengajak kita berefleksi mengenai kemartiran. Kita baru memasuki pekan Natal dan gemerlap suasana Natal masih belum memudar. Kita bersukacita merayakan Allah Putra yang lahir kedunia sebagai manusia. Kita pun yang memilih untuk mengikuti Kristus pantas berbahagia karena Allah senantiasa berserta kita. Namun justru hari ini kita diajak untuk langsung merenungkan kisah St. Stefanus – orang yang dibunuh karena imannya akan Kristus.

Di Sierra Leone, tempat saya bertugas saat ini, ada begitu banyak ‘Gereja’. Semua mengakui bahwa mereka adalah pengikut Kristus. Orang setempat kadang sulit membedakan gereja yang satu dengan gereja yang lain. Pernah beberapa kesempatan sejumlah orang menyatakan keinginan mereka untuk dibaptis menjadi Katolik. Namun sebenarnya bukan iman akan Kristus yang memikat hati mereka. Yang membuat mereka ingin menjadi Katolik adalah harapan akan menerima sesuatu yang bersifat materi. Pernah ada yang berkata, “Pastor, berikan kepada saya sepatu baru, maka saya akan datang ke Gereja (Katolik).” Harapan akan mendapat bantuan material, dibangunnya fasilitas pendidikan atau kesehatan, masih menjadi latar belakang seseorang untuk menjadi Katolik. Menjadi Katolik dengan harapan bahwa kehidupan akan berubah menjadi mudah dan menguntungkan merupakan pemikiran yang umum di tempat ini.

Kisah St. Stefanus dalam bacaan pertama hari ini justru terbalik dengan pemikiran di atas. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti serta merta kehidupan kita bebas dari kesulitan dan beragam drama kehidupan. Kita bisa melihat di sekitar kita. Sudah berapa kali orang yang melakukan hal yang baik dan benar justru disudutkan, difitnah, dan dikriminalisasikan. Gereja ingin mengajak kita untuk beriman secara sadar sejak permulaan. Bahwa merayakan kelahiran Kristus ke dunia dan memilih untuk mengikuti jejak-Nya murid akan mengarahkan kita kepada jalan kemartiran. Kita bisa melihat bagaimana St. Stefanus difitnah dan akhirnya dibunuh. Bukan karena ia melakukan hal yang salah. Namun karena ia melakukan hal yang benar..

Pasti kita sering juga mengalami hal serupa. Disalahpahami ketika membantu seseorang, atau dikucilkan karena menolak untuk terlibat perbuatan salah yang terstruktur di tempat kerja atau di masyarakat. Itu semua merupakan bentuk-bentuk kemartiran yang nyata. Tidak mudah untuk berpegang pada iman kita, walaupun kita tahu hal itu yang tepat. Maka dalam bacaan Injil Yesus telah meneguhkan kita, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” (Mat. 10:19-20)

Merayakan Natal berarti juga menyadari dan mengimani betul bahwa Allah senantiasa ada di tengah kehidupan kita. Ia tidak diam duduk di atas langit, tetapi masuk dalam setiap segi kehidupan kita. Allah menderita bersama kita, berjuang bersama kita, dan berjalan bersama kita. Panggilan kemartiran akan selalu kita terima selama kita mengikuti Kristus. Maka marilah kita memohon, agar Roh Kudus sendiri yang membela dan menopang kita untuk mejadi martir-martir Cinta Kasih Allah. Tuhan memberkati.

(Br. Kornelius Glossanto, SX – Misionaris Xaverian)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s