Wawancara Paus Fransiskus dengan Carlos Herrera (Radio COPE)

Paus Fransiskus pasca operasi:
‘Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk mengundurkan diri’


Paus Fransiskus diwawancarai oleh Carlos Herrera dari Radio COPE (Spanyol). Untuk pertama kalinya, beliau berbicara tentang operasi yang dijalaninya pada bulan Juli lalu dan juga membahas tentang Afghanistan, Cihna, eutanasia, dan reformasi Kuria Romawi.

Baiklah, pertama-tama saya harus bertanya kepada Anda, Bapa Suci, bagaimana perasaan Anda?

Saya masih hidup. [Tertawa]

Operasi Anda baru-baru ini, yang merupakan operasi besar, membuat kami khawatir…

Tentu saja, ini karena terbentuknya divertikula… dan siapa yang menyangka… itu menjadi cacat, nekrotik… tapi syukurlah itu diambil tepat waktu, dan beginilah saya sekarang.

Saya mengerti, apalagi, bahwa tindakan seorang perawat yang tertuju Anda, yang mengingatkan Anda harus diprioritaskan.

Dia menyelamatkan hidup saya! Dia mengatakan kepada saya: “Anda harus menjalani operasi”. Ada pendapat lain: “Lebih baik dengan antibiotik…” tetapi perawat itu menjelaskannya kepada saya dengan sangat baik. Dia adalah seorang perawat dari sini, dari layanan kesehatan kami, dari rumah sakit Vatikan. Dia telah berada di sini selama tiga puluh tahun, seorang pria yang sangat berpengalaman. Ini adalah kedua kalinya dalam hidup saya bahwa seorang perawat telah menyelamatkan hidup saya.

Kapan pertama kalinya?

Pertama kali pada tahun 1957, ketika mereka mengira itu adalah flu, salah satu epidemi flu di seminari, dan perawat seminari merawat saya dengan aspirin. Untuk orang lain itu baik-baik saja, tetapi untuk saya itu tidak berhasil, jadi mereka membawa saya ke rumah sakit, di mana mereka mengambil cairan dari paru-paru saya. Dokter berkata saya harus menerima… Saya tidak ingat berapa banyak, katakanlah satu juta unit penisilin dan begitu banyak [unit] streptomisin—itu adalah satu-satunya antibiotik pada saat itu — dan ketika dia pergi, perawat berkata: “Dosis dua kali lipat”.

Dan itu menyelamatkanmu?

Ya, karena jika tidak, saya tidak akan…

Salah satu… Saya tidak akan mengatakan salah satu rahasia terbaik Vatikan, tetapi menjadi salah satu masalah yang secara tradisi menjadi paling menarik adalah tentang kesehatan Paus.

Ya, jelas.

Tidak ada kejutan, itu semua direncanakan…

Semuanya sudah dijadwalkan dan sudah diatur… Setelah Angelus saya segera pergi. Itu hampir jam satu, dan diumumkan pada jam 15:30 ketika saya sudah berada dalam tahap persiapan.

Anda pernah berkata, Yang Mulia, bahwa “lalang tidak pernah mati”.

Itu benar, itu benar, dan itu juga berlaku untuk saya; itu berlaku juga untuk semua orang.

Apakah media [sic] melarang Anda untuk melakukan sesuatu, apakah ada ultimatum, apakah ada sesuatu yang Yang Mulia tidak bisa atau tidak boleh Anda lakukan?

Saya tidak memahami maksud Anda…

Apakah dokter melarang Anda melakukan sesuatu?

Oh, para dokter! Maaf, saya kira tadi “media”.

[Tertawa] Yah, dari media sebenarnya juga ada tantangan itu. Tetapi dalam kasus ini, adalah para dokter. [Spanyol: “medios” (media) dan “médicos” (dokter), terdengar hampir mirip oleh paus Fransiskus]

Sekarang saya bisa makan apa saja, yang sebelumnya tidak dimungkinkan dengan adanya divertikula. Saya bisa makan semuanya. Saya masih menjalani pengobatan pasca operasi, karena otak harus menyesuaikan bahwa usus saya kini 33 sentimeter lebih pendek. Dan semuanya itu kerjanya diatur oleh otak, otak mengatur seluruh tubuh kita, dan butuh waktu untuk menyesuaikannya. Tapi diluar itu, saya memiliki kehidupan yang normal, saya menjalani kehidupan yang benar-benar normal.

Anda makan apa pun yang Anda inginkan …

Ya.

Anda selalu berjalan, Anda memaksakan diri …

Sepanjang pagi hari ini pada audiensi, sepanjang pagi.

Sekarang Anda akan melakukan perjalanan ke Slovakia dan Hongaria. Saya mengerti bahwa ini adalah perjalanan kepausan ke-34.

Saya tidak ingat waktu tepatnya, tapi mungkin demikian.

Apakah programnya akan seketat itu? Saya pikir Paus, Yang Mulia, diharuskan melakukan olahraga dalam arti yang sebenarnya. Saya selalu bertanya-tanya mengapa para Paus tidak pergi lebih lama dua hari lagi dan melakukan pekerjaan selama dua hari lagi, karena mereka menghabiskan sekitar 18 jam dari 24 jam untuk melakukan sesuatu. Apakah Anda harus lebih menjaga stamina Anda setelah operasi atau tidak?

Mungkin di perjalanan pertama ini saya harus lebih berhati-hati, karena yang satu harus sembuh total, tapi pada akhirnya akan sama saja dengan yang lain, lihat saja nanti. [Tertawa]

Apakah Yang Mulia khawatir bahwa salah satu hal paling mendesak yang dengannya media, terutama Italia, membedakan Anda, Bapa Suci, adalah bahwa ketika kesehatan Paus dipertanyakan, banyak yang berpikir atau bersikeras pada argumen lama tentang pengunduran diri, “Saya ingin pulang, saya tidak tahan lagi…”? Ini adalah tema yang permanen, saya yakin, dalam hidup Anda sebagai Paus, bukan?

Ya, mereka bahkan mengatakan kepada saya bahwa minggu lalu itu sangat populer. Eva [Fernández] mengatakan itu kepada saya; dia bahkan mengatakannya dengan ekspresi Argentina yang sangat bagus, dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak tahu karena saya hanya membaca satu surat kabar di sini di pagi hari, surat kabar Roma. Saya membacanya karena saya suka judulnya, saya membacanya dengan cepat dan hanya itu, saya tidak masuk ke dalam permainan itu. Saya tidak menonton televisi. Dan saya memang menerima laporan tentang beberapa berita hari ini, tetapi saya mengetahuinya kemudian, beberapa hari kemudian, bahwa ada sesuatu tentang saya yang mengundurkan diri. Kapan pun seorang Paus sakit, selalu ada angin sepoi-sepoi atau badai konklaf. [Tawa]

Seperti sih apa pengurungan Paus itu? Apakah seperti waktu kita dikurung di rumah. Apa yang telah dilakukan Paus selama masa kurungan tersebut?

Pertama, saya harus menahan diri, yang tidak mudah. Ini adalah ilmu yang masih harus saya kuasai. Sulit untuk berdamai dengan diri sendiri.

Anda telah berlatih selama bertahun-tahun …

Ya, tapi itu tetap sulit. Terkadang seseorang berubah-ubah dengan dirinya sendiri dan ingin segala sesuatunya keluar secara otomatis. Kemudian saya mulai mengambil hal-hal kembali sedikit demi sedikit, dan hari ini, saya menjalani kehidupan normal. Pagi ini, sepanjang pagi mendengarkan pendapat; hari ini sidang kedua sore hari (saya mulai jam 15.30) dan masih berlanjut.

Meskipun tujuan perjalanan Anda berikutnya adalah ke Slovakia, banyak yang akan menantikan pertemuan Anda dengan Perdana Menteri Hongaria, Victor Orban, yang dengannya Anda tidak berbagi beberapa poin dari program pemerintahnya, terutama mengenai penutupan perbatasan. Apa yang ingin Anda katakan kepadanya jika Anda memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya secara personal?

Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengannya. Saya tahu bahwa pihak berwenang akan datang untuk menyambut saya. Saya tidak pergi ke pusat Budapest, tetapi ke tempat Kongres [Ekaristi], dan ada aula di mana saya akan bertemu dengan para uskup, dan di sana saya akan menerima otoritas yang akan hadir. Saya tidak tahu siapa yang akan hadir. Presiden yang saya kenal karena dia menghadiri Misa di Transylvania, bagian Rumania di mana mereka berbicara bahasa Hongaria, Misa yang indah dalam bahasa Hongaria, dan dia datang dengan seorang imam. Saya pikir itu bukan Orban… karena di akhir Misa kami secara resmi saling menyapa… Saya tidak tahu siapa yang akan hadir…

Dan salah satu cara saya adalah tidak menggunakan dengan naskah: Ketika saya di depan seseorang, saya menatap matanya dan membiarkan hal-hal keluar. Bahkan tidak terpikir oleh saya untuk memikirkan apa yang akan saya katakan jika saya bersamanya, situasi potensial di masa depan yang tidak membantu saya. Saya lebih suka hal yang konkrit; memikirkan potensi situasi masa depan membuat Anda kusut, itu tidak baik untuk Anda.

Yang Mulia mengikuti dengan seksama peta politik baru yang dihadapi Afghanistan. Negara ini telah dibiarkan sendiri setelah bertahun-tahun pendudukan militer. Dapatkah Vatikan menarik tali diplomatik untuk mencoba mencegah pembalasan terhadap penduduk atau untuk banyak hal lainnya?

Tentu. Dan sebenarnya saya yakin Sekretariat Negara melakukan itu karena tingkat diplomasi Sekretariat Negara dan timnya sangat tinggi, juga Hubungan dengan Bangsa-Bangsa. Kardinal Parolin benar-benar diplomat terbaik yang pernah saya temui. Seorang diplomat yang menambahkan; tidak salah satu dari mereka yang dikurangi. Dia adalah seseorang yang selalu mencari, orang yang menyetujui. Saya yakin dia membantu atau setidaknya menawarkan bantuan. Ini adalah situasi yang sulit. Saya percaya bahwa sebagai seorang imam saya pun harus memanggil orang Kristiani untuk berdoa secara khusus saat ini. Memang benar bahwa kita hidup di dunia peperangan, (pikirkan Yaman, misalnya). Tapi ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, memiliki arti yang berbeda. Dan saya akan mencoba untuk meminta apa yang selalu diminta Gereja di saat-saat sulit dan krisis: lebih banyak berdoa dan berpuasa. Doa, penebusan dosa, dan puasa, itulah yang diminta di saat-saat krisis. Dan mengenai fakta 20 tahun pendudukan dan kemudian pergi, saya ingat fakta sejarah lainnya, tetapi saya tersentuh oleh sesuatu yang dikatakan Kanselir Merkel, yang merupakan salah satu tokoh besar politik dunia, di Moskow, 20 [Agustus] lalu. Dan dia berkata, semoga terjemahannya benar: “Amat diperlukan untuk mengakhiri kebijakan intervensi yang tidak bertanggung jawab dari luar dan membangun demokrasi di negara lain, mengabaikan tradisi masyarakat.” Ringkas dan konklusif. Saya rasa ini dapat berbicara banyak; dan semua orang bisa mengartikannya sesuka hati. Tapi di sana saya merasakan kebijaksanaan mendengar wanita tersebut mengatakan hal ini.

Fakta bahwa Barat menarik diri, pada dasarnya koalisi yang dipimpin oleh AS dan UE sendiri? Apakah itu mengecilkan hati Bapa Suci, atau menurut Anda itu adalah jalan yang benar? Haruskah kita menyerahkan mereka pada nasib mereka?

Mereka adalah tiga hal yang berbeda. Fakta penarikan adalah sah. Gema yang ada dalam diri saya adalah sesuatu yang lain. Dan hal ketiga, Anda berkata “biarkan mereka pada nasib mereka”; Saya akan mengatakan cara untuk mundur, cara menegosiasikan jalan keluar, bukan? Sejauh yang saya bisa lihat, tidak semua kemungkinan diperhitungkan di sini… atau sepertinya, saya tidak ingin menilai. Saya tidak tahu apakah akan ada peninjauan lebih lanjut atau tidak, tetapi tentu saja ada banyak kebohongan mungkin dari pihak otoritas yang baru. Saya mengatakan kebohongan atau banyak kenaifan, saya tidak mengerti. Tapi saya melihat ada jalan di sini. Dan itulah penekanan dari Ibu Merkel saya rasa.

Saya kira Paus dapat membiarkan dirinya kecewa seperti orang Kristen lainnya. Sebagai Bapa Suci, kekecewaan terbesar apa yang Anda alami, Yang Mulia?

Saya pernah mengalaminya beberapa kali. Saya mengalami beberapa kekecewaan dalam hidup dan itu justru bagus karena kekecewaan itu seperti pendaratan darurat. Mereka seperti pendaratan darurat dalam hidup. Dan intinya adalah bangun kembali. Ada sebuah lagu dari pegunungan Alpine yang mengatakan banyak hal kepada saya: “Dalam seni memanjat, yang penting adalah tidak jatuh, bertahan agar tidak tetap jatuh”. Dan Anda, menghadapi kekecewaan, memiliki dua cara: apakah Anda tetap di sana mengatakan bahwa ini tidak akan berhasil — seperti yang dikatakan oleh tango [lagu]: “Dale que va, que todo es igual, que allá en el horno nos vamos a encontrar” [Lirik, dalam bahasa gaul Argentina, dari lagu tango dari tahun 1930-an: “Tetap semangat, walau sama saja, di neraka kita akan bersatu kembali”] — atau aku bangun dan bertaruh lagi. Dan saya percaya bahwa dalam menghadapi perang, dalam menghadapi kekalahan, bahkan dalam menghadapi kekecewaannya sendiri atau kegagalannya sendiri atau dosanya sendiri, ia harus bangkit dan bertahan agar tidak tetap jatuh.

Selalu dikatakan bahwa iblis senang bahwa orang-orang percaya bahwa dia tidak ada. Apakah iblis juga berkeliaran di Vatikan?

[Tertawa] Iblis berkeliaran di mana-mana, tapi aku paling takut pada iblis yang sopan. Mereka yang membunyikan bel pintu Anda, yang meminta izin Anda, yang memasuki rumah Anda, yang berteman… Tetapi Yesus tidak pernah membicarakan hal itu? Iya, dia melakukannya! Iya, dia melakukannya. Ketika dia mengatakan ini: ketika roh najis keluar dari seorang pria, ketika seseorang bertobat atau mengubah hidupnya, dia pergi dan mulai berjalan-jalan, di tempat-tempat gersang, dia bosan … dan setelah beberapa saat, dia berkata “ Saya akan kembali untuk melihat bagaimana keadaannya”, dan dia melihat rumah itu rapi, semuanya berubah. Kemudian dia mencari tujuh orang yang lebih buruk darinya dan masuk dengan sikap yang berbeda. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa yang terburuk adalah setan yang santun, mereka yang membunyikan bel pintu. Kenaifan orang ini membiarkan dia masuk dan akhir orang itu lebih buruk daripada awalnya, kata Tuhan. Saya takut pada setan yang santun. Mereka adalah yang terburuk, dan salah satunya sangat menipu. Yang satu itu sangat menipu.

Pada bulan Maret ini akan menjadi sembilan tahun sejak awal Kepausan Anda, yang bukan merupakan masa kepausan yang singkat selama 4-5 tahun seperti yang Yang Mulia katakan. Apakah Anda puas dengan perubahan yang dilakukan atau ada sesuatu yang tertunda yang ingin Anda selesaikan dalam waktu dekat? Artinya, apakah Anda merasa bahwa Tuhan telah memberi Anda waktu ekstra untuk melakukan sesuatu?

