Pengikut KRISTUS? Pasti Hidup Dalam Kasih!

Renungan Harian Misioner
Kamis, 28 Juli 2021
P. S. Marta

Kel. 40:16-21,34-38; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11; Mat. 13:47-53
Bacaan khusus: 1Yoh. 14:7-16

Hari ini kita merayakan peringatan wajib Santa Marta. Bacaan pertama diambil dari Surat Pertama Yohanes 4:7-16. Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1991, memberi judul pada perikop yang memuat ayat itu: “Allah adalah kasih.” Dalam perikop ini ada beberapa hal yang sangat menarik untuk mendapatkan perhatian. Pertama, pada ayat 7-8 tertulis, “Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal orang-orang yang mengklaim “beragama” dan dengan setia menjalankan praktik-praktik keagamaan mereka namun perilaku mereka jauh dari kasih yang sejati. Apakah orang-orang tersebut mengenal Allah? Menurut Yohanes, orang-orang tersebut tidak mengenal Allah! Kalau pun mereka mengklaim diri mengenal Allah, Allah yang mereka imani bukan Allah – seperti yang diwahyukan oleh Yesus, karena Allah yang diwartakan Yesus adalah Allah yang penuh kasih. Kita yang meyakini bahwa Allah adalah kasih, mestinya hidup dalam kasih karena “barangsiapa tetap berada dalam kasih, ia tetap berada dalam Allah dan Allah di dalam dia” (ayat 16b). Kalau kita menyatakan diri bahwa kita ini anak Allah karena kita pengikut Kristus namun dalam kehidupan sehari-hari tidak menampakkan kasih, kita hidup dalam kebohongan, kebenaran tidak ada dalam diri kita.

Kedua, “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” (ayat 10a). Kita sering berpikir, kalau kita berdoa, kalau kita beribadah, itu semua sebagai bentuk kasih kita kepada Allah. Oleh karena kita sudah menjalankan praktik-praktik rohani seperti yang disebutkan tadi, kita berharap Allah mengasihi kita dengan memberikan apa yang kita minta dalam doa. Cara berpikir seperti ini tidak sesuai dengan kebenaran ayat 10a ini. Sebelum kita mencintai Allah dalam bentuk doa dan ibadah, Allah telah lebih dahulu mencintai kita dengan mengutus Yesus Kristus Putera-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (ayat 10b). Oleh karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita, doa-doa kita, puji-pujian dan ibadat kita hanyalah sebagai bentuk ucapan syukur atas kasih-Nya itu. Doa pertama-tama adalah ucapan syukur atas kasih yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Ketiga, keyakinan bahwa Allah sungguh mengasihi kita mendorong Yohanes untuk meminta kepada para muridnya supaya hidup saling mengasihi: “Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (ayat 11). Yohanes menekankan pentingnya untuk saling mengasihi ini karena “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (ayat 12b). Kamu ingin supaya Allah tinggal dalam dirimu dan supaya kasih-Nya sempurna dalam dirimu? Bila kamu menginginkan hal itu terjadi, hiduplah saling mengasihi!

Permenungan kita hari ini membuat kita berintrospeksi diri. Kadang-kadang kita berpikir seperti orang-orang Farisi bahwa kita ini lebih baik dibandingkan orang-orang lain karena kita lebih banyak berdoa dan menjalankan praktik-praktik rohani. Ternyata bukan praktik-praktik doa dan ibadat yang menunjukkan bahwa kita mengenal Allah dan dekat dengan-Nya melainkan tindakan kasih kita. Kalau dari diri kita mengalir perbuatan-perbuatan kasih, tanpa memamerkan dan menyombongkan diri, orang lain akan melihat bahwa kita mengenal dan dekat dengan Allah. Marilah kita hidup dalam kasih dengan saling mengasihi satu sama lain.

(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persahabatan Sosial: Kita berdoa agar dalam situasi konflik sosial, politik dan ekonomi, kita berani dan penuh semangat menjadi sarana dialog dan persahabatan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para pendidik: Semoga para pendidik semakin hari semakin kreatif, dengan berusaha mengembangkan materi pendidikan melalui media sosial dan teknologi. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah melimpahkan Roh Sukacita, agar kami boleh merasakan sukacita dalam mendidik para muda, seperti Santo Yoseph, yang bersama Bunda Maria mendampingi pertumbuhan Sang Putera, dalam Keluarga Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s