Menjala Manusia Supaya Beroleh Hidup Kekal

Renungan Harian Misioner
Kamis, 02 September 2021
P. Martir-Martir Korea

Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11

Danau Genesaret adalah nama lain untuk Danau Galilea yang luas dan dikelilingi oleh perbukitan. Pada zaman Yesus, wilayah di sekitar danau itu sangat padat penduduknya, terdapat banyak kota di sepanjang pantai. Ketika Yesus tiba di sana, Ia melihat para nelayan sedang membasuh jala. Mereka sudah selesai menjala ikan sepanjang malam. Yesus naik ke atas perahu, supaya Dia tidak tertutup oleh kerumunan orang banyak. Dengan berada di atas perahu dan menghadap ke pantai yang berbukit-bukit itu, Yesus tampak jelas dan suara-Nya pun menjadi lebih keras terdengar. Dia menggunakan danau sebagai ruang pertemuan dan perahu sebagai mimbarnya. Perahu melambangkan Gereja, wadah pewartaan, tempat dari mana Yesus menyapa orang banyak yang mau mendengar pengajaran-Nya.

Sesaat setelah Yesus selesai berkhotbah, Ia menyuruh Petrus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala kembali untuk menangkap ikan. Yesus menyuruh para nelayan itu bekerja lagi. Ini suatu gambaran bahwa sebenarnya melakukan kegiatan ibadah pada hari-hari kerja, hanya menyita sedikit waktu kita. Kita diajak mengutamakan saat teduh, sebelum memulai pekerjaan. Mengawali setiap hari dengan bersekutu dengan-Nya, memohon-Nya menguduskan pekerjaan dan hari itu dalam Firman dan doa, agar sepanjang hari itu kita mengalami sukacita bersama Kristus yang menyertai serta mengaruniakan berkat yang berlipat dalam tugas dan tanggung jawab kita. Dengan mengawali hari kita bersama-Nya, maka kita akan menerima segala hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan hari itu dengan sempurna, sehingga hidup kita layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal. Kita akan menerima buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, sehingga dari buah yang banyak itulah maka Bapa dipermuliakan (bdk. Kol 1:9-10; Yoh 15:8).

Keluhan Petrus yang kelelahan dan merasa kalah setelah semalaman tidak menangkap apa-apa menunjukkan kepada kita bahwa ada panggilan pekerjaan yang lebih sukar dilakukan dibandingkan dengan jenis pekerjaan lainnya. Namun seperti para nelayan itu, mereka yang setia di dalam pekerjaannya, akan terlatih dan dikuatkan dengan segala kekuatan kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu degan tekun dan sabar, serta mampu mengandalkan imannya untuk percaya bahwa jika hal itu merupakan kehendak Allah, maka mereka akan berhasil (Kol. 1:11). Sebagai nelayan yang sudah mengenal dengan baik danau itu, mereka tentu menyadari bahwa hasil tangkapan ikan sejumlah itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka tidak dapat mengingkari bahwa itu terjadi karena kuasa Allah yang memberi anugerah kepada mereka yang mau taat mendengar dan melakukan perintah-Nya (Luk. 5:5-7).

Semua orang yang ada di tempat itu takjub oleh karena mukjizat tersebut, sementara Petrus justru tersungkur dan takut di hadapan Yesus, karena ia menganggap dirinya orang berdosa yang pantas dihukum, bukannya ditolong sedemikian rupa. Jika hanya ini yang kita tangkap dari adegan Petrus yang meminta Tuhan pergi dari hadapan-Nya, maka kita masih terikat pada prinsip Perjanjian Lama, yang menganggap orang-orang berdosa tidak layak berada di hadapan Tuhan dan harus dikucilkan. Kita harus dapat melihat bahwa pernyataan Petrus itu adalah ungkapan kerendahan hati dan penyangkalan diri manusia, yang mengakui bahwa dirinya adalah orang berdosa, yang sudah layak kalau Kristus pergi menjauhinya, maka dia pun tersungkur menyembah di hadapan-Nya, memohon supaya Tuhan tidak pergi sebab sungguh-sungguh akan celakalah kita kalau Ia benar-benar meninggalkan kita. Itulah sikap takut akan Tuhan yang harus kita miliki, takut jika Sang Juruselamat pergi dari manusia yang berdosa ini. Pernyataan Yesus, “Jangan takut,” adalah peneguhan bahwa Yesus, Sang Mesias mampu melayakkan mereka yang berdosa untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus. Tuhan melepaskan manusia dari kuasa kegelapan dan memindahkannya ke dalam Kerajaan-Nya karena di dalam Dia mereka ditebus dan diampuni dosanya (Kol. 1:12-14).

Para nelayan yang sebenarnya saat itu dapat beroleh keuntungan besar dari banyaknya ikan yang didapat justru meninggalkan tangkapannya, menghela perahu ke darat dan meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus. Mereka dipanggil di tengah-tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, dan harus menanggapinya secara pribadi. Seperti mereka, jika kita menanggapi-Nya, maka kita akan menyelamatkan orang dengan jala, daripada membiarkan mereka tenggelam dalam kematian akibat dosa. Dan tanggapan kita seharusnya adalah: dengan segera, mengikuti Dia dan meninggalkan segalanya untuk menerima harta Kerajaan Allah yaitu hidup yang kekal (bdk Mrk. 1:16-20; Luk .18:22,29-30). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gaya hidup yang ramah lingkungan: Kita berdoa agar kita semua bisa membuat keputusan yang berani untuk gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, bersukacita bersama orang muda kita yang dengan tegas berkomitmen dengan hal ini. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Mereka yang tertekan masalah ekonomi: Semoga mereka yang tertekan oleh masalah ekonomi bisa menemukan usaha-usaha baru yang bisa menjadi sumber nafkahnya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mengarahkan sejarah hidup kami seperti sejarah hidup Santo Yoseph, yang Kau bimbing menyatu dengan para Leluhurnya, sebagaimana nampak dalam Alkitab. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s