Berjaga dalam Kekudusan

Renungan Harian Misioner
Jumat, 27 Agustus 2021
P. S. Monika

1Tes. 4:1-8; Mzm. 97:1,2b,5-6,10,11-12 ; Mat. 25:1-13

Hari ini Gereja merayakan peringatan Santa Monika, ibu dari St. Agustinus. Dalam bacaan Injil (Mat. 25:1-13), Yesus menyampaikan kepada murid-murid-Nya perumpamaan, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana…” Kita tidak perlu mengulang semua teks dari perikop Injil yang disebutkan di atas karena semua pembaca renungan ini pasti sudah hafal ceritanya. Pada akhir dari perumpamaan itu dikisahkan bahwa lima gadis bijaksana diizinkan masuk dalam ruang pesta perjamuan nikah, sementara lima gadis bodoh tidak bisa masuk karena saat mempelai datang mereka sedang membeli minyak dan saat kembali ke ruang pesta pintu sudah ditutup. Setelah menyampaikan perumpamaan itu, Yesus berkata, “Karena itu, berjaga-jagalah sebab kalian tidak tahu akan hari maupun saatnya.”

Pesan dari perumpamaan ini sangat jelas. Yesus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya tentang perlunya mempersiapkan diri untuk mengantisipasi datangnya kematian. Datangnya kematian seperti datangnya pengantin dalam perumpamaan itu, tidak bisa dipastikan. Sepuluh gadis itu tahu bahwa pengantin akan datang tapi mereka tidak tahu persis kapan pengantin tiba. Gadis yang bijaksana, membawa cadangan minyak secukupnya untuk berjaga-jaga kalau pengantin datang pada larut malam atau bahkan dini hari. Kata penting yang harus digarisbawahi di sini adalah berjaga-jaga. Dalam kehidupan ini kita perlu berjaga-jaga dalam menyambut datangnya kematian. Oleh karena kita tidak tahu persis kapan datangnya maka kita perlu terus berjaga-jaga. Kita tidak bisa mengatakan, “saya akan menyiapkan kematian saya saat saya sudah memasuki masa pensiun” karena banyak orang yang meninggal sebelum mencapai umur enam puluh tahun. Pada masa pandemi Covid-19 ini, banyak orang yang meninggal dalam usia begitu muda secara mendadak.

Apa yang mesti kita lakukan selama masa berjaga-jaga ini? Bacaan pertama (1Tes. 4: 1-8) membantu kita menjawab pertanyaan ini. Sambil menunggu datangnya kematian, kita diundang untuk hidup dalam kekudusan, “Yang dikehendaki Allah adalah supaya kamu semua kudus” (ayat 3a). Paulus dalam perikop ini menyebut salah satu aspek kehidupan yang sedang terjadi di dalam jemaat Tesalonika, “Ia menghendaki supaya kalian menjauhi percabulan. Hendaknya kamu masing-masing hidup dengan isterinya sendiri, dalam kekudusan dan kehormatan, bukan dalam keinginan hawa nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah.” (ayat 3b-5). Apakah kita sudah menghidupi pesan firman ini?

Hidup kudus adalah hidup sesuai dengan firman Allah. Anda dan saya yang rajin membaca renungan dalam website KKI ini mengenal dengan baik firman Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci. Mari kita berjaga-jaga tanpa henti dan bersiap siaga terus-menerus mempersiapkan datangnya kematian dengan menghidupi firman Allah. Firman Allah tidak cukup kita ketahui tetapi harus kita hidupi. Tuhan meminta kita untuk saling mengasihi. Mari kita isi hidup kita dengan perbuatan-perbuatan kasih. Tidak harus perbuatan besar! Perbuatan-perbuatan kecil pun asal kita lakukan dengan penuh cinta juga berkenan kepada Allah. Yang terpenting bukan besar kecilnya perbuatan kita tapi motivasi yang ada di balik perbuatan itu. Meskipun perbuatan kecil tapi kalau kita lakukan dengan cinta yang besar, perbuatan itu akan lebih berarti dari pada perbuatan besar tapi tanpa cinta. Mari kita menjadi kudus dengan melakukan perbuatan-perbuatan kecil dengan (motivasi) cinta yang besar!

(RP. Yakobus Sriyatmoko, SX – Magister Novis Serikat Xaverian di Wisma Xaverian Bintaro, Tangerang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s