Mari Bagikan Sukacita!

Renungan Harian Misioner
Kamis Prapaskah V, 25 Maret 2021
HARI RAYA KABAR SUKACITA

Yes. 7:10-14; 8:10; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38

Hari ini kita harus ikut bersukacita pada Hari Raya Kabar Sukacita ini sebagaimana Maria bersukacita atas kabar keselamatan yang dibawa oleh Malaikat Gabriel. Sesungguhnya salam Gabriel juga merupakan kabar baik bagi kita semua karena undangan keselamatan diperuntukkan bagi seluruh dunia. Jika kita memperhatikan dengan seksama, peristiwa di mana Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel bahwa Ia akan mengandung Juru Selamat bagi dunia, ditempatkan dalam peristiwa pertama dalam peristiwa-peristiwa gembira. Selanjutnya dalam peristiwa kedua sampai kelima senantiasa berisi tentang sukacita atas segala perjumpaan yang terjadi. Sukacita merupakan kata kunci perjumpaan Maria dengan Elisabet saudarinya. Suara Maria dan kehadiran Yesus dalam rahimnya membuat Yohanes ikut “melonjak kegirangan” (Luk. 1:44). Dalam Peristiwa ketiga, sukacita juga memenuhi seluruh daerah Betlehem ketika Sang Bayi, Juruselamat dunia lahir dan diberitakan oleh nyayian para malaikat bahkan berita tersebut dipermaklumkan kepada para gembala sebagai suatu kesukaan besar. Selanjutnya, kita juga merasakan bagaimana Simeon di masa tuanya boleh bersukacita karena diperkenankan untuk berjumpa dengan Bayi Yesus ketika dipersembahkan di Bait Allah. Dalam peristiwa kelima, sukacita walaupun sedikit diawali dengan kekecewaan karena Kanak-kanak Yesus ditemukan kembali setelah “menghilang” dari rombongan dan akhirnya diketemukan di Bait Allah.

Semua peristiwa di atas dirasakan dan terjadi lewat perjumpaan. Perjumpaan ini selalu didahului dengan salam yang memberikan suatu makna kebahagiaan. Saya sangat setuju bahwa salam dan sapaan kerap kali bisa membuat perasaan sukacita muncul. Sewaktu masih menjalani masa perkuliahan sebagai seorang calon Imam, ada suatu tugas praktik yang harus kami jalani dalam program ‘proyek harapan’ di mana kami yang terbagi dalam kelompok-kelompok di utus untuk bertugas di rumah sakit. Tujuan praktik ini adalah untuk melatih kepekaan afeksi peserta melalui perhatian kepada mereka yang sedang sakit dan kehilangan harapan serta bisa hadir di sekeliling mereka agar senantiasa tetap memiliki harapan untuk hidup dan percaya akan belas kasih Tuhan. Waktu itu saya merasakan pengalaman piket di ruang IGD, ICU, di ruang khusus lansia dan ruang khusus anak-anak. Yang paling saya ingat betul pesan seorang Suster Biarawati yang mendampingi kami, bahwa yang selalu diingat ketika ber’pastoral care’ adalah melaksanakan prinsip 5S yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun. Awalnya saya hanya menganggap ini sebagai sebuah standar yang wajib untuk dilaksanakan. Tetapi ketika saya menjalaninya betapa kekuatan dari 5S ini luar biasa. Seperti obat yang lebih mujarab dari sekadar obat medis. Saya sungguh merasakan dan melihat betapa senyuman dan sapaan saya memberikan semangat yang luar biasa bagi pasien yang saya kunjungi. Saya dapat merasakan yang sakit “menjadi sehat” sekalipun sakitnya parah, ketika mereka membalas senyuman saya. Bahkan ada beberapa yang berusaha melambai untuk membalas sapaan saya. Saya juga masih ingat betul bahwa ada yang perlu ditambahkan dari prinsip 5S ini: sentuh. Suster yang mendampingi kami berkata, “Jika kalian melihat bahwa pasien bisa disentuh misalnya karena penyakitnya tidak menular, maka sentuhlah dengan lembut dan mulai mendoakannya”. Selanjutnya apa yang terjadi? Tentu efeknya lebih luar biasa lagi. Si sakit merasakan didukung, dikuatkan dan merasa dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihinya. Lalu bagaimana refleksi kita dan tindakan apa yang tepat ketika masa pandemi ini datang? Prinsip 5S tentu sulit untuk dilakukan.

