Jangan Cemas, Berjaga-Jagalah Senantiasa!

Renungan Harian Misioner
Kamis, 26 Agustus 2021
P. S. Zepherinus

1Tes. 3:7-13; Mzm. 90:3-4,12-13,14,17; Mat. 24:42-51

Situasi pandemik yang sedang melanda dunia telah mendatangkan kecemasan dan ketakutan bagi banyak orang. Jutaan orang terinfeksi dan meninggal dunia karena virus ini. Situasi ini mengajak kita orang Kristen untuk lebih waspada dan merefleksikan hidup iman kita sendiri.

Kitab Suci selalu mempersiapkan kita untuk kedatangan hari TUHAN. Secara khusus, Penginjil Matius dalam bacaan Injil hari ini mengungkapkan dengan istimewa, tetapi sekaligus penegasan soal pilihan kita dalam mempersiapkan diri akan kedatangan TUHAN. Dua karakter hamba dihadirkan oleh Yesus dalam perumpamaan untuk mengarahkan pilihan para Rasul dan juga kita saat ini, dalam mempersiapkan kedatangan hari TUHAN. Persiapan akan kedatangan hari TUHAN itu bukanlah soal hitungan hari, bulan, atau tahun, atau memastikan dengan hitungan matematis. Persiapan kita adalah sebuah proses seumur hidup. Menjalani apa yang telah diajarkan Yesus, adalah cara kita mempersiapkan diri sepanjang hidup kita. Tindakan atau perbuatan baik kita bukan untuk mendatangkan pujian atau memberi kesan yang baik kepada orang lain, atau bahkan kepada TUHAN.

Kita memilih untuk menjalani kehidupan yang baik, karena kita meyakini bahwa ini adalah pilihan hidup yang benar-benar layak untuk dijalani, yang pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan bagi banyak orang. Inilah karakter dari hamba yang pertama, yang setia dengan tugasnya, terlepas dari apakah tuannya berada di rumah atau tidak. Dia hanya puas dengan apa yang dilakukannya, karena menyadari statusnya sebagai pelayan. Pada titik inilah dia menyadari perannya dalam rencana keselamatan ALLAH. Dia menemukan sukacita, kebahagiaan, dan kekuatan melalui apa yang dilakukannya, karena menyadari panggilan hidupnya ini. Karakter hamba ini tidak membutuhkan pengawasan dalam bentuk apa pun karena motivasi untuk melakukannya itu datang dari dalam dirinya sendiri, bukan sebuah paksaan dari luar. Dalam perspektif Yesus, gambaran hamba ini adalah hamba yang setia dan bijaksana. Kesetiaannya itu berbuah pada apa yang diterima dari tuannya, “sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya”(Mat. 24:47). Pada saat kita menjalani hidup dan panggilan kita dengan setia dan mengasihi sesama kita, maka kita juga akan diberi tanggung jawab yang lebih besar. Kasih kita kepada sesama, bertumbuh dari cara kita mengasihi diri kita sendiri. “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri” (Mat. 19:19). Ketika kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri secara otentik, maka kita juga tidak sanggup untuk mencintai lebih banyak orang lagi dalam hidup kita.

Panggilan kita menjadi orang Kristen bukan berarti serta merta menjadikan kita orang yang sempurna atau kudus. Justru dalam kelemahan kita sebagai manusia itulah ALLAH menghendaki agar cinta-Nya yang telah diberikan kepada manusia itu menjadi cara kita juga mengejar kesempurnaan bersama Dia. Rasul Paulus menyadari panggilan hidupnya sendiri, dan tahu bahwa tidak ada kesempurnaan yang utuh selama manusia masih berada di dunia ini. Karenanya, Rasul Paulus mendorong umatnya pada saat itu dan juga kita pada saat ini untuk terus bertekun dalam doa, agar iman kita semakin ditambahkan dalam upaya mengejar kekudusan, hidup bersama ALLAH. “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan ALLAH dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya” (1Tes. 3:13). Oleh karena itu, hendaknya kita tidak perlu khawatir tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya, atau akan hari penghakiman, seolah-olah Tuhan ingin menghukum kita dengan mengirim kita ke neraka. Yang penting bagi kita, sebagaimana dinasihati oleh Rasul Paulus adalah menjalani hidup kita sehari-hari dalam kekudusan dan kebajikan di hadapan TUHAN.

Pada akhirnya, kita menyadari bahwa semuanya bergantung pada TUHAN sendiri. Sikap kita sebagai umat-NYA adalah selalu waspada dan berjaga-jaga tentang kapan dan bagaimana TUHAN akan datang ke dalam hidup kita, di sini, dan sekarang. TUHAN selalu hadir dalam keseharian hidup kita, namun kita sering membiarkan Dia melewati kita kerena kita terlalu sibuk dengan semua aktivitas kita. Situasi pandemik ini mengajak kita untuk semakin menyadari kehadiran TUHAN yang lebih nyata. Waspada berarti memperhatikan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga ketika Dia datang di akhir zaman atau ketika kita menghembuskan napas terakhir, kita tahu bahwa Dialah yang sedang menjemput kita ke dalam kerajaan-Nya. Melalui kehidupan yang penuh doa, merefleksikan karya TUHAN dalam hidup kita, dan berpartisipasi dalam karya kasih kita kepada sesama, maka kita akan menemukan kasih ALLAH hadir di sekitar kita. Dengan demikian, kita tidak perlu cemas akan hari penghakiman-Nya!

(RP. Gabriel Joseph, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s