Relasi Persaudaraan sebagai Peristiwa Iman

Renungan Harian Misioner
Rabu, 11 Agustus 2021
P. S. Klara

Ul. 34:1-12; Mzm. 66:1-3a,5,8,16-17; Mat. 18:15-20

Di banyak negara, hampir selalu ada biara Santa Clara. Paroki Santa Clara juga ada. St. Clara bukan sekedar saudara dari St. Fransiskus Assisi, tetapi mereka sungguh “bersaudara sebagai sesama beriman dengan dijiwai oleh Roh Cinta kasih”. Relasi mereka dari sudut kemanusiaan ditumbuhkan sampai mengakar pada iman yang mendalam: saudara dalam Kristus. Oleh sebab itu, kalau ada kebersamaan pelayanan dan persaudaraan dalam hidup komuniter antara mereka, yang menjadi murid Clara dan Fransiskus, maka jauh melampaui organisasi atau budaya serta perasaan afektif: sampai pada akarnya dalam Tuhan Yesus Kristus: “Kamu adalah sahabat-sahabatku”.

BACAAN PERTAMA – ULANGAN 34:1-12:
Kalau kita membaca nas ini, dapat saja bayangan kita ,menyusuri sejarah sosial anak cucu Abraham-Ishak-Yakub, yang diantar Musa ke bibir Tanah Suci. Namun, seseorang, yang membacanya dari sisi bakti pelbagai religi, yang mendasarkan diri kepada Pengabdian Musa, dapat saja tetap mendatar saja mengamati tata lahir kebersamaan suku-suku dan bangsa tertentu. Kita semua diundang untuk menyelami sisi iman, yang menghubungkan Musa dan semua orang yang dilayani dengan Allah Tuhan mereka: sampai ke lubuk hati mereka yang terdalam. Bacaan ini juga secara jelas mengajak kita masuk ke dalam keyakinan, bahwa iman kepada Allah merupakan gelombang-gelombang darah kebatinan umat Israel, ya anak cucu Yakub. Oleh sebab itu, pelaku dalam bacaan ini adalah Allah sendiri: yang “membaringkan Musa ke dalam peristirahatannya yang terakhir-pun juga Allah sendiri”,- bukan penyakit atau kecelakaan kodrati. Sikap dasar ini boleh kita resapkan dalam hati, ketika pada masa sekarang, kita harus mendampingi saudara atau rekan kita “dipanggil Tuhan” (mungkin saja karena sesuatu penyakit atau wabah). Relasi antara Fransiskus dan Clara juga sampai ke titik darah yang terakhir: ada dalam naungan cinta kasih ilahi.

REFLEKSI KITA: Marilah kita mengendapkan ke dalam jiwa kita peristilahan, yang sering kita ungkapkan “Ibu dipanggil Tuhan” atau “Ayah berpulang”, “kakak kembali ke Rumah Sejati”, maka “semoga istirahat dalam damai” (“requiescat in pace”). Segala yang kita alami, sampai pada napas terakhir adalah “dalam pelukan Allah yang penuh kasih”.

BACAAN INJIL – MATIUS 18:15-20:
Interaksi antara kita dengan saudara-saudari kita dapat saja senantiasa jernih dan serba penuh kasih. Namun tidak jarang ada pula kesalahpahaman. Lalu ketika mereka berbuat salah kepada kita, khususnya andaikata sakit keras atau menjelang meninggal, maka relasi antara kita dengan saudara kita itu akan terasa lebih mendalam (mendalam pahitnya atau mendalam manisnya). Sebab, kita bersaudara, secara sosial maupun secara imani. Sebab “Bapaku ya Bapamu”,- kita semua dipeluk oleh Bapa yang satu dan menjadi Keluarga Allah. Tuhan Yesus dalam bacaan ini diingat terus oleh para Rasul, bahwa menjanjikan, betapa relasi antar-kita ada dalam berkah Allah, melampaui segala komunikasi manusiawi dan meresapi seluruh pribadi maupun waktu hidup kita. Oleh sebab itu, “mengikat atau melepaskan” suatu persaudaraan dan persahabatan serta ikatan cinta kasih, bukanlah sekedar tindakan yuridis, sosial dan psikis, tetapi sampai kepada sesuatu yang batiniah dan rohaniah.

REFLEKSI KITA: sejauh manakah persaudaraan dan persahabatan-persahabatan kita merupakan sekadar peristiwa, yang kebetulan terjadi, ataukah sungguh peristiwa iman? Apakah keluarga dan sahabat kita benar-benar rekan iman kita? Marilah kita mohon agar Roh cinta kasih menaungi kita sedalam-dalamnya sampai meresapi relasi kita secara mendalam. Marilah kita memohon Santa Clara, untuk memuliakan Allah dalam segala relasi persaudaraan dan persahabatan kita.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

One thought on “Relasi Persaudaraan sebagai Peristiwa Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s