Menerima Sabda Allah dengan Iman dan Ketaatan

Renungan Harian Misioner
Selasa Biasa Pekan XV, 13 Juli 2021
P. S. Henrikus

Kel. 2:1-15a; Mzm. 69:3,14,30-31,33-34; Mat. 11:20-24

Bacaan Injil (Mat. 11:20-24) berkisah tentang Yesus yang mengecam beberapa kota seperti Khorazim dan Betsaida. Mengapa? Di tempat itulah Yesus melakukan banyak mukjizat. Di dalam kitab-kitab Injil tidak tercatat tentang terjadinya mukjizat di Khorazim dan Betsaida. Mungkin kedua desa itu begitu dekat dengan Kapernaum yang lebih besar sehingga mukjizat yang terjadi di Kapernaum disaksikan oleh penduduk dari ketiga desa ini. Disebutkan pula Tirus dan Sidon. Tirus dan Sidon merupakan kota-kota pelabuhan Fenisia terkemuka, sasaran hukuman ilahi pada zaman Nebukadnezar dan Aleksander. Kota-kota ini tidak pernah mendengar Sabda Tuhan. Yesus tidak pernah membuat mukjizat di kota-kota ini. Seandainya Tirus dan Sidon memperoleh kesempatan yang dimiliki kota-kota Yahudi, kata Yesus, pastilah mereka sudah lama bertobat. Namun, kesempatan-kesempatan semacam itu tidak diberikan pertama-tama kepada penduduk kota Tirus dan Sidon, melainkan sesuai maksud Allah, Yesus diutus kepada umat Israel lebih dahulu. Ketidakpercayaan dan sikap acuh tak acuh orang Khorazim dan Betsaida atas kesempatan rohani yang diberikan kepada mereka dicela dan dikecam oleh Yesus. Mengenai Kapernaum, sebagai tempat tinggal Yesus, yang memiliki kesempatan terbesar dari semua, pertanyaan retoris, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit, menyiratkan jawaban yang negatif: “Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati” (Mat. 11:23). Keadaan penduduk Kapernaum pada hari penghakiman akan lebih parah daripada keadaan penduduk Sodom, kota yang merupakan lambang kejahatan.

Mengapa Yesus kecewa dengan komunitas ini? Kata-kata dukacita yang diungkapkan Yesus dapat berarti bencana, malapetaka, kesulitan, kesedihan, kesengsaraan, duka atau kemalangan. Yesus mengungkapkan duka mendalam dan kecemasan atas malapetaka dan kehancuran yang bakal datang sebagai akibat dari kebodohan dan ketidakpedulian. Mengapa Yesus meratapi dan mengeluarkan peringatan yang keras? Orang-orang Khorazim dan Betsaida telah diberkati dengan kunjungan Allah. Mereka mendengar Kabar Gembira dan mengalami karya-karya ajaib yang Yesus kerjakan bagi mereka. Namun, mereka menanggapinya dengan sikap tak acuh. Yesus mencela mereka karena mereka tidak melakukan apa-apa, mereka tidak peduli terhadap sabda-Nya. Singkatnya, mereka tidak bertobat.

Jika Yesus mengunjungi komunitas kita saat ini, apa yang akan Ia katakan? Apakah Ia akan memberikan peringatan seperti yang Ia berikan kepada orang Khorazim dan Betsaida? Dan bagaimana tanggapan kita? Ke mana saja Yesus pergi, Ia melakukan karya-karya agung untuk menunjukkan kepada orang-orang betapa Allah mengasihi mereka. Apabila kita secara jujur merefleksikan perjalanan hidup kita, kita akan menemukan karya-karya agung atau mukjizat yang dilakukan Allah melalui Yesus untuk kita sepanjang perjalanan hidup hingga saat ini. Melalui Yesus, Allah senantiasa mengunjungi dan memberkati kita. Allah menghendaki supaya kita bertobat agar kita layak menerima berkat selama hidup di dunia ini serta mengalami keselamatan pada hari penghakiman kelak. Kita sering membaca, mendengar dan merenungkan sabda Yesus. Kita tahu ajaran-ajaran dan perintah-perintah-Nya. Kita bersatu dengan Yesus setiap kali kita merayakan Ekaristi. Kesempatan dan anugerah rohani yang Allah berikan kepada kita hendaknya menjadi alasan dan kekuatan bagi kita untuk senantiasa bertobat.

Pertobatan menuntut perubahan, yakni perubahan hati dan jalan hidup. Sabda Allah mengubah hati dan jalan hidup kita. Sabda Allah adalah pemberian yang hidup. Sabda Allah menyelamatkan kita dari kehancuran: kehancuran hati, pikiran, jiwa serta tubuh. Kemarahan Yesus tidak pertama-tama ditujukkan kepada kita, tetapi diarahkan kepada dosa dan segala sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kehendak Allah. Dalam cinta, Yesus memanggil kita untuk berjalan di jalan kemerdekaan dan kebenaran-Nya, rahmat dan belaskasihan, keadilan dan kekudusan-Nya. Apakah kita menerima Sabda-Nya dengan iman dan ketataan atau dengan keraguan dan sikap acuh tak acuh?

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s