Saat ini kita mungkin bertanya bagaimana senyuman kita menjadi berarti lagi bagi yang lain terutama bagi mereka yang menderita karena sakit atau bencana alam, ketika kita harus menggunakan masker? Mengunjungi yang sakit pun sudah sulit untuk dilakukan bahkan sedapat mungkin jangan dikunjungi. Bagaimana kita dapat menyentuh mereka yang sakit, bahkan ketika berjabat tangan saat ini adalah hal yang tabu? Bagaimana kita dapat memberi salam satu dengan yang lain ketika bicara pun dibatasi? Namun meskipun demikian, kabar gembira dan saling memberi sukacita tetap dan harus bisa kita berikan sebagai panggilan hidup setiap orang beriman. Tentunya dengan cara berbeda.

Dunia senantiasa berubah dan mencari caranya untuk terhubung satu dengan yang lain. Melalui perjumpaan online toh kita masih bisa saling menyapa satu dengan yang lain. Meskipun di tengah situasi yang serba sulit ini kita diajak tetap mampu memberikan kabar sukacita khususnya bagi mereka yang mengalami penderitaan sebagai dampak dari pandemi ini. Sebagai seorang imam saya tetap berusaha menyapa dan menguatkan umat melalui sharing iman di grup-grup whatsapp, memberikan renungan secara online, mengisi doa online dengan kelompok-kelompok tertentu, membuat meme rohani yang tentu juga bisa dilakukan oleh seorang awam. Di tempat kerja, meskipun saya hanya mengunakan masker, saya tetap bisa menyapa orang-orang yang saya jumpai dengan memberi salam lewat suara disertai dengan sapaan tangan terkatup dan sedikit membungkuk. Setidaknya ini memberikan harapan bahwa kita tidak sendiri melewati masa-masa yang sulit ini. Seperti Maria yang mengerti betul bagaimana situasi yang dialami Elisabet saudarinya yang mengandung di masa tuanya. Ia masih sempat untuk mengunjungi saudarinya meski ia pun mengalami kesulitan berjalan jauh karena sedang mengandung. Maria tahun betul kehadirannya akan memberi kebahagian bagi saudarinya.

Saya juga melihat di masa prapaskah ini ada saudara-saudari kita yang dengan keberanian berkeliling membagi-bagikan makanan kepada mereka yang terdampak sambil tetap memperhatikan protokol kesehatan. Atau sekurang-kurangnya kita tidak menghakimi mereka yang terkena covid-19 dengan cara menghina, menyingkirkan bahkan menjauhi mereka dengan cara yang sangat ekstrim. Kita bisa menelepon mereka atau melalui video call dengan mereka yang menjalani isolasi mandiri kita bisa menyapa, memberikan sedikit lelucon untuk mencairkan suasana dan mengajak mereka untuk sama-sama berdoa. Setidaknya di tengah situasi yang serba sulit ini, kita tetap mampu untuk hadir sebagai perpanjangan tangan dan belas kasih Tuhan khususnya kepada mereka yang menderita. Sehingga orang-orang yang menderita senantiasa percaya bahwa melalui kita, mereka sungguh melihat dalam iman akan arti Imanuel itu sendiri yakni Allah beserta kita (Yes. 8:10b). Percayalah! Sapaan dan salammu adalah kabar sukacita Allah yang luar biasa yang bisa kamu berikan di masa yang sulit seperti ini…

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Sakramen rekonsiliasi: Marilah kita berdoa agar melalui sakramen rekonsiliasi, kita membarui diri lebih dalam, sehingga dapat merasakan belaskasih Allah yang tiada batasnya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perhatian pada yang pokok: Semoga umat Katolik selalu belajar untuk lebih memperhatikan hal-hal yang pokok, baik jiwa maupun raga. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Dalam bulan yang dipersembahkan kepada Santo Yoseph ini, izinkanlah kami mendapat Roh, yang terbuka untuk mendengarkan Kehendak-Mu, supaya dapat mengabdi Keluarga Kudus. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s