Menyerap dan Memantulkan Kemurahan Hati ALLAH

Renungan Harian Misioner
Selasa, 10 Agustus 2021
Pesta S. Laurensius

2Kor. 9:6-10; Mzm. 112:1-2,5-6,7-8,9; Yoh. 12:24-26

Renungan Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Kemurahan hati dan kerahiman Allah, terus-menerus Dia tawarkan kepada manusia. Sepanjang zaman, Tuhan Allah kita senantiasa hadir dan menyertai umat-Nya, dan memelihara hidup dengan berbagai cara yang ajaib. Sekalipun manusia tidak selalu menerima tindakan pemeliharaan-Nya, Allah tidak menyerah. Demi hidup dan keselamatan kita, Allah terus-menerus dan berulang kali menunjukkan bahwa Dia sungguh hadir dan menjamin kehidupan kita. Pengalaman para nabi menunjukkan kebenaran ini. Pengalaman Yesus menegaskan kembali apa yang dilakukan Allah ini. Dan pengalaman Gereja melestarikan pengakuan iman ini, bahwa Allah kita adalah Allah yang menjamin kehidupan kita: rohani maupun jasmani. Namun, untuk mendapatkan jaminan hidup dari Allah itu, kita harus bekerjasama dengan rahmat dan rancangan-Nya.

Zaman Nabi Elia
Para Nabi dipanggil dan diutus oleh Allah, untuk menyampaikan tawaran keselamatan yang Dia rancang bagi umat-Nya. Reaksi atau tanggapan yang tidak kooperatif, kadang membuat para nabi, seperti Elia, merasa gagal dalam tugasnya dan ingin segera mengakhiri hidupnya.

Namun rancangan Allah adalah rancangan untuk hidup dan keselamatan, bukan rancangan untuk kebinasaan dan maut. Kita diingatkan tentang hal ini, ketika Allah membawa kita memasuki Hari Pertama dalam Pekan XIX Masa Biasa, pada Minggu, 08 Agustus 2021 kemarin. Elia sudah menyerah, pasrah, biar hidupnya segera berakhir, karena perjalanannya menuju Gunung Tuhan di Horeb terasa sangat jauh. Di dalam situasi di mana kehidupan terancam oleh maut karena tidak ada yang dimakan atau diminum, Allah menghadirkan diri untuk meyakinkan Elia, bahwa Dia menjamin kehidupannya. Dua kali Elia diberi-Nya roti dan air, sehingga dia menjadi kuat dan mampu berjalan menuju perjumpaan dengan Tuhan Allah di gunung-Nya, di Horeb (I Raja-raja 19, 5. 7-8).

Zaman Yesus & Zaman Gereja
Rancangan keselamatan dan hidup yang dikerjakan Allah bagi umat-Nya itu mencapai puncak-Nya di zaman Yesus. Putera-Nya Yesus Kristus, Dia hadirkan sebagai “Roti Hidup” bagi dunia. Dan sebagaimana pengalaman para nabi, demikian tawaran kepada keselamatan dan hidup melalui Yesus Kristus sebagai “Roti Hidup yang turun dari surga” itupun disampaikan berulang kali (Yohanes 6:41. 48. 51).

Demikian, setelah Yesus berulang kali memperkenalkan diri-Nya sebagai “Roti Hidup yang telah turun dari surga, untuk memberi hidup kepada dunia,” Dia kemudian menegaskan Firman-Nya, yang menjadi semacam “jembatan” yang melanjutkan rancangan hidup dan tawaran keselamatan itu dari Zaman Para Nabi sampai ke Zaman Yesus untuk diteruskan ke Zaman Gereja, ketika Yesus menegaskan tentang diri-Nya sebagai Roti Hidup itu, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan itu, ialah daging-Ku, yang Kuberikan untuk hidup dunia” (Yohanes 6:51). Firman tentang Roti Hidup yang dihidangkan sebagai “Tubuh dan Darah Yesus” inilah, yang menjadi bukti kesinambungan dari tawaran Allah kepada hidup dan keselamatan ke Zaman Gereja hingga seterusnya (Bdk. Lukas 22, 19-20 par).

Hari Kemartiran = hari kelahiran ke dalam hidup yang kekal
Pada Zaman Gereja, ketika iman akan Kristus menyebar keluar dari Yerusalem hingga ke ujung bumi, khususnya memasuki wilayah kekaisaran Romawi, para pengikut Kristus harus menghadapi hidup yang sulit. Karena iman akan Yesus itu, mereka sering dianiaya hingga kehilangan nyawa. Salah satu martir, yang kita peringati hari ini adalah Santo Laurensius, seorang diakon, yang wafat tiga hari setelah Paus Sixtus dan rekan-rekan diakonnya yang lain dibunuh.

Kemartiran, dalam terang Firman Tuhan hari ini, sesungguhnya merupakan tanggapan yang paling ekstrem menyambut “kemurahan hati Allah” (II Korintus 9, 9). Seseorang yang berani memberikan hidupnya kepada Allah, pastilah dia yang sudah mengetahui rahasia “kebenaran Allah yang tetap untuk selama-lamanya” itu, sehingga dirinya tidak ingin lepas lagi, melainkan erat bersatu dengan Sang Kebenaran itu sendiri, sekalipun dia harus kehilangan nyawanya. Kemartiran yang dilalui para pengikut Kristus, mengulangi kembali pemberian diri Yesus sendiri, sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, agar dapat menghasilkan banyak buah (Yohanes 12, 24). Dan sejarah Gereja membuktikan kebenaran Firman ini, dengan menegaskan adagium “Darah para martir adalah benih Kekristenan.”

Sikap kooperatif, yang menyambut pemberian diri Allah dalam rupa Roti yang turun dari surga itulah sesungguhnya yang diharapkan oleh Allah. Namun keinginan hati Allah itu tidak selalu Dia temui di antara manusia. Orang-orang kepadanya Dia berikan Roti Hidup itu, malah tidak respek tetapi mempertanyakannya (Yohanes 6:42). Dengan sikap yang tidak kooperatif itu, seseorang bahkan menutup kesempatan untuk mendapatkan hidup dan keselamatan yang ditawarkan kepadanya [Bdk. Apa yang terjadi saat Yesus pulang ke Nazaret, (Markus 6, 3-5)].

Santo Laurensius, doakanlah kami, supaya mampu membuka diri untuk menyerap kemurahan hati Allah dan lewat tutur kata, sikap, dan tingkah laku kami, kami boleh memantulkan kemurahan hati-Nya itu kepada sesama kami. Amin (RMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s