Jelas, janji itu mengejutkan saya karena saya datang hanya dengan sebuah koper kecil. Karena aku menyimpan jubahku di sini. Salah satunya telah diberikan kepada saya sebagai hadiah ketika saya menjadi kardinal dan saya meninggalkannya di rumah beberapa biarawati agar tidak perlu… Saya tergabung dalam lima atau enam kongregasi di sini dan jadi saya harus bepergian, jadi saya tidak ‘tidak harus datang dengan itu… Saya datang seperti biasa. Dan saya meninggalkan homili Pekan Suci yang disiapkan di sana di keuskupan. Artinya, itu mengejutkan saya. Tapi saya tidak menemukan apa pun; apa yang saya lakukan sejak awal adalah mencoba untuk menerapkan apa yang kami, para kardinal katakan dalam pertemuan pra-konklaf untuk Paus berikutnya: Paus berikutnya harus melakukan ini, ini, ini dan ini. Dan inilah yang mulai saya lakukan. Saya pikir ada beberapa hal yang masih harus dilakukan, tetapi tidak ada yang ditemukan oleh saya sendiri. Saya mematuhi apa yang telah ditetapkan pada saat itu. Mungkin beberapa orang tidak menyadari apa yang mereka katakan atau pikir itu tidak begitu serius, tetapi beberapa topik menyebabkan rasa sakit, itu benar. Tapi tidak ada orisinalitas saya dalam rencana tersebut. Dan peta jalan kerja saya, Evangelii gaudium, adalah satu hal di mana saya mencoba merangkum apa yang kami para kardinal katakan saat itu.

Artinya, ketika Anda meninggalkan Buenos Aires, apakah Anda pernah memikirkan kemungkinan bahwa Anda tidak akan kembali?

Tidak, tidak sama sekali. Sama sekali tidak. Saya bahkan harus menunda hal-hal penting. Karena usia saya, itu tidak terpikir oleh saya. Itu tidak terpikir oleh saya. Tetapi satu-satunya hal yang saya lakukan adalah mencoba merangkum semuanya; Saya meminta risalah pertemuan itu — di mana saya pernah hadir, juga agar tidak lupa — dan dapat mengaturnya.

Salah satu kegemparan terbaru di Vatikan, setidaknya di media, adalah proses makro korupsi di mana Kardinal Becciu dituduh. Dia bersikeras bahwa dia tidak bersalah akan dibuktikan. Dari luar, orang mendapat kesan bahwa reformasi keuangan Vatikan seperti siput yang memanjat sumur, dan setiap kali maju satu meter ia mundur dua meter. Apakah ada harapan? Bagaimana menurut Anda permasalahan ini akan berakhir? Korupsi adalah dosa yang melekat dan tidak dapat dihindari di semua organisasi, tetapi dengan cara apa hal itu dapat dihindari di dalam Vatikan?

Kami harus melakukan segala yang kami bisa untuk menghindarinya, tetapi ini adalah cerita lama. Menengok ke belakang, kita memiliki kisah Marcinkus, yang kita ingat dengan baik; kisah Danzi, kisah Szoka… Ini adalah penyakit yang membuat kita kambuh. Saya percaya bahwa hari ini kemajuan telah dicapai dalam konsolidasi keadilan di Negara Vatikan. Selama tiga tahun terakhir, kemajuan telah dibuat sedemikian rupa sehingga peradilan menjadi lebih mandiri, dengan sarana teknis, bahkan dengan keterangan saksi yang direkam, hal-hal teknis saat ini, pengangkatan hakim baru, kejaksaan baru… dan ini telah memajukan segalanya. Dan itu membantu. Struktur membantu menghadapi situasi ini yang tampaknya tidak akan pernah ada. Dan semuanya dimulai dengan dua laporan dari orang-orang yang bekerja di Vatikan dan yang melihat ketidakberesan dalam fungsi mereka. Mereka mengajukan keluhan dan bertanya apa yang harus saya lakukan. Saya katakan kepada mereka: jika Anda ingin melanjutkan, Anda harus menyerahkannya kepada jaksa. Itu agak menantang, tetapi mereka adalah dua orang baik, mereka menjadi agak takut dan kemudian, seolah-olah untuk mendorong mereka, saya membubuhkan tanda tangan saya di bawah tanda tangan mereka, untuk mengatakan: beginilah caranya, saya tidak takut transparansi atau kebenaran. Terkadang itu menyakitkan, dan sangat menyakitkan, tetapi kebenaranlah yang membebaskan kita. Jadi saat ini hanya itu. Sekarang, jika beberapa tahun dari sekarang yang lain muncul… Mari berharap langkah-langkah yang kita ambil dalam keadilan Vatikan ini akan membantu membuat peristiwa ini semakin jarang terjadi…. Ya, Anda menggunakan kata korupsi dan dalam hal ini kasus, jelas, setidaknya pada pandangan pertama, tampaknya ada korupsi.

Apa yang lebih Anda takutkan? Apakah [Becciu] akan dinyatakan bersalah atau tidak, mengingat Anda sendiri yang memberi izin untuk membawanya ke pengadilan?

Dia pergi ke pengadilan menurut hukum Vatikan. Pada suatu waktu, hakim para kardinal bukanlah hakim negara seperti sekarang ini, tetapi Kepala Negara. Saya berharap dengan sepenuh hati bahwa dia tidak bersalah. Selain itu, dia adalah kolaborator saya dan banyak membantu saya. Dia adalah orang yang saya hargai sebagai pribadi, artinya keinginan saya adalah dia menjadi baik. Tapi itu adalah bentuk afektif dari praduga tak bersalah. Selain asas praduga tak bersalah, saya ingin semuanya berjalan dengan baik. Bagaimanapun, keadilan akan memutuskan.

Saya tidak tahu apakah Paus Fransiskus adalah orang yang suka menggebrak meja. Mungkinkah pukulan terakhir di atas meja adalah dokumen kepausan yang membatasi perayaan ‘Misa Tridentin’? Dan saya juga mohon Anda untuk menjelaskan kepada hadirin saya apa itu ‘Misa Tridentin’, ada apa dengan Misa Tridentin yang tidak wajib.

Saya bukanlah orang yang suka menggebrak meja, saya tidak pernah. Saya sedikit malu. Sejarah custodes Traditionis panjang. Ketika St. Yohanes Paulus II pertama—dan kemudian Benediktus, lebih jelas dengan Summorum Pontificum—, memberikan kemungkinan untuk merayakan dengan Misa Yohanes XXIII (sebelum Paulus VI, yang pasca-konsili) bagi mereka yang tidak merasa baik dengan liturgi saat ini, yang memiliki nostalgia tertentu… tampaknya bagi saya salah satu hal pastoral yang paling indah dan manusiawi dari Benediktus XVI, yang adalah seorang manusia yang sangat baik. Dan itu dimulai. Itulah alasannya. Setelah tiga tahun, dia mengatakan bahwa evaluasi harus dilakukan. Evaluasi dilakukan, dan tampaknya semuanya berjalan dengan baik. Dan itu baik-baik saja. Sepuluh tahun berlalu dari evaluasi itu sampai sekarang (yaitu, tiga belas tahun sejak diundangkan [Summorum Pontificum]) dan tahun lalu kami melihat dengan mereka yang bertanggung jawab atas Ibadah dan Ajaran Iman bahwa adalah tepat untuk membuat evaluasi lain tentang semua uskup di dunia. Dan itu dilakukan. Itu berlangsung sepanjang tahun. Kemudian subjek dipelajari dan berdasarkan itu, kekhawatiran yang paling muncul adalah bahwa sesuatu yang dilakukan untuk membantu secara pastoral mereka yang telah menjalani pengalaman sebelumnya sedang diubah menjadi ideologi. Artinya, dari hal pastoral ke ideologi. Jadi, kami harus bereaksi dengan norma yang jelas. Norma yang jelas yang membatasi mereka yang tidak menjalani pengalaman itu. Karena tampaknya menjadi mode di beberapa tempat para imam muda akan berkata, “Oh, tidak, saya ingin…” dan mungkin mereka tidak tahu bahasa Latin, mereka tidak tahu apa artinya. Dan di sisi lain, untuk mendukung dan mengkonsolidasikan Summorum Pontificum. Saya kurang lebih membuat garis besarnya, saya mempelajarinya dan saya bekerja, dan saya banyak bekerja, dengan orang-orang tradisionalis yang berakal sehat. Dan hasilnya adalah pelayanan pastoral yang harus dilakukan, dengan beberapa batasan yang baik. Misalnya pewartaan Sabda dalam bahasa yang dimengerti semua orang; jika tidak, itu akan sama saja seperti menertawakan Firman Tuhan. Hal-hal kecil. Tapi ya, batasnya sangat jelas. Setelah motu proprio ini, seorang imam yang ingin merayakannya tidak dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya — itu untuk nostalgia, untuk keinginan tertentu saja — sehingga dia harus meminta izin dari Roma. Semacam izin untuk bi-ritualisme, yang hanya diberikan oleh Roma. [Seperti] seorang imam yang merayakan dalam Ritus Timur dan Ritus Latin, dia bi-ritual tetapi dengan izin Roma. Artinya, sampai hari ini, yang sebelumnya berlanjut tetapi sedikit terorganisir. Selain itu, meminta agar ada seorang imam yang tidak hanya bertanggung jawab atas liturgi, tetapi juga kehidupan spiritual komunitas jemaat itu. Jika Anda membaca surat itu dengan baik dan membaca Dekrit dengan baik, Anda akan melihat bahwa itu hanyalah penataan ulang yang konstruktif, dengan kepedulian pastoral dan menghindari kelebihan oleh mereka yang tidak …

Apakah Yang Mulia mengalami malam tanpa tidur karena jalur sinode yang telah dimulai oleh Gereja Katolik Jerman?

Tentang itu, saya membiarkan diri saya mengirim surat. Surat yang saya tulis sendiri dalam bahasa Spanyol. Saya butuh waktu sebulan untuk melakukan itu, antara berdoa dan berpikir. Dan saya mengirimkannya pada waktu yang tepat: aslinya dalam bahasa Spanyol dan terjemahan dalam bahasa Jerman. Dan di sana saya mengungkapkan semua yang saya rasakan tentang sinode Jerman. Itu semua ada.

Protes sinode Jerman bukanlah sesuatu yang baru… Sejarah berulang…

Ya, tapi saya juga tidak akan terlalu tragis. Tidak ada niat buruk oleh banyak uskup yang saya ajak bicara. Ini adalah keinginan pastoral, tetapi keinginan yang mungkin tidak memperhitungkan beberapa hal yang saya jelaskan dalam surat ini yang perlu diperhitungkan.

Ada hal-hal yang tertanam kuat dalam imajinasi populer. Salah satunya yang paling banyak dibicarakan adalah krisis teater. Yang Mulia tahu bahwa teater telah mengalami krisis sejak Yang Mulia dan saya lahir. Yang lainnya adalah reformasi kuria. Selalu dikatakan “kuria harus direformasi”, tetapi kuria tampaknya tidak dapat direformasi. Itu seperti hutan berduri yang tidak mungkin dimasuki, atau begitulah yang dikatakan dari luar. Apakah Paus masih memimpikan sebuah Gereja yang sangat berbeda dari yang Anda lihat sekarang?

Nah, jika Anda melihat bahwa sejak awal, apa yang dikatakan para kardinal di pra-konklaf telah diterapkan hingga saat ini; reformasi berjalan selangkah demi selangkah dan dengan baik. Dokumen pertama yang menandai garis itu, yang mencoba melanjutkan apa yang dikatakan para kardinal, adalah Evangelii gaudium. Dan ada masalah dalam Evangelii gaudium yang ingin saya tunjukkan, yaitu masalah khotbah. Menuntun umat Kristen ke kelas teologi, filsafat atau moralisme yang panjang bukanlah khotbah Kristiani. Dalam Evangelii gaudium saya meminta reformasi khotbah yang serius. Beberapa mengerti, yang lain tidak mengerti… Untuk menjelaskannya, bukan? Tetapi Evangelii gaudium mencoba merangkum secara umum sikap para kardinal dalam pra-konklaf. Dan mengenai konstitusi apostolik Praedicate Evangelium, ini sedang dikerjakan, dan langkah terakhir adalah saya membacanya — dan saya harus membacanya karena saya harus menandatanganinya dan saya harus membacanya kata demi kata — dan itu adalah tidak akan ada sesuatu yang baru dalam hal apa yang terlihat sekarang. Mungkin beberapa detail, beberapa perubahan diskateri yang bergabung bersama, dua atau tiga diskateri lagi, tetapi sudah diumumkan: misalnya, Pendidikan akan bergabung dengan Kebudayaan. Propaganda Fide akan bergabung dengan dikasteri Evangelisasi Baru. Telah diumumkan. Tidak akan ada sesuatu yang baru sehubungan dengan apa yang dijanjikan untuk dilakukan. Beberapa orang berkata kepada saya, “Kapan konstitusi apostolik tentang reformasi Gereja keluar, untuk menampilkan sesuatu yang baru?” Tidak. Tidak akan ada yang baru. Jika ada sesuatu yang baru, itu adalah hal-hal kecil dari pengembangannya. Ini hampir selesai, tetapi tertunda dalam hal ini karena penyakit saya. Ini sudah matang, jadi pertimbangkan semua ini. Jelaslah bahwa reformasi tidak lain adalah untuk menempatkan apa yang kami mohonkan di pra-konklaf, dan itu sedang dilihat. Ini sudah terlihat.

Pada kunjungan pertama ke departemen komunikasi Vatikan, Bapa Suci mengungkapkan keprihatinannya bahwa pesan itu tidak sampai ke tempat yang seharusnya. Jumlah penontonnya kurang baik. Apakah itu teguran yang serius?

Saya cukup merasa geli dengan reaksinya. Saya mengatakan dua hal. Pertama, sebuah pertanyaan: berapa banyak orang yang membaca L’Osservatore Romano? Saya tidak mengatakan apakah banyak atau sedikit yang membacanya. Itu adalah suatu pertanyaan. Saya pikir itu sah untuk ditanyakan, bukan? Dan pertanyaan kedua, yang lebih merupakan tema, [saya bertanya] ketika setelah melihat semua pekerjaan baru serikat, bagan organisasi baru, fungsionalisasi, saya berbicara tentang penyakit bagan organisasi, yang memberikan kenyataan [ yang memiliki] lebih fungsional daripada nilai nyata. Dan saya berkata: dengan semua fungsi ini, yang diperlukan agar berfungsi dengan baik, kita tidak boleh jatuh ke dalam fungsionalisme. Fungsionalisme adalah kultus bagan organisasi tanpa memperhitungkan kenyataan. Sepertinya ada yang tidak mengerti dua hal yang saya katakan ini, atau mungkin ada yang tidak suka, atau saya tidak tahu apa, dan mengartikannya sebagai kritik. Tapi itu hanya pertanyaan dan peringatan. Ya… Mungkin ada yang merasa disudutkan. Saya pikir dikasteri memiliki banyak janji, ini adalah dikasteri dengan anggaran terbesar di Kuria saat ini, dipimpin oleh seorang awam—saya berharap akan segera ada lagi yang dipimpin oleh seorang awam atau seorang awam—dan itu adalah berangkat dengan reformasi baru. L’Osservatore Romano, yang saya sebut “surat kabar sukacita,” telah membuat kemajuan besar dan sungguh menakjubkan bagaimana upaya budaya yang dibuatnya.

Bertahun-tahun yang lalu saya terkesan dengan sesuatu yang Anda ceritakan, Yang Mulia, ketika bertahun-tahun yang lalu di jalan-jalan Buenos Aires beberapa orang tua berteriak kepada putra mereka agar tidak mendekati Anda karena Anda berpakaian seperti imam dan yang kemungkinan seorang pedofil.

Begitulah yang telah terjadi.

Tampaknya masih ada keraguan kepada banyak imam, yang selama pandemi ini, misalnya, telah menunjukkan bahwa mereka bekerja keras bagi mereka yang paling rendah. Apakah para uskup dari semua negara melakukan tugas yang Anda kirimkan kepada mereka ketika Anda memanggil mereka ke Roma sehingga para pedofil tidak lagi ada di antara barisan mereka?

Sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya ingin memberi penghormatan kepada seorang pria yang mulai berbicara tentang hal ini dengan berani, meskipun dia adalah duri di pihak organisasi, jauh sebelum organisasi dibuat tentang hal ini, dan itu adalah Kardinal O’Malley. Terserah dia untuk menyelesaikan masalah di Boston dan itu tidaklah mudah. Ada langkah-langkah yang sangat jelas diambil untuk ini, bukan? Komisi Perlindungan Anak di Bawah Umur, yang merupakan penemuan Kardinal O’Malley, sekarang berfungsi. Sekarang saya harus memperbaharui setengah dari stafnya karena setiap tiga tahun setengah dari stafnya diperbarui. Orang-orang terkemuka dari beberapa negara berbeda berada pada masalah ini. Dan saya pikir mereka melakukannya dengan baik. Saya pikir statistik yang saya berikan kepada para jurnalis pada pertemuan para presiden Konferensi Waligereja, di satu sisi, dan kemudian pidato terakhir yang saya berikan pada akhir Misa pada pertemuan itu, adalah kunci dalam hal ini. Seseorang berkata: “Pada akhirnya, Paus mengatakan bahwa itu adalah masalah semua orang, dia menyalahkan iblis dan mencuci tangannya dari itu.” Itu adalah komentar media; bahwa saya menyalahkan iblis, ya. Sebagai penghasut ini. Tapi saya menyalahkannya ketika saya berbicara tentang pedo-pornografi. Saya mengatakan bahwa melecehkan seorang anak laki-laki untuk memfilmkan tindakan pedo-pornografi adalah setan. Itu tidak dapat dijelaskan tanpa kehadiran iblis. Saya memang mengatakan itu. Nah, dalam pidato itu saya berbicara tentang segalanya, bersama dengan statistik. Saya pikir hal-hal sedang dilakukan dengan baik. Faktanya, kemajuan telah dibuat dan semakin banyak kemajuan yang dibuat. Namun, ini adalah masalah global dan serius. Kadang-kadang saya bertanya-tanya bagaimana pemerintah tertentu mengizinkan produksi pedo-pornografi. Biarkan mereka tidak mengatakan bahwa mereka tidak tahu. Saat ini, dengan badan intelijen, semuanya diketahui. Pemerintah tahu siapa di negaranya yang memproduksi pedo-pornografi. Bagi saya, ini adalah salah satu hal paling mengerikan yang pernah saya lihat.

Beberapa waktu yang lalu, Yang Mulia, Anda mengakui bahwa beberapa tahun yang lalu isu-isu ekologi tidak menarik bagi Anda. Sekarang Yang Mulia telah berubah, karena Anda adalah salah satu pemimpin dunia yang paling banyak berbicara tentang masalah ini, tentang pelanggaran yang dilakukan terhadap Bumi. Apakah pilihan ekologis membuat Anda menjadi musuh? Apakah Anda akan berada di Glasgow untuk COP26? Dua pertanyaan menjadi satu.

Saya akan membuat sejarah: [Konferensi Umum V CELAM di] Aparecida tahun 2007 kalau tidak salah. Saya tidak ingat tanggalnya. Di Aparecida saya mendengar para uskup Brasil berbicara tentang pelsetarian alam, masalah ekologi, Amazon…. Mereka bersikeras, bersikeras, bersikeras, dan saya bertanya-tanya apa hubungannya dengan evangelisasi. Itu yang saya rasakan. Saya tidak punya ide sedikit pun. Saya berbicara tentang 2007. Itu mengejutkan saya. Ketika saya kembali ke Buenos Aires, saya menjadi tertarik, dan perlahan-lahan saya mulai memahami sesuatu. Sudah ada di sini, ya? Saya berubah dalam hal ini. Dan kemudian saya lebih mengerti. Dan entah bagaimana, saya menyadari bahwa saya harus melakukan sesuatu dan kemudian saya memiliki ide untuk menulis sesuatu sebagai magisterium karena Gereja di depan ini… sama seperti saya adalah “salami” seperti yang kita katakan di Argentina, orang bodoh yang tidak mengerti semua ini, ada begitu banyak orang yang berkehendak baik yang tidak memahaminya… Jadi, untuk memberikan beberapa katekese tentang ini. Saya memanggil sekelompok ilmuwan untuk menjelaskan kepada saya masalah yang sebenarnya; bukan hipotesis, tetapi hal yang nyata. Mereka membuatkan saya katalog yang bagus dan memang demikian adanya. Saya menyampaikannya kepada para teolog yang merenungkannya. Dan itulah bagaimana Laudato sí muncul.

Sebuah anekdot yang bagus: ketika saya pergi ke Strasbourg, Presiden Hollande mengirim Menteri Lingkungan, yang saat itu adalah Ny. Ségolène Royal, untuk menerima dan menemui saya. Dan dalam percakapan yang saya lakukan dengannya, dia berkata kepada saya, “Apakah benar Anda sedang menulis sesuatu?” Menteri Lingkungan ini mengerti. Dan saya berkata, “Ya, saya di sini.” “Silakan publikasikan sebelum [KTT] Paris karena kami membutuhkan dukungan.” Saya kembali dari Strasbourg dan mempercepat prosesnya. Dan itu keluar sebelum pertemuan Paris. Bagi saya, pertemuan Paris adalah puncak untuk menjadi sadar secara global. Lalu apa yang terjadi? Ketakutan muncul. Dan perlahan, pada pertemuan-pertemuan berikutnya, mereka mundur. Saya berharap Glasgow sekarang akan meningkatkan pandangannya sedikit demi sedikit dan membawa kita semakin sejalan.

Tapi apakah Yang Mulia akan ada di sana?

Ya, pada prinsipnya program yang saya ikuti. Itu semua tergantung pada apa yang saya rasakan saat itu. Tapi nyatanya, pidato saya sudah disiapkan, dan rencananya akan ada di sana.

Mari kita bicara tentang China jika Anda berkenan, Yang Mulia… Dalam jajaran Anda sendiri, ada orang-orang yang bersikeras bahwa Anda tidak boleh memperbarui perjanjian yang telah ditandatangani Vatikan dengan negara itu karena itu membahayakan otoritas moral Anda. Apakah Anda merasa bahwa ada banyak orang yang ingin mengatur jalan Paus?

Bahkan ketika saya adalah seorang awam dan imam, saya senang menunjukkan jalan kepada uskup; itu adalah godaan yang bahkan akan saya katakan sah jika dilakukan dengan niat baik. China tidaklah mudah, tetapi saya yakin bahwa kita tidak boleh berhenti berdialog. Anda bisa tertipu dalam dialog, Anda bisa membuat kesalahan, semua itu… tapi begitulah caranya. Pikiran tertutup tidak pernah jalan. Apa yang telah dicapai selama ini di China setidaknya adalah dialog… beberapa hal konkret seperti pelantikan uskup baru… Tapi ini juga langkah yang bisa dipertanyakan dan hasilnya di satu sisi atau di sisi yang lain. Bagi saya, tokoh kunci dalam semua ini dan yang membantu saya dan menginspirasi saya adalah Kardinal Casaroli. Casaroli adalah orang yang ditugaskan oleh John XXIII untuk membangun jembatan dengan Eropa Tengah. Ada sebuah buku yang sangat bagus, The Martyrdom of Patience di mana dia menceritakan sedikit tentang pengalamannya di sana. Atau pengalamannya diceritakan oleh orang yang menyusun semuanya. Dan itu adalah langkah kecil demi langkah kecil, menciptakan jembatan. Terkadang harus berbicara di udara terbuka atau dengan keran terbuka di saat-saat sulit. Pelan-pelan, perlahan, dia mencapai cadangan hubungan diplomatik yang pada akhirnya berarti mengangkat uskup-uskup baru dan merawat umat Allah yang setia. Hari ini, entah bagaimana, kita harus mengikuti jalan dialog ini selangkah demi selangkah dalam situasi yang paling konflik. Pengalaman saya dalam berdialog dengan Islam, misalnya, dengan Imam Besar al-Tayyeb sangat positif dalam hal ini, dan saya sangat berterima kasih padanya. Itu seperti bibit Fratelli tutti sesudahnya. Tapi berdialog, selalu berdialog, atau rela berdialog. Ada hal yang sangat bagus. Terakhir kali St. Yohanes Paulus II bertemu dengan Casaroli, dia pergi untuk memberi tahu dia ke mana arahnya… (Casaroli pergi setiap akhir pekan ke penjara remaja. Saya pikir itu Casal del Marmo, saya tidak yakin. Dan dia dengan anak laki-laki dan mengenakan jubah seperti pendeta. Tidak ada yang tahu … Beberapa tidak tahu siapa dia). Dan ketika mereka mengucapkan selamat tinggal dan Casaroli sudah di depan pintu, St. Yohanes Paulus II memanggilnya dan berkata, “Yang Mulia, apakah Anda masih pergi ke anak-anak itu?” “Ya ya.” “Jangan pernah tinggalkan mereka.” Surat wasiat seorang paus suci kepada seorang diplomat yang sangat cakap: lanjutkan jalur diplomasi ini, tetapi jangan lupa bahwa Anda adalah seorang imam, seperti yang Anda lakukan. Bagi sayan ini amat menginspirasi.

Yang Mulia, di Spanyol, euthanasia telah disahkan, atas dasar apa yang mereka sebut “hak atas kematian yang bermartabat.” Tapi itu adalah silogisme yang keliru, karena Gereja tidak membela penderitaan yang menjelma, tetapi martabat sampai akhir. Seberapa jauh manusia memiliki kuasa nyata atas hidupnya? Apa yang diyakini Paus?

Mari kita posisikan diri kita. Kita hidup dalam budaya membuang. Yang tidak berguna dibuang. Orang tua adalah bahan sekali pakai: mereka adalah pengganggu. Tidak semuanya, tetapi dalam ketidaksadaran kolektif dari budaya membuang, yang lama… yang paling parah merasakan sakitnya juga; anak-anak yang tidak diinginkan juga, dan mereka dikirim ke pedagang bahkan sebelum mereka lahir… Dengan kata lain, ada budaya semacam ini.

Kemudian, mari kita lihat pinggiran, mari kita pikirkan pinggiran besar Asia, misalnya, untuk pergi jauh dan tidak berpikir bahwa kita hanya membicarakan hal-hal di sini. Pembuangan seluruh bangsa. Pikirkan Rohingya, dibuang, nomaden di seluruh dunia. Hal-hal yang buruk. Dengan kata lain, mereka dibuang. Mereka tidak punya harta, mereka tidak nyaman, tidak ada hal baik pada hidup mereka.

Budaya membuang ini telah menandai kita. Dan itu menandai yang muda dan yang tua. Ini memiliki pengaruh kuat pada salah satu drama budaya Eropa saat ini. Di Italia, usia rata-rata adalah 47 tahun. Di Spanyol, saya pikir itu lebih tua. Artinya, piramida telah terbalik. Ini adalah musim dingin demografis saat lahir, di mana ada lebih banyak kasus aborsi. Budaya demografis hilang karena kita melihat keuntungan. Ia melihat ke orang di depan… dan kadang-kadang menggunakan gagasan belas kasih: “supaya orang ini tidak menderita dalam kasus…” Apa yang diminta Gereja adalah untuk membantu orang mati secara bermartabat. Ini selalu dilakukan.

Dan sehubungan dengan kasus aborsi, saya tidak suka membahas apakah mungkin sampai di sini, atau tidak mungkin sampai di sana, tetapi saya katakan ini: pembelajaran embriologi apa pun yang diberikan kepada seorang mahasiswa kedokteran di sekolah kedokteran mengatakan bahwa pada minggu ketiga pembuahan, kadang-kadang sebelum ibu menyadari [bahwa dia hamil], semua organ dalam embrio sudah diuraikan, bahkan DNA. Ini adalah kehidupan. Sebuah kehidupan manusia. Ada yang berkata, “Itu belum menjadi manusia.” Itu adalah kehidupan manusia! Jadi, dihadapkan dengan kehidupan manusia, saya bertanya pada diri sendiri dua pertanyaan: Apakah sah untuk menghilangkan kehidupan manusia untuk menyelesaikan masalah, apakah adil untuk menghilangkan kehidupan manusia untuk menyelesaikan masalah? Pertanyaan kedua: Apakah adil menyewa pembunuh bayaran untuk memecahkan masalah? Dan dengan dua pertanyaan ini, bagaimana dengan kasus-kasus pemusnahan orang – di satu sisi atau yang lain -karena menjadi beban masyarakat?

Saya ingin mengingat sesuatu yang biasa mereka ceritakan kepada kami di rumah. Tentang keluarga yang sangat baik dengan beberapa anak dan kakek yang tinggal bersama mereka, tetapi kakek itu semakin tua dan dia mulai berliur di meja. Kemudian, sang ayah tidak bisa mengajak orang untuk bertamu karena malu pada ayahnya. Jadi dia berpikir untuk mengatur meja yang bagus di dapur dan dia menjelaskan kepada keluarga bahwa mulai hari berikutnya, Kakek akan makan di dapur sehingga mereka bisa mengundang orang untuk datang. Dan begitulah. Seminggu kemudian, dia pulang dan menemukan putranya yang masih kecil, berusia 8 atau 9 tahun, salah satu dari anak-anak, bermain dengan kayu, paku, palu, dan dia berkata, “Apa yang kamu lakukan?” “Aku sedang membuat meja kecil, Ayah.” “Untuk apa?” “Untukmu, ketika kamu sudah tua.” Dengan kata lain, apa yang ditabur dengan membuang, akan dituai nanti.

Yang Mulia, mari kita beralih ke skenario lain. Dalam masyarakat Spanyol, Anda tahu bahwa ada beberapa pecahan dan beberapa keretakan konkrit. Referendum di Catalonia menyebabkan situasi yang sangat rumit. Dan Anda telah mengatakan bahwa “kedaulatan” [Sp. “soberanismo”] adalah kata-kata yang dilebih-lebihkan yang selalu berakhir buruk. Menurut Anda sikap apa yang harus kita ambil dalam menghadapi upaya perpecahan?

Saya akan menyarankan untuk melihat kembali sejarah. Dalam sejarah, ada kasus kemerdekaan. Mereka adalah negara-negara di Eropa yang saat ini bahkan sedang dalam proses kemerdekaan. Lihatlah Kosovo dan seluruh area yang sedang dibuat ulang. Ini adalah peristiwa sejarah yang dicirikan oleh serangkaian kekhasan. Dalam kasus Spanyol, Anda, orang Spanyol, yang harus menilai, melihat sikap Anda. Tetapi bagi saya, hal terpenting saat ini di negara mana pun yang memiliki masalah seperti ini, adalah bertanya pada diri sendiri apakah mereka telah berdamai dengan sejarah mereka sendiri. Saya tidak tahu apakah Spanyol benar-benar berdamai dengan sejarahnya sendiri, terutama sejarah abad terakhir. Dan jika tidak, saya kira harus membuat langkah rekonsiliasi dengan sejarahnya sendiri, yang tidak berarti melepaskan posisinya sendiri, tetapi memasuki proses dialog dan rekonsiliasi; dan, di atas segalanya, lari dari ideologi-ideologi yang menghalangi proses rekonsiliasi. Selain itu, ideologi menghancurkan. “Persatuan nasional” adalah ekspresi yang menarik, memang benar, bahwa persatuan nasional, tetapi tidak akan pernah dihargai tanpa rekonsiliasi dasar rakyat. Dan saya percaya bahwa dalam pemerintahan mana pun, apa pun tandanya, harus bertanggung jawab atas rekonsiliasi dan melihat bagaimana mereka menjalankan sejarah sebagai saudara dan bukan sebagai musuh atau setidaknya dengan ketidaksadaran yang tidak jujur ​​​​yang membuat saya menilai yang lain sebagai musuh sejarah.

Nah, Spanyol pun mengalami proses rekonsiliasi yang sangat intens dan mengagumkan bagi seluruh dunia pada tahun tujuh puluhan abad terakhir. Masalahnya adalah bahwa revisionisme sejarah telah mencoba untuk membuat rekonsiliasi yang mengagumkan di dunia yang merupakan Transisi Spanyol menjadi sia-sia, yang saya bayangkan Anda tahu di Argentina dan itu tidak asing bagi Paus. Nasionalisme dan kedaulatan telah menaburkan Eropa dengan kematian dan imigran. Dan ini membuat saya bertanya kepada Anda: dalam menghadapi imigrasi yang disebabkan oleh berbagai fenomena di mana kita tenggelam saat ini, posisi apa yang kita ambil? Apa yang terjadi jika jumlah mereka yang meminta perlindungan melebihi kemungkinan penerimaan suatu negara? Haruskah tidak ada perbatasan? Semua orang di mana saja, di mana pun kita mau, dan bagaimanapun kita mau? Apakah negara memiliki hak untuk menetapkan aturan yang kaku atau tidak terlalu kaku?

Jawaban saya adalah: pertama, berkaitan dengan migran, ada empat sikap: menyambut, melindungi, memajukan, dan mengintegrasikan. Dan yang terakhir: jika Anda menyambut mereka dan membiarkan mereka lepas di rumah dan tidak mengintegrasikan mereka, mereka menjadi berbahaya, karena mereka merasa diperlakukan seperti orang asing. Pikirkan tragedi Zaventem. Yang melakukan aksi terorisme itu adalah orang Belgia, anak-anak imigran yang tidak terintegrasi, berubah menjadi ghetto. Saya harus membuat para migran berintegrasi dan untuk ini, saya harus mengambil langkah ini tidak hanya menyambut mereka, tetapi juga melindungi mereka dan mempromosikan mereka, mendidik mereka, dll. Hal kedua, yang lebih menjadi pertanyaan Anda: negara-negara harus menjadi sangat jujur ​​dengan diri mereka sendiri dan melihat berapa banyak mereka dapat menerima dan sampai berapa, dan di sini dialog antar negara penting. Saat ini, masalah migrasi tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja dan penting untuk berdialog dan melihat “Saya dapat melangkah sejauh ini…”, “Saya memiliki lebih banyak kemungkinan” atau tidak; “struktur integrasi valid atau tidak valid”, dan sebagainya. Saya memikirkan sebuah negara di mana beberapa hari setelah tiba, seorang migran sudah menerima gaji untuk pergi ke sekolah untuk belajar bahasa, dan kemudian dia mendapat pekerjaan dan diintegrasikan. Ini terjadi pada masa integrasi imigrasi oleh kediktatoran militer di Amerika Selatan: Argentina, Chili, Uruguay. Saya berbicara tentang Swedia. Swedia adalah contoh dalam empat langkah menyambut, melindungi, mempromosikan, dan mengintegrasikan.

Dan kemudian ada juga realitas di hadapan para migran, saya sudah merujuknya, tapi saya ulangi: realitas musim dingin demografis. Italia memiliki desa yang hampir kosong.

Spanyol juga.

“Yah, kita sedang bersiap-siap.” Apa yang Anda tunggu, dibiarkan tanpa siapa pun? Ini adalah kenyataan. Dengan kata lain, migrasi adalah bantuan selama langkah-langkah integrasi kita terpenuhi. Itu adalah posisi saya. Tapi tentu saja, sebuah negara harus sangat jujur ​​dan berkata: “Inilah sejauh yang saya bisa”.

Tahun depan akan menandai ulang tahun keempat puluh pidato St. Yohanes Paulus II tentang identitas Eropa. Saya ingin bertanya tentang tempat-tempat di mana Paus dapat pergi selama kesehatan Anda memungkinkan Anda untuk melakukannya. Mungkin Haiti, atau mungkin negara Anda, mungkin Santiago [de Compostela]. [Di sanalah] St. Yohanes Paulus II berkata: “Temukan dirimu lagi, jadilah dirimu sendiri, temukan asal muasalmu. Ini akan menjadi kenangan yang luar biasa untuk mengingat ini dengan Anda, mengambil kesempatan baik dari Tahun Suci Jacobean …

Saya memberi tahu presiden Xunta de Galicia bahwa saya akan memikirkan untuk hal ini. Artinya, saya tidak mengeluarkannya dari jadwal pasti. Bagi saya persatuan Eropa saat ini adalah sebuah tantangan. Entah Eropa terus menyempurnakan dan meningkatkan di Uni Eropa, atau justru hancur. UE adalah visi orang-orang hebat—Schumann, Adenauer—yang melihatnya. Saya pikir saya memberikan enam pidato tentang persatuan Eropa. Dua di Strasbourg, satu ketika saya dianugerahi Charlemagne Prize. Dan di sana, saya merekomendasikan pidato yang diberikan oleh walikota Aachen, karena ini adalah kritik yang luar biasa terhadap masalah UE. Tapi kita tidak boleh menyerah. Salah satu momen paling bahagia yang saya alami adalah dalam salah satu pidato, ketika semua—atau kepala negara atau kepala pemerintahan—dari UE datang. Tidak ada yang hilang dan kami berfoto di Kapel Sistina. Saya tidak akan pernah melupakan itu. Kita tidak bisa mundur. Saat itu adalah masa krisis dan UE bereaksi dengan baik terhadap krisis tersebut. Meskipun diskusi, itu bereaksi dengan baik. Kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk menyelamatkan warisan itu. Ini adalah warisan dan itu adalah kewajiban.

Yang Mulia, jika saya tidak bertanya kepada Anda kapan Paus akan datang ke Spanyol, mereka akan mengklaim kepada saya “kenapa Anda tidak bertanya kepada Bapa Suci…” Saya berani meyakinkan kepada Anda bahwa Yang Mulia tidak akan mengenal Pekan Suci tersebut sampai dia datang pada hari Selasa Suci ke Seville untuk melihat Santa Perawan Candelaria. Apakah Anda bahkan tidak penasaran?

Saya amat tertarik. Sangat tertarik. Tapi pilihan saya sejauh ini untuk melakukan perjalanan ke Eropa adalah negara-negara kecil. Pertama adalah Albania dan kemudian semua negara yang kecil. Sekarang Slovakia ada di program, lalu Siprus, Yunani, dan Malta. Saya ingin mengambil opsi itu: pertama ke negara-negara yang lebih kecil. Saya pergi ke Strasbourg tetapi saya tidak pergi ke Prancis. Saya pergi ke Strasbourg karena Uni Eropa. Dan jika saya pergi ke Santiago, saya pergi ke Santiago tetapi tidak ke Spanyol, mari kita perjelas.

Sepanjang Perjalanan Eropa [Sp.: al Camino de Europa].

Sepanjang Perjalanan Eropa. Satu Eropa. Tapi itu belum diputuskan.

Apakah ada sesuatu yang Paus tangisi dalam setahun terakhir, selain pandemi, atau apakah Paus tidak mudah menangis?

Saya bukan orang yang mudah menangis, tetapi dari waktu ke waktu saya merasakan kesedihan itu dalam menghadapi beberapa hal, dan saya sangat berhati-hati untuk tidak mengacaukannya dengan melankolis seperti Paul Verlaine: “Les sanglots longs, de l’ automne, berkat mon coeur” [Isak tangis panjang / Biola / Musim gugur / Luka hatiku…] Tidak, tidak. Saya tidak ingin membingungkan dengan cara itu. Kadang-kadang, melihat hal-hal tertentu, mereka menyentuh hati saya dan… dan terkadang itu terjadi pada saya….

Anda telah disebut “Paus Pop” atau “Paus Superman”, yang saya tahu Anda tidak suka. Siapakah Fransiskus sebenarnya? Bagaimana Anda ingin dikenang?

Bagi saya: saya hanyalah seorang pendosa yang berusaha berbuat baik.

Nah, kalau begitu kita adalah dua orang berdosa di meja ini …

Kita berdua.

Tapi Anda memiliki lebih dari tangan di sana. [Tertawa] Saya selalu terkesan dengan hubungan Anda dengan penulis Jorge Luis Borges. Mengapa dia begitu memperhatikan Yesuit muda itu?

Saya tidak tahu mengapa. Saya mendekatinya karena saya sangat dekat dengan sekretarisnya. Dan kemudian menjadi sebuah persahabatan… Saya belum menjadi seorang imam ketika saya bertemu dengannya. Saya berusia 25 atau 26 tahun ketika saya bertemu dengannya, dan saya mengajar di Santa Fe sebagai seorang Jesuit, dalam tiga tahun kami para Jesuit mengajar di sekolah, dan saya mengundang dia untuk datang dan berbicara dengan murid-murid saya di Sastra. Dan dia pun datang, dan dia menjalani kursusnya… Saya tidak tahu mengapa. Tapi dia adalah pria yang sangat baik. Seorang pria yang sangat baik.

Kami telah mendengar Anda berbicara banyak tentang nenek dari pihak ayah Anda, nenek Rosa, tetapi kami telah mendengar Anda berbicara lebih sedikit tentang ibumu, atau mungkin kami tidak pernah mendengar Anda berbicara tentang ibumu…

Ada dua sebab. Kami lima bersaudara, semuanya sangat dekat dengan kakek-nenek kami. Tuhan telah memelihara kakek-nenek kita sampai kita dewasa. Saya kehilangan kakek pertama saya, yang paling jauh dari semuanya, ketika saya berusia 16 tahun, dan nenek terakhir saya ketika saya menjadi provinsial Yesuit. Jadi kakek-nenek tetap bersama kami selalu. Ada juga tradisi di rumah; empat saudara yang lebih tua, karena yang bungsu datang enam tahun kemudian, menghabiskan liburan bersama kakek-nenek, sehingga ibu dan ayah bisa sedikit beristirahat. Itu menyenangkan. Ada banyak hal kakek-nenek. Tentang nenek Rosa apa yang saya ceritakan adalah anekdot yang sama seperti biasanya, beberapa di antaranya sangat lucu. Dari nenek yang lain, saya juga menceritakan anekdot, seperti pelajaran yang dia berikan kepada saya pada hari kematian Prokofiev, tentang upaya dalam hidup. Ketika saya bertanya kepadanya bagaimana pria itu bisa sampai sejauh ini. Saya masih remaja. Dan ya, saya juga ingat banyak hal tentang ibu saya yang juga saya ceritakan … Tapi mungkin lebih mengejutkan tentang nenek karena saya terus mengulangi beberapa hal aneh tentangnya, beberapa hal yang tidak dapat diulang melalui surat, melalui program radio … beberapa ucapan yang mengajari kami banyak hal. Tapi, terlepas dari kenyataan bahwa kami sangat menyayangi kakek-nenek kami, yah, sebenarnya pada hari Minggu kami akan pergi ke rumah kakek-nenek kami dan kemudian ke stadion untuk menonton San Lorenzo. Kakek-nenek memiliki pengaruh besar dalam hidup kita.

Anda belum menonton San Lorenzo karena Anda tidak ingin menonton televisi selama bertahun-tahun…

Betul sekali. Saya membuat janji pada tanggal 16 Juli 1990. Saya merasa bahwa Tuhan meminta saya untuk melakukannya, karena kami berada di komunitas menonton sesuatu yang akhirnya norak, tidak menyenangkan, buruk. Saya merasa buruk. Saat itu malam tanggal 15 Juli. Dan keesokan harinya, dalam doa, saya berjanji kepada Tuhan untuk tidak menontonnya. Tentu saja, ketika seorang presiden menjabat, saya menontonnya, ketika ada kecelakaan pesawat, saya menontonnya, hal-hal itu… tetapi saya tidak kecanduan.

Anda tidak menonton Copa America, misalnya?

Tidak, tidak sama sekali.

Ada legenda lama yang mengatakan bahwa beberapa Paus telah melarikan diri dari Vatikan. Apakah Fransiskus telah melakukan petualangan yang tidak diketahui siapa pun sejauh ini?

Tidak. Yang dulu bermain ski adalah St. Yohanes Paul II. Satu jam dan sedikit lagi ada lereng ski, dan dia memilikinya dalam jiwanya. Dan dia benar untuk melarikan diri, dia dilindungi. Tetapi suatu hari ketika dia sedang mengantri untuk naik dan seorang anak laki-laki berkata, “Paus!” Saya tidak tahu bagaimana dia mengetahuinya. Dan dia segera kembali, dan dia mencoba untuk mengambil lebih banyak tindakan pencegahan. Rumah keluarga yang saya kunjungi, sejauh yang saya ingat, ada tiga: setengah biara Suster Teresian tempat saya ingin mengunjungi Profesor Mara, sudah 90 tahun, seorang wanita hebat yang mengajar di Universitas La Sapienza kemudian mengajar di Augustinianum, dan saya ingin pergi merayakan Misa untuknya. Kemudian, untuk menyampaikan belasungkawa saya kepada mungkin sahabat saya, seorang jurnalis Italia, di rumahnya. Dan rumah ketiga yang saya kunjungi adalah rumah Edith Bruck, wanita, 90 tahun sekarang, yang berada di kamp konsentrasi. Dia orang Hongaria. Seorang Yahudi. Ini adalah awal tahun ini, atau tahun lalu, saya tidak ingat. Ini adalah satu-satunya tiga rumah yang saya kunjungi secara rahasia, dan kemudian terkuak. Saya ingin sekali berjalan di jalan-jalan umum, saya ingin sekali, tetapi saya harus menahan diri, karena saya tidak bisa berjalan walau hanya sepuluh meter.

Pernahkah Anda tergoda untuk mengenakan pakaian sipil?

Tidak, sama sekali tidak. Tidak.

…dengan topi dan kacamata?

[Tertawa] Tidak, tidak, tidak sama sekali.

Bagaimana Paus Fransiskus melawan nostalgia, siapa yang memasakkannya los palitos de anis [aniseed sticks – biskuit kayu manis], atau apa yang selalu ia santap untuk sarapan di La Puerto Rico?

Saya mencoba untuk tidak membuat nostalgia saya menjadi melankolis, musim gugur, meskipun satu hal yang menyenangkan tentang musim gugur Argentina, di Buenos Aires, adalah hari-hari berawan dan berkabut, di mana Anda tidak dapat melihat sepuluh meter dari jendela, dan saya sedang mendengarkan Piazzola. Saya sedikit merindukan itu, tetapi di Roma juga ada hari-hari yang berkabut. Bukan nostalgia, bukan. Keinginan untuk berjalan dari satu paroki ke paroki lain, ya; tapi bukan nostalgia.

Apakah hari-hari memusingkan karena perkataan Anda atau kata-kata yang dikait-kaitkan yang terlalu jauh dan memiliki konsekuensi yang tidak Anda harapkan?

Bahaya itu selalu ada. Sebuah kata dapat diartikan dengan satu atau lain cara, bukan? Ini adalah hal-hal yang terjadi. Dan dari apa yang saya tahu … Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkannya dari minggu lalu bahwa saya akan mengundurkan diri! Kata apa yang mereka pahami dari bahasa di negara saya? Dari sanalah berita itu berasal. Dan mereka mengatakan itu adalah keributan, ketika itu bahkan tidak terlintas dalam pikiran saya. Ketika ada interpretasi yang sedikit menyimpang tentang beberapa kata-kata saya, saya hanya diam, karena mencoba mengklarifikasinya akan memperburuk.

Apakah orang-orang berbicara tentang sepak bola di Santa Marta ini?

Ya, sepak bola Italia. Saya mulai mengetahui hal-hal sedikit. Ada banyak pembicaraan tentang sepak bola, ya.

Pemain sepak bola seperti apakah Anda, Yang Mulia?

Aku adalah tongkat. Mereka memanggil saya ‘el pata dura’, itu sebabnya mereka selalu menempatkan saya di gawang, di situlah saya dapat kurang lebih mempertahankan diri dengan baik.

Dalam program [olahraga] kami Tiempo de juego, rekan-rekan kami, ketika saya memberi tahu mereka bahwa saya akan datang menemui Paus, [berkata] “Tolong, minta Paus untuk memberi tahu Anda apa pendapatnya tentang penandatanganan Messi, dia telah pergi ke Prancis.” Apa yang Anda sukai dari seluruh dunia sepak bola, apakah Anda mengikutinya dengan cermat?

Saya menulis surat pastoral tentang olahraga. Surat pastoral yang bukan surat pastoral. Dalam dua langkah. Pertama ada artikel yang diterbitkan di Gazzetta dello Sport pada 2 Januari tahun ini dan berdasarkan itu — saya mengoreksinya — surat pastoral. Sebuah artikel wawancara. Saya hanya mengatakan ini: untuk menjadi pemain sepak bola yang baik, Anda harus punya dua hal: mengetahui cara bekerja dalam tim, dan tidak menjadi seperti yang kami katakan di Buenos Aires dalam bahasa gaul kami, orang yang ‘menggigit’ bola, tetapi selalu dalam satu tim. Dan kedua, tidak kehilangan semangat amatir. Ketika olahraga kehilangan semangat amatir, itu mulai menjadi terlalu dikomersialkan. Dan ada orang-orang yang tahu bagaimana tidak membiarkan diri mereka ternoda oleh ini dan memberikan penghasilan mereka dan segalanya untuk pekerjaan dan fondasi yang baik. Tetapi di atas semua itu, bekerja sebagai tim, yang merupakan sekolah olahraga tim, dan tidak kehilangan semangat amatir.

Yang Mulia, saya berterima kasih banyak atas waktu tak terlupakan yang telah Anda persembahkan kepada para pendengar COPE.

Salam hangat untuk yang mendengarkan dan saya mohon doanya untuk saya dari anda sekalian, agar Tuhan terus melindungi dan menjaga saya, karena jika Dia meninggalkan saya sendiri, saya akan kacau.

Biasanya Andalah yang akan mengatakan ini kepada kami, tetapi hari ini kami [yang mengatakannya kepada Anda]: Tuhan memberkati Anda.

Dan untuk Anda sekalian, Tuhan memberkati Anda. Terima kasih.

Terima kasih.

(oleh Carlos Herrera, terj. BN-KKI